Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

18 October 2025

Aku adalah Pelangi

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Muslimah

Kelas: 9D

"Wah hujan." Ririn bergegas menuju kursi di mana saudara kembarnya berada.

    "Reno Reno!!" Ririn duduk di sebelah saudara nya itu sambil menatapnya. Reno yang menyadari hal itu menatap kembali Ririn. Ririn hanya tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya.

   "Ada apa Ririn?" Reno bertanya cukup lembut kepada saudaranya itu, karena jika ia naikkan sedikit saja nada bicaranya maka Ririn akan kesal lalu menangis. Ririn memang anak yang cengeng, manja dan juga nakal, namun ia sangat penurut kepada kakaknya.

  "Reno ayo main hujan-hujanan mumpung sekarang sedang hujan!" Ririn turun dari kursinya lalu mulai melompat-lompat sambil menunjuk keluar jendela. Ia memasang wajah imutnya untuk membujuk saudaranya agar ikut bermain hujan bersamanya.

  "Reno ayolah ayolah. Aku mohon...." Reno tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya mengangguk kepada Ririn.

   "Wahhhh... yeyy...asikkk kita bermain hujann!!" Ririn melompat-lompat kegirangan dengan jawaban kakaknya. Kemudian ia menarik tangan kakanya untuk meminta izin kepada ibu agar bisa bermain hujan.

    "Ibu... Ibuuu Ririn akan bermain hujan-hujanan yaaa...." Ririn tersenyum tak henti. Tangannya masih menggenggam erat tangan kakaknya. Setelah ibu memberikan izin, Ririn berlari keluar sambil tertawa. Reno ikut tertawa.

Mereka berdua kini bermain hujan-hujanann bersama.

 "Reno kemarilah... duduk disini di sebelah Ririn." Ririn menepuk-nepuk tempat disebelahnya. "Coba berbaring seperti ini agar hujannya terasa di wajah. Ini menyenangkan...hihihi...," ujar Ririn sambil tertawa tanpa henti

   Reno mengikuti apa yang adiknya itu suruh. Setelah agak lama bermain, hujanpun mulai reda. 

  "Reno tahu tidak?" 

  "Tahu soal apa?" 

   Ririn tersenyum lalu melihat langit yang mulai terang.

   "Ririn pengen deh jadi pelangi," ujar Ririn sembari menatap kakaknya dengan senyuman di wajahnya.

 "Kenapa Ririn pengen jadi pelangi?" Reno bertanya.

   "Karena Ririn ingin membawa kebahagiaan untuk orang yang sedang bersedih. Jika hujan reda, selalu ada pelangi sampai semua orang yang sedang bermain hujan melihat kagum dan tersenyum. Mereka bahkan bisa lupa kalau mereka sedang bermain hujan saat melihat pelangi itu. Sama halnya dengan Ririn. Ririn ingin membawa kebahagiaan jika orang di sekitar Ririn sedang sedih agar rasa sedih mereka terlupakan. Apa Reno mengerti?" Ririn berbaring di rerumputan itu sambil memejamkan mata.


 "Iya, Reno mengerti," ujar Reno.


   Ririn tak tahu bahwa dirinya sudah menjadi pelangi di keluarganya. Dengan adanya Ririn, keluarga mereka tak pernah sepi. Itu yang selama ini Reno rasakan. Mereka memang saudara kembar tapi Reno merasa Ririn adalah orang spesial yang dikirim oleh tuhan untuk dirinya dan keluarganya yang harus mereka jaga

17 October 2025

Jeritan dalam Hujan

Edit Posted by with No comments

Penulis: Dhiya Silmi 

Kelas: 9H


Arulla terbangun di pagi hari. Ia terbangun karena suara hujan yang begitu deras. Ia menarik nafas dalam-dalam sembari melihat ke halaman depan rumahnya yang basah oleh hujan. Rumah yang begitu sunyi. Dan suara hujan terus turun tanpa henti.


Ia kemudian pergi keluar kamar dan hanya duduk di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. Tayangan televisi menunjukan sebuah berita orang-orang yang menghilang begitu saja.


"Ck! Berita ini lagi." Kesalnya sembari mematikan televisi.


Di tengah malam, Arulla pergi keluar dari rumahnya tanpa memakai payung ataupun jas hujan. Padahal malam itu hujan belum berhenti. Semua orang menatapnya aneh.


"Hei, anak muda! Kenapa kamu berani keluar malam-malam sendirian?," ucap seorang pria asing yang mengikutinya dari belakang.


Arulla tidak mendengarkan, ia tetap berjalan tanpa peduli perkataan pria asing itu.


"Kamu mengabaikanku? Dasar wanita aneh," pria asing itu mendorong kepala Arulla dengan kasar.


Arulla terlihat kesal, tapi ia tetap berjalan. Pukul 2 malam, Arulla kembali ke rumahnya dengan membawa sebuah koper besar. Ia membawa koper itu ke dalam rumah dengan hati-hati. Keringat membasahi kening Arulla, ia terus membawa koper besar itu dengan terengah-engah. Lalu ia meletakkan koper itu di ruangan rahasianya.


Saat dibuka, ternyata itu adalah pria asing tadi. Tubuhnya terbaring paksa di dalam koper. Tangannya terikat. Mulutnya ditutupi kain. Nafasnya terengah-engah. Arulla membuka kain yang menutupi mulut pria asing itu, mata pria asing itu langsung tertuju pada mata Arulla.


"Aku minta maaf. Tadi hanya bercanda," ucap pria asing itu sambil memohon.


Tetapi Arulla tidak peduli, koper itu ditutup kembali. Malam itu, Arulla tidur bersama suara hujan dan jeritan pria asing itu.

Untuk Ayah dan Ibu

Edit Posted by with No comments

Penulis: Dhiya Silmi

Kelas: 9H


Rumah berantakan. Pecahan piring berserakan di lantai. Suara bentakan memenuhi udara.


Ayah... Ibu... mengapa kalian harus berpisah? apakah kalian tidak saling mencintai lagi? ataukah kalian memang sudah tidak menginginkan anak ini?

sejak hari itu, kalian meninggalkan luka yang dalam di hatiku.


"Aku nggak tahan lagi hidup denganmu! kita cerai saja!"

Teriak ibu. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.


Ayah membalas dengan nada yang sama, penuh amarah.


"Baik! Kita cerai saja! Jangan harap aku membawa anak ini!"

Lalu, ia pergi tanpa menoleh lagi.


Hatiku hancur. Seharusnya, di usiaku yang masih remaja, aku mendapatkan kasih sayang, bukan makian. Jika memang aku yang menghancurkan rumah tangga kalian, aku minta maaf. Aku ikhlas jika harus menghilang dari dunia ini.


Ayah, terkadang aku iri melihat anak-anak lain yang punya sosok ayah sebagai panutan dalam hidupnya.

Ibu, aku juga iri melihat anak-anak lain yang memiliki ibu penuh kasih sayang. Sedangkan aku? Hanya hidup sendiri di jalanan, tanpa siapa-siapa.


Ayah... Ibu.... Sungguh, aku sangat mencintai kalian. Tapi mengapa kalian membenciku? mengapa kalian tega menyebutku "anak bodoh"? tidakkah kalian sadar bahwa kata-kata sekecil itu telah menggores hatiku dan meninggalkan trauma dalam hidupku?


Saat anak-anak lain tertidur dengan elusan lembut di kepala dan kecupan di kening dari orang tua mereka, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri di trotoar yang dingin. Saat mereka tertawa bahagia bersama keluarga, aku hanya bisa menangis dalam kesepian.


Aku selalu berharap memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Tapi harapan itu kini terkubur dalam-dalam, karena aku tahu, itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Waktu yang Tertunda

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 9E

  "Apa yang kamu lakukan?" tanya Bunda.

  "Karis sedang menulis cerita, Bun."

  "Alah, menulis gak penting mending belajar sana!" sentak ayah. 

  Karis yang mendengar sentakkan itu hanya diam. Telinganya sudah kebal akan cacian dan makian dari ayahnya sendiri.

  "Apa sih? Kita harus mendukung bakat dia, Mas!"

  "Bakat apanya? Jadi penulis itu gak berguna. Lihat bibi kamu saja sekarang pengangguran!"


 "Itu salah dia sendiri jangan salahkan..."

  "STOP!" teriak Karis. Bunda dan Ayah langsung menatapnya. 

  "Bun, Yah, bisa nggak sih sekali aja jangan ribut? Karis capek!" ucap Karis lemah. 

  Bruk, pintu kamar karis tutup dengan keras.

  "Hikss.. Hiks.. Hiks.."

  "Kenapa jalan sukses aku sesusah ini, ya Allah?"

  Lelah, satu kata yang terus terngiang-ngiang dikepalanya. Karis hanya ingin tenang dan beristirahat di rumah.

  Namun, itu seakan sangat sulit untuk digapai olehnya. Rumah seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman, tapi tidak dengan rumahnya. Berisik dan penuh pertentangan adalah rumah yang ia tempati.

  Tok, tok, tok. Karis mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia segera menghapus air matanya dan langsung membuka pintu.

  "Argh," Karis meringis,

  "Puas kamu ngebuat Bunda benci sama ayah?" tanyanya sembari mencengkeram pergelangan tangan Karis.

  "A...aku gak gitu, Yah," jawab karis sambil menahan rasa sakit.

  Tak percaya dengan perkataan Karis, Ayah memperkuat genggamannya. Ia juga menyeret Karis dengan kasar. 

  Karis hanya bisa menangis dalam diam. Meskipun bersuara, telinga ayahnya seakan tuli atas rasa sakit yang Karis keluarkan.

  Bruk, Ayah mendorong karis sekuat tenaga. Karis terbanting ke dinding, hingga menimbulkan suara yang keras. Belum sampai itu, Ayah langsung mencengkram dagunya hingga berdarah. 

  "Jangan harap aku akan menyayangi dan mendukungmu," ucap Ayah dengan amarah.

  Ia langsung pergi meninggalkan Karis di tengah kegelapan gudang itu. Karis sudah tahu, pintu gudang pasti dikunci.

  "Ya, Allah, apakah ada waktu yang di mana aku didukung dan dicintai olehnya?"

  Dor! Suara petir menyambar. Karis terlonjat kaget. Deg.. Deg.. Deg.. Detak jantungnya tidak karuan.

  "Apa yang terjadi, Sayang?" ayah terlihat panik.

  Karis termenung, ia melihat sekelilingnya hanya putih yang ia lihat.

  "Dimana, Karis?"

  "Kamu koma, Sayang. Lima bulan lamanya kami menunggu kamu sadar," jawab Bunda.

  "Akhirnya, waktu yang kami tunggu-tunggu sudah tiba," ucap Ayah, 

  Mereka langsung memeluk Karis dengan erat. Tangisan pun sudah tidak terbendung.

  "Jadi, itu semua hanya mimpi komaku saja? Terima kasih, Ya, Allah."

22 February 2025

Bertahan tapi Terluka

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani

Kelas: 8H

   "Huh" aku menghela nafas lelah dan menjawab pertanyaan Revan.

   "Aku gak seperti itu, Van!" seruku.

   "Alahh! Mana mungkin itu semua bohong," ucapnya tak percaya.

   Capek! Satu kata yang memenuhi pikiranku saat ini. Lelah rasanya aku harus menjelaskan sesuatu terus-menerus. Aku merasa tengah berada di hubungan yang toxic.

   "Udahlah. Mau dijelasin berapa kali pun kamu masih gak percaya," ucapku lelah.

   Aku ingin melangkahkan kaki tapi Revan menahanku.

   Dia memegang pergelangan tanganku dengan kuat. Matanya memerah menatapku dengan tajam. Aku meringis, merasakan perih di area pergelangan tangan kananku.

   "Lepaskan!" ucapku tercekat.

   Dia seolah-olah menulikan telinganya dan malah memperkuat genggamannya. Aku mencoba untuk melepaskannya dengan sekuat tenaga namun kekuatanku tak sebanding dengannya.

   "Kamu mau ke mana, Putri?" ucapnya dengan amarah yang terpendam.

   Aku tertunduk, tidak berani melihat matanya. Mulutku terasa terkunci rapat dan hanya bisa terisak.

   "Setelah kamu mengkhianatiku dan kamu bilang ini semua bohong?" ucapnya dengan tajam.

   Aku menggeleng kuat, seraya melihat matanya sekilas.

   "Lalu apa ini, Putri?" bentaknya dengan marah.

   Bibirku bergetar, mataku mulai sembab karena terlalu lama menangis. Aku menjawab pertanyaan Revan dengan cepat.

   "Aku udah bilang, aku cuma tidak mengkhianati kamu! Itu cuma kerja kelompok doang, Van," ucapku dengan lemah.

   "Arghhh..Selalu saja nangis! Alay, tau gak?" ucapnya seraya pergi meninggalkanku di taman.

   Aku terduduk dengan kepala yang tertunduk. Tangisku pecah seketika. Mataku melihat kepergian Revan dengan pandangan yang kosong. Tiba-tiba...

   "Put..Put..," panggil seseorang dengan melambaikan tangannya di depan wajaku. Aku tersentak.

   "Eh," ucapku dengan kikuk.

   Sadar dengan kehadiran seseorang itu, seketika aku langsung menghapus air mataku. Aku segera pergi dari hadapannya tanpa melihat wajahnya sama sekali.

   "Apa yang kamu sembunyiin sih, Put? Kenapa kamu malah pergi?" ucap Zara seraya menatap kepergianku.

   Tak lama kemudian, Zara pun pergi dari taman karena hari sudah menjelang malam.

   Keesokan harinya.

   Bel sekolah berbunyi. Aku duduk di bangku dan di sebelahku ada Zara yang sedari tadi menatapku.

   "Ada apa Zara?" tanyaku seolah-olah tak tahu,

   "Apa yang terjadi kemarin?" tanya Zara dengan muka datarnya,

   "Gak ada apa-apa," elakku.

   "Jawab, Putri!" tekan Zara.

   "Huh," aku menghela nafas dan langsung menceritakan semua yang sudah terjadi kemarin. Mataku berembun menahan tangis 

   "Aku capek, Zar," lirihku.

   "Dia selalu saja begitu. Aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, Zar," lanjutku.

   "Segini aja kamu udak kuat banget loh, Put! Aku salut sama kamu," jawab Zara sebari memelukku.

   Aku mengulas senyum yang semanis mungkin. Terkadang aku ingin sekali meninggalkan dia. Karena sikapnya yang red flag itu. Dia seperti tidak mempunyai kepercayaan terhadapku. Bagiku, sebuah hubungan tanpa adanya kepercayaan, bagaikan sebuah rumah tanpa fondasi. Tanpa adanya fondasi rumah tidak akan kuat.

   Selain itu, dia juga sering bermain kasar padaku. Dia sangat cemburuan, bahkan dia sama sekali tidak menghargaiku. Karena sikapnya yang seperti itu, aku ingin pergi meninggalkannya.

18 February 2025

Dia dan Penyesalannya

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 8H

Siang berganti malam dengan hembusan angin yang datang menyertainya. Tiba-tiba...
      "Ting" Suara pesan berbunyi dari hanphone-ku.
        Aku heran, siapa yang mengirimiku pesan di malam hari? Aku mencoba untuk tidak membuka pesan itu. Namun pada akhirnya aku kalah dengan rasa penasaranku sendiri dan segera membuka pesan itu.
      "Lysa, bisakah kamu kasih aku satu kali lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Nyatanya selama 5 bulan ke belakang sulit rasanya untuk menemukan cinta kembali. Karena hatiku tetap ada di kamu. I always love you, tomorrow, later, and forever only you," ungkap Resa.
       Deg! Aku terpaku, dan tidak menyangka sama sekali setelah membacanya.
      "Mengapa di saat aku sudah mulai terbiasa tanpa kamu, gak mau tahu tentang kamu lagi, udah mulai terbiasa tanpa kamu lagi, kamu malahan datang menghubungiku lagi?" ucapku lirih
        "Apakah kamu tahu perasaanku bagaimana? Aku capek! Apa luka yang selama ini kamu berikan masih kurang?"            Aku tersenyum hambar lalu bergegas untuk tidur daripada memikirkan apa yang tidak harus dipikirkan.
      Pagi pun tiba. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah sahabatku untuk memberitahu kejadian semalam. Aku pergi dengan mata yang sembab.
      Sesampainya di sana, aku langsung memencet bel dan menunggu di luar. Tidak lama kemudian sahabatku langsung membuka pintu.
       Krek.
     "Ada ap...?" ucapannya terputus karena aku langsung memeluknya.
    " Hiks...hiks...."
      Rina bingung karena punggungnya tiba-tiba basah dan langsung membalas pelukku.
        Seketika aku mulai tenang dengan dekapan dan elusan hangat yang Rina berikan.
      "Lysa, ada apa? " tanya Rina khawatir.
      Aku menggeleng. Kemudian dia membawaku masuk dan duduk di satu kursi. Setelah itu aku menceritakan kejadian waktu semalam.
       Deg! Rina pun sama halnya denganku. Ia terkejut setelah mengetahui semuanya.           "Rina, aku harus gimana?" tanyaku dengan lirih.
       Rina tak kuasa melihatku seperti ini dan tak sadar meneteskan air mata.
      "Lysa, apa kamu masih cinta sama dia?" tanya Rina cepat.
       Aku terdiam. Aku melihat Rina tengah menanti jawaban dariku. Aku mengembuskan nafas
      "Aku tak tahu Rina. Entah mengapa di saat ada orang yang hanya menyebut namanya saja seketika rindu dan sakit langsung berperang dalam benakku," ungkapku.
     "Mungkin kamu hanya sebatas rindu Lysa, " jawab Rina.
      "Sadar Lysa, sadar! Di saat kamu menyembuhkan luka-luka yang dia berikan, apa dia pernah menoleh kepadamu? Tidak Lysa. Malah dia dengan bangganya bermesraan dengan perempuan lain. Aku gak mau kamu kembali ke masa itu lagi Lysa," lanjutnya
      Karena ucapan Rina, seketika aku pun tersadar bahwa memang benar dia adalah laki-laki yang begitu aku cintai sampai sedalam itu namun pada masanya.
     Rina yang tidak tega melihatku seperti ini, dia memutuskan mengajakku ke sebuah taman supaya lebih rileks katanya.
Saat di perjalanan, tiba tiba...
     Duk.
      "Aduhh, " ringisku.
      Aku tersandung dan hampir saja terjatuh saat kurasa seseorang menopang tubuhku. Aku segera melepaskan diri.
    "Eh, maaf, ya?" ujarnya.
    "Iya, lagian itu salahku juga," jawabku reflek.
   "Lysa? " kejutnya
   Aku tersentak.
   "Kenapa dia tahu namaku, ya? " ucapku dalam hati. Suaranya terasa tak asing.
   Dengan rasa penasaran aku mendongakkan kepalaku. Seketika mataku melebar dan hatiku berdetak tidak karuan. Aku merasa tanganku seperti ada yang memegang dan dugaanku benar. Dia memegang kedua tanganku.
   Karenanya, entah kenapa memori-memori dan kenangan itu seketika langsung menghantuiku. Hanya karena genggaman saja.
     "Apa ini yang dimaksud dejavu, ya? " tanyaku dalan hati.
      "Lysa, maafin aku. Aku ingin kita perbaiki lagi, ya?" mohonnya.
       Set. Aku segera melepaskan genggaman itu, dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
   Ia tersentak, mungkin kaget atas perlakuanku dan terus saja mengejarku dengan memanggil namaku.
      "LYSAA..LYSAA...."
   Kami pun terpisah karena terhalang oleh sebuah mobil.
" Maaf, mungkin ini saatnya kita berpisah untuk selamanya, " ucapku lirih dan segera meninggalkan tempat itu.
      Duarrr...
   Suara petir bergemuruh dengan hujan yang sangat deras, sehingga yang tadinya ramai seketika mendadak sunyi bak sedang berada di tengah hutan. Aku pun akhirnya berteduh
    "Mungkin dulu aku lebih suka kehujanan bersamamu daripada berteduh. Namun sekarang, aku memilih berteduh dengan orang baru daripada kehujanan bersamamu. Karena kita hanya sebatas masa lalu yang tidak akan pernah bersatu meski rindu terus saja berperang dalam hatiku," ucapku dalam hati.
    "Mungkin ini saatnya kamu merasakan penyesalan itu karena ulahmu sendiri. Nikmatilah hidupmu dengan penuh rasa sesal! Aku tidak dendam ataupun benci terhadapmu, hanya saja aku tidak terima aku diperlakukan seperti itu. Semoga dari kisah ini kamu belajar untuk lebih baik kedepannya. See you, the man. I loved you so much before but not now. Jikala kamu ingin kembali padaku, maaf aku tidak akan ingin kembali lagi. Aku akan membuka lembaran baru untuk orang yang akan hadir dalam hidupku, " batinku.
   

22 September 2024

Kembalinya Sang Pelita

Edit Posted by with No comments

Penulis: Naira Hilmiyah

Kelas: 9G

Di sebuah sekolah menengah pertama, tepatnya di kelas lX-A, terjadi sebuah peristiwa yang membuat kelas lX-A bersedih.

    "Teman - temanku, mari kita berdoa untuk kesehatan bu Sukma, semoga bu Sukma lekas sembuh dan bisa kembali membimbing kita semua, " ujar Mahesa selaku ketua kelas.

" Amin... Semoga saja bu Sukma lekas sembuh. Jujur aku sedih sekali saat mendapatkan kabar buruk tentang bu Sukma," jawab Indah dengan wajah sedihnya.

     Satu bulan berlalu. Hingga saat belum juga ada kabar. Entah bagaimana keadaan bu Sukma saat ini.

    "Assalamualaikum wr.wb. Anak-anaku kelas lX-A. Pada hari ini Bapak akan memberikan satu kejutan buat kalian semua," ujar pa Ahmad, Kepala Sekolah SMP Nusa Bangsa.

    "Kalau boleh tahu, apa itu, Pak? " tanya Naya.

    "Mmm.... Kami gak mau kejutan apa - apa, Pak. Kami cuma mau ibu Sukma selaku wali kelas kami kembali membimbing kami di sini," ungkap Raka.

     "Kalau begitu, keinginan kalian terkabul. Bu Sukma, silakan masuk."

     Para siswa dan siswi kelas lX-A terkejut akan kehadiran bu Sukma. Bagaimana tidak, bagi mereka bu Sukma adalah pelita yang mampu menerangi perjalanan mereka dalam menuntut ilmu.

      "Assalamualaikum, anak-anakku. Bagaimana kabar kalian semuanya?" tanya bu Sukma dengan senyum manisnya.

   "Baik, Bu!!!" jawab para siswa kelas lX-A.

       "Ibu, boleh gal kalau kita semua peluk ibu? Soalnya kami sangat merindukan Ibu," ujar Naya dengan penuh harapan.

     "Boleh, Nak. Kemarilah."

Semua siswa kelas lX-A memeluk bu Sukma satu persatu.

    "Bu, kami benar-benar sangat merindukan Ibu. Ibu tahu gak? Ibu itu bagai pelita yang menjadi penerang untuk kami, " ujar Mahesa.

    "Aduh... romantis sekali kelas lX-A ini. Bapak jadi terharu, deh," ujar pa Ahmad sambil tertawa kecil, yang membuat siswa kelas lX-A tertawa terbahak-bahak.

   "Bagaimana kalau kita semua foto bersama?" ajak bu Sukma yang langsung disetujui oleh semua siswa kelas lX-A.

    Mereka pun berfoto diiringi dengan gelak tawa yang memenuhi ruangan kelas lX-A.Kembalinya Sang Pelita


Di sebuah sekolah menengah pertama, tepatnya di kelas lX-A, terjadi sebuah peristiwa yang membuat kelas lX-A bersedih.

    "Teman - temanku, mari kita berdoa untuk kesehatan bu Sukma, semoga bu Sukma lekas sembuh dan bisa kembali membimbing kita semua, " ujar Mahesa selaku ketua kelas.

" Amin... Semoga saja bu Sukma lekas sembuh. Jujur aku sedih sekali saat mendapatkan kabar buruk tentang bu Sukma," jawab Indah dengan wajah sedihnya.

     Satu bulan berlalu. Hingga saat belum juga ada kabar. Entah bagaimana keadaan bu Sukma saat ini.

    "Assalamualaikum wr.wb. Anak-anaku kelas lX-A. Pada hari ini Bapak akan memberikan satu kejutan buat kalian semua," ujar pa Ahmad, Kepala Sekolah SMP Nusa Bangsa.

    "Kalau boleh tahu, apa itu, Pak? " tanya Naya.

    "Mmm.... Kami gak mau kejutan apa - apa, Pak. Kami cuma mau ibu Sukma selaku wali kelas kami kembali membimbing kami di sini," ungkap Raka.

     "Kalau begitu, keinginan kalian terkabul. Bu Sukma, silakan masuk."

     Para siswa dan siswi kelas lX-A terkejut akan kehadiran bu Sukma. Bagaimana tidak, bagi mereka bu Sukma adalah pelita yang mampu menerangi perjalanan mereka dalam menuntut ilmu.

      "Assalamualaikum, anak-anakku. Bagaimana kabar kalian semuanya?" tanya bu Sukma dengan senyum manisnya.

   "Baik, Bu!!!" jawab para siswa kelas lX-A.

       "Ibu, boleh gal kalau kita semua peluk ibu? Soalnya kami sangat merindukan Ibu," ujar Naya dengan penuh harapan.

     "Boleh, Nak. Kemarilah."

Semua siswa kelas lX-A memeluk bu Sukma satu persatu.

    "Bu, kami benar-benar sangat merindukan Ibu. Ibu tahu gak? Ibu itu bagai pelita yang menjadi penerang untuk kami, " ujar Mahesa.

    "Aduh... romantis sekali kelas lX-A ini. Bapak jadi terharu, deh," ujar pa Ahmad sambil tertawa kecil, yang membuat siswa kelas lX-A tertawa terbahak-bahak.

   "Bagaimana kalau kita semua foto bersama?" ajak bu Sukma yang langsung disetujui oleh semua siswa kelas lX-A.

    Mereka pun berfoto diiringi dengan gelak tawa yang memenuhi ruangan kelas lX-A.

Semua Ada Masanya

Edit Posted by with No comments

Penulis: Naira Hilmiyah

Kelas: 9G

"Aku capek banget. Kenapa sih masalah terus datang ke aku? Apa salahku ya Tuhan sehingga engkau memberikanku cobaan yang seberat ini?" ungkap Inayah.

       "Ada apa dengan dirimu, Inaya? Seberat apa masalahmu hingga membuat dirimu mengeluh seperti ini?" tanya Riko.

    "Kamu gak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan."

   "Menurutmu cuma kamu yang diberi cobaan seperti ini? Tidak, Inaya. Semua orang pasti punya masalah," ujar Riko.

    "Aku tahu!! Tapi aku tidak sekuat mereka."

     "Lihatlah gadis yang ada di pinggir danau itu. Ia tengah memikul beban yang begitu berat tapi tidak sedikitpun ia mengeluh." 

    Inaya menatap gadis itu.

     "Wajah gadis itu terlihat damai. Dia sangat mahir dalam menutupi masalah hidupnya. Bisakah aku seperti dirinya?" tanya Inaya.

    "Jangan menjadi orang lain, Inaya. Jadilah dirimu sendiri. Kita sebagai manusia hanya perlu bersyukur dan bersabar dalam menghadapi ujian ini. Biarlah Allah yang berkehendak atas apa yang terjadi di dunia ini. Ingatlah satu hal bahwa semua orang mempunyai masa, masa di mana kita akan bahagia dan terluka. Dan kita hanya perlu menunggu kapan masa kita bahagia."

20 September 2024

Hujan di Malam Hari

Edit Posted by with No comments

Penulis: Siti Hanifa

Kelas: 7K


Tud! Tud! Tud! Tidak dijawab. Sepertinya ayah dan ibu akan pulang malam. Tiba-tiba lampu mati dan hujan turun sangat deras. Langit pun mulai gelap.
    "Mama, Disa takut," ucap Disa sambil menangis.
    Disa, si anak yang penakut yang kekamar mandipun harus ditemani, sekarang dia sendirian di rumah. Terdengar suara adzan di kampung sebelah.
     "Ah, sudah adzan. Disa harus sholat supaya Disa nggak takut," ucap Disa sambil berlari ke kamar mandi.
      Selesai sholat, Disa pun berlari tanpa membuka mekenanya dan duduk di shopa sembari menunggu pulang ayah dan ibunya. Duarrr... suara petir yang menggelegar terdengar. Disa ketakutan.
       "Ibu, ibu kapan pulang? Disa takut," kata Disa sambil memeluk dirinya sendiri.
       Disa mencari lilin karena hari mulai gelap. Disa menemukan lilin kecil dan korek. Disa menyalakannya. Disa pun mulai mengantuk dan tidur di shopa.
        Grusuk! Grusuk! Terdengar suara yang sangat keras sampai Disa terbangun.
        "Hah, apa itu? Mana lilin sudah mati. Disa tidak bisa melihat apa-apa!" ucap Disa sambil ketakutan. Dan...terbukalah pintu. Duarr....Suara petir dan pintu membuat Disa takut. 
       Tiba-tiba...
       "Duarr, tante datang Disa," seru Tante dengan ceria.
       "Disa, kamu pasti ketakutan. Maaf, ya, Tante baru datang," kata Tante.
         "Iya gak apa-apa, Tante. Lain kali jangan buat Disa kaget, ya," jawab Disa. 
        Tanpa terasa, waktu sudah tengah malam. Lampu pun sudah menyala. Ayah dan ibu sudah pulang.
        "Disa, ibu dan ayah pulang!" ucap ibunya. Disa langsung memeluk ibu dan ayah.
        "Ibu! Ayah! Sekarang Disa sudah tidak takut sendirian lagi," ucap Disa sambil tersenyum.
        "Wih, anak Ibu memang hebat!" jawab ibunya.***

13 September 2024

Hari yang Istimewa

Edit Posted by with No comments

 Nayla Ameera

Sudah hampir 8 tahun lamanya aku tak bertemu dengannya. Namun hari ini, ia berjanji akan datang. Rasanya bahagia sekali. Sudah berjam-jam aku duduk di luar untuk menanti kehadirannya yang tak kunjung datang. Aku sempat cemas, apa mungkin rencananya ke sini akan gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya? Pasti akan sangat menyesakkan sekali bila itu terjadi lagi.

Aku lelah menunggunya. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Mungkin memang ia tak jadi ke sini. Jikapun itu terjadi lagi, aku sudah biasa. Aku memasuki kamar, dan menatap sebuah pigura yang di dalamnya terdapat foto aku dengannya sekitar 9 tahun lalu. Mataku berkaca-kaca.

Tok...tok...tok...

Ketukan pintu itu berhasil memecahkan lamunanku. Aku mengusap mataku, takut kalau saja aku tak sengaja menangis. Aku keluar kamar, lalu membukakan pintu. Mataku membulat sempurna. Seolah tak percaya melihat orang yang berada di hadapanku saat ini. Tepat hari ini, hari pertama aku menatap wajahnya secara nyata, setelah bertahun-tahun lamanya aku hanya menatap wajahnya lewat media sosial saja.

Ia tersenyum kepadaku. Tentu aku membalas senyumannya, lalu mempersilakannya untuk masuk ke dalam.

“Kamu sudah besar, ya,” ucapnya yang disertai dengan kekehan kecil.

Aku tersenyum malu. Rasanya canggung sekali. Lalu aku mencium tangan lembutnya.

“Bagaimana perjalanannya, Kak?” aku berusaha memulai percakapan.

“Lancar. Tapi, ya, begitu, ada macet macetnya.”

“Pasti melelahkan. Kakak istirahat saja di kamar.”

“Kamu tidak rindu pada kakakmu ini, Nadine?”

Apa ini? Jantungku berdetak kencang sekali. Dia kakakku, tapi aku rasanya asing sekali. Tapi bohong jika aku tak merasa bahagia. Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tak rindu.

Aku mendekat ke arah Nayyara, aku memeluknya. Lalu aku menangis dalam pelukannya yang begitu hangat.

“Aku merindukanmu, Kak, sangat rindu. Tidak ada adik yang merasa baik-baik saja jika jauh dari kakaknya, bahkan sampai hampir 8 tahun tak bertemu.” Aku mengeratkan pelukannya.

“Maafkan aku Nadine, tolong maafkan aku.”

Nayyara membalas pelukanku. Ia tak menangis namun suaranya tak dapat berbohong bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Ia melepaskan pelukanku lalu mengecup keningku. Rasanya seperti mimpi. Hari ini hari pertama aku mendapatkan perhatian manisnya lagi setelah bertahun-tahun lamanya tak kurasakan.

“Kakak akan lama di sini, kan?” aku menatapnya penuh harap.

Wajah Nayyara berubah menjadi sendu. Ia menunduk.

“Maafkan Kakak. Besok Kakak harus kembali.”

Apa? Cepat sekali.

Rasanya sedih sekali mendengar hal itu. Namun, aku tetap bahagia. Setidaknya hari ini aku bisa menghabiskan waktu bersamanya. Waktu yang hilang selama 8 tahun ini.

Aku tersenyum. “Tidak perlu meminta maaf. Menatap wajah kakak saja sudah benar-benar membuatku bahagia.”

Nayyara memegang tanganku dan mengusapnya lembut. Hari ini, hari pertama Nayyara memegang tanganku setelah bertahun-tahun lamanya aku tak pernah merasakan sentuhan lembutnya.

Aku berbincang hangat dengannya, tentang segala hal. Aku bercerita panjang sekali, ia pun sama. Hari ini begitu indah. Hari yang sudah lama sekali aku nantikan

Tak terasa, hari mulai malam. Waktunya istirahat. Aku membiarkannya tidur di kamarnya yang sudah lama kosong. Sementara aku kembali ke kamarku. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Berkali-kali aku mencubit pipiku, mengetes apakah ini mimpi atau nyata. Tapi ini nyata. Rasa syukur tak berhenti aku ucapkan. Kali ini semesta benar-benar sedang berpihak padaku.

Aku tidur, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahku. Aku sangat bahagia hari ini. Bahkan mungkin sampai esok pagi, senyuman ini takkan pernah pudar. Kenyataan ini begitu indah, lebih indah dari mimpiku selama ini. Aku memejamkan mata, bersiap untuk pergi ke alam bawah sadarku.

***

Hari telah pagi. Aku bangun dengan perasaan yang masih berbunga-bunga namun tak sebahagia kemarin. Jika kemarin aku bahagia karena kehadirannya, kali ini rasanya bahagia itu perlahan memudar karena  hari ini ia akan pulang.

Aku membuka pintu kamarku dan berjalan ke arah kamarnya. Aku melihat ia tengah bersiap untuk pulang. Kebahagiaan itu cepat sekali perginya.

Kami sarapan bersama. Setelah itu kami berbincang-bincang sebentar. Aku tak dapat menahan air mata yang jatuh saat ia berdiri, bersiap untuk pergi.

“Kak, tolong, kali ini jangan pergi terlalu lama. Aku tak sanggup. Aku tak sanggup kalau harus menahan rindu selama itu lagi.”

Nayyara memelukku.

“Tunggu aku, Nadine. Aku pasti kembali. Aku berjanji tak akan selama itu.”

Nayyara lalu melangkahkan kakinya, jauh dan semakin menjauh. Ia benar-benar pergi. Hari yang istimewa itu sudah selesai. Pertemuan yang sudah lama sekali aku nantikan sudah usai. Tinggal aku yang dirundung rindu yang teramat sangat.

Tuhan, semoga Engkau pertemukan lagi aku dengannya.***

 

 

 

 

 

08 March 2024

JONO SI PEKERJA KERAS

Edit Posted by with No comments

Ulfa Renita 

9G 

"Selamat! Telah diciptakan kaki palsu untuk yang berkebutuhan khusus!"

Tulisan itu terletak di mana-mana. Di papan iklan gedung-gedung, pasar, dan di tempat ramai lainnya. Jono tersenyum bahagia dan bangga karena ia dapat membantu sebagian orang yang berkebutuhan khusus.

Jono, si anak yang ceria, tinggal di pelosok tanpa sosok seorang ayah. Jono hanya tinggal bersama ibunya. Ibunya mencari nafkah dengan menjual koran di pinggir jalan. Tentu saja, pekerjaan ibunya tak cukup untuk membiayai mereka.

“Jono, lihat ini! Pasti kamu nggak punya, ya? Kasihan… ahahaha!” Ryan tertawa terbahak-bahak menertawakan.

Brukk!

Mainan Ryan jatuh. Jono sengaja menjatuhkannya. 

“Jono! Kok kamu gitu sih? Emang kamu bisa ganti? Aku nggak mau tahu, ya. Pokoknya, mainan ini harus kamu ganti!" Ryan marah sembari menunjuk-nunjuk ke arah wajah Jono. Jono kesal, lalu ia meninggalkan Ryan bersama teman-temannya.

Seperti biasa, sepulang sekolah, Jono diam di rumah sendirian. Perutnya sangat lapar. Ia berjalan ke arah meja. Tak ada apa pun di meja, kosong. Jono mendesah pelan, lalu ke kamar dan beristirahat.

“Jono…. Sudah bangun?" Ibunya tersenyum, lalu menyodorkan sepiring nasi untuknya.

“Asik! Jono makan siang!” Jono berlari dan langsung menyambar sepiring nasi tersebut.

“Siang? Ini udah sore, Jono.”

“Jono lelah, Bu, jadi ketiduran sampai lupa waktu, hehe.”

“Jono, setelah makan temuin ibu, ya. Ada yang ingin ibu bicarakan.” ujar Ibu dan meninggalkan Jono. Jono pun makan dengan bergegas agar dapat mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh ibunya.

“Ibu mau bicara apa?" Jono menghampiri ibunya di kamar.

“Kamu kenapa lagi, Jono? Ibu Ryan datang ke ibu. Katanya kamu merusak mainan Ryan, ya?” Nada bicara ibu berubah. Jono bergidik ketakutan.

“Kok gak jawab? Orang tua ngomong tuh dijawab, Jono!”

“Iya ibu, Jono yang merusak mainan Ryan.”

“Kamu sudah besar Jono. Seharusnya kamu sudah bisa mengerti kondisi ekonomi kita! Utang di mana-mana, makan susah, dapat penghasilan juga susah, kamu malah bikin ulah.” Ibu membentak Jono. Jono hanya bisa terdiam dan menunduk.

        Setelah dimarahi ibu, perasaan Jono tidak enak. Ia menaiki sepeda pemberian kakeknya yang sudah tiada. Ia akan menemui teman ayahnya dulu, yaitu pak Toni.

“Assalamualaikum, Pak,” Jono mengetuk pintu rumah Pak Toni.

“Waalaikumsalam, Jono. Ada apa, Nak?” jawab Pak Toni setelah membuka pintu.

"Pak Toni punya uang dua ratus ribu? Aku membutuhkannya. Aku mohon.”

"Ada. Tapi uangnya akan bapak pake minggu depan. Buat apa, Jon?”

"Tak apa Pak, aku bisa ganti dengan waktu dua minggu.” Jono sangat memohon pada pak Toni. Pak Toni yang tak tega, ia segera memberikan uang berjumlah dua ratus ribu pada Jono.

***

"Ini uang buat mengganti mainan kamu. Maafin, ya.” Jono menyodorkan 2 lembar kertas berwarna merah pada Ryan dan meninggalkan Ryan yang masih terdiam tak percaya Jono dapat membayar mainan yang telah ia rusak.

Jono sangat lelah memikirkan bagaimana membayar hutangnya pada Pak Toni dalam kurun waktu 2 minggu.

“Ah aku tahu! Jualan karya gambar, kali ya? Semoga laku! Semangat, Jono!” ucap Jono menyemangati dirinya sendiri.

Jono pun mulai menjual gambar hasil karyanya. Usaha Jono sangat laku. Namun, ini tidak mudah bagi Jono. Setiap pulang sekolah ia harus pergi ke pasar untuk menjual dagangannya. Dan setiap malam ia harus menggambar. Tetapi, Jono sangat senang karena bisa mendapatkan uang untuk membantu ibunya.

Uang sebesar dua ratus tujuh puluh ribu telah Jono dapatkan dalam jangka waktu dua minggu. Akhirnya, Jono memakai uang itu untuk membayar hutangnya pada Pak Toni. Jono melanjutkan usahanya. Penghasilan dari dagangan yang ia dapatkan dibagi dua. Setengah untuk dirinya, dan setengahnya lagi untuk ibunya. Tapi, semakin lama ia berdagang, semakin sedikit juga pembeli yang datang padanya. Karena sudah lelah dan mulai tak ada yang ingin membeli karya nya, Jono berhenti berjualan. Dan kembali terpuruk di kondisi ekonominya.

Bertahun-tahun telah Jono lewati. Kini, ia telah menginjak umur 20 tahun. Ia sekarang telah meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jono dapat kuliah karena mendapat beasiswa. Walaupun Jono mendapatkan beasiswa, namun tetap saja itu tidak mudah bagi Jono. Usaha Jono untuk mendapatkan beasiswa sangat tidak mudah. Dan saat menjalani kuliah dengan beasiswa pun, tidak mudah. Banyak cobaan yang harus Jono lewati. Seperti bekerja untuk biaya hidup sehari-hari, bekerja untuk hidup ibunya di kampung sana, dan mengimbangi gaya hidup seperti teman di kampusnya.

Hubungan Jono dengan ibunya semakin renggang. Apalagi ia sekarang tinggal di Jogja, jauh dari ibunya. Jono mencari pekerjaan sampingan dengan berjualan di pasar, dengan ilmu yang ia dapatkan saat berjualan karya gambarnya dulu. Tapi tak bisa di pungkiri, penghasilannya tidak cukup untuk bertahan hidup di kota.

Kini Jono melihat pemandangan kota Jogja dari kaca sebuah bus. Ia sedang di perjalanan menuju ke kampungnya. Tetangganya menelepon Jono, ia berkata bahwa ibu Jono tertabrak dan harus diamputasi. Jono saat mendengar apa yang di katakan oleh tetangganya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia sangat khawatir. Sebab, ibunya ialah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupnya. Semangat yang ada di diri Jono hanyalah ibu nya. Tanpa dukungan ibunya, ia tak akan bisa melawan pahitnya dunia.

Sesampainya di rumah sakit, ia menangis. Hatinya sangat sedih. Air mata yang sedari tadi sudah hilang, kini kembali. Ia melihat ibunya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Jono berlari dan memeluk ibunya tanpa sepatah kata pun.

"Jono, kamu baik-baik aja nak? Maaf selama ini ibu selalu membentakmu. Perkataan ibu selalu menyinggungmu. Maaf juga ibu tidak bisa memberi seperti yang ibu orang lain beri.” Ibu menangis di pelukan Jono. Jono mengeratkan pelukannya dan ikut menangis.

***

Jono semakin semangat kuliahnya. Ia pun sekarang lebih serius dalam pekerjaannya. Sehingga ia mempunyai lebih banyak penghasilan. Penghasilan itu ia pakai untuk berobat ibunya, dan sebagian untuk kebutuhan kuliahnya. Ia juga sedang mengumpulkan bahan untuk membuat kaki palsu untuk ibunya. Karena harga yang sangat mahal untuk membeli bahan-bahan yang di butuhkan, Jono sangat kesulitan untuk membelinya. Mau tidak mau ia menundanya. Jono berpikir, apa ia selipkan karya gambarnya ke barang dagangannya di pasar? Jono akan mencobanya. Tidak salah kan jika ia mencoba?

Usaha Jono laku. Ia pun mulai bisa membeli bahan-bahan untuk pembuatan kaki palsu untuk ibunya.

Sekitar 4 bulanan, akhirnya kaki palsu untuk ibunya pun sudah jadi. Ia segera bersiap untuk mengunjungi ibunya. Ia sangat tak sabar melihat reaksi ibunya ketika ia memberikan sebuah kaki palsu untuknya.

"Ibu, bagaimana kabar ibu? Apa ibu baik-baik saja? Aku membawakan sesuatu untuk ibu." Jono tersenyum, lalu menyodorkan kotak besar pada ibunya.

"Apa ini, anakku?"

"Buka saja, Bu." Ibu Jono membuka kotak itu. Ia menangis bahagia. Ternyata meski jarang mengunjunginya, Jono sangat perhatian. Ibu Jono telah berburuk sangka. Ia kira, Jono jarang berkunjung karena tidak peduli padanya. Ternyata, Jono selalu sibuk membuat kaki palsu. Ibu menyimpan kotak itu lalu merentangkan tangannya. Jono yang melihat ibunya memberi merentangkan tangannya, langsung memeluk ibunya. Mereka berdua menangis bahagia.

Sejak saat itu, Jono menjadi orang yang sukses. Ia sekarang sudah membuat pabrik untuk pembuatan kaki palsu, guna membantu orang lain yang berkebutuhan khusus. Jono sangat bahagia. Namun sayang, kaki palsu yang dibuat untuk ibunya hanya terpakai dua minggu oleh ibunya. Karena, setelah Jono memberikan kaki palsu untuknya, dua minggu setelahnya ibu Jono meninggal. Namun, Jono senang karena setidaknya orang yang berkebutuhan khusus dapat menggunakan kaki palsu buatannya.***

Gudang Paman

Edit Posted by with No comments

 Ulfa Renita

9G 

Menjalani hidup memang tidaklah mudah. Namun, bukan berarti tidak ada kebahagiaan. Namaku Adit.             Aku adalah seorang anak laki-laki yang selalu berusaha untuk mencari sebuah kebahagiaan. Sedari kecil, aku diasuh oleh pamanku. Aku tidak tahu mengenai kedua orang tuaku. Setiap kali aku bertanya, pasti paman hanya berkata, “Belum waktunya kamu tahu.”

Paman bukan orang yang dilimpahi oleh harta namun dia selalu berusaha untuk dapat membiayaiku dari bayi sampai sekarang. Aku sebentar lagi akan lulus dari SMA. Maka dari itu, aku selalu belajar keras agar bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa membantu ekonomi paman.

Hari ini, aku diajak paman untuk membersihkan Gudang. Sudah bertahun-tahun lamanya tempat itu tidak dibersihkan. Saat sedang membereskan kotak-kotak, aku tertuju pada kotak berwarna hitam yang terbuat dari kayu. Saat kubuka, isinya terdapat foto diriku saat masih bayi dan seorang wanita bersama paman. Keringat mulai bercucuran. Wanita ini adalah wanita yang sering menghantuiku. Sedari aku kecil, wanita ini selalu mengikutiku kemana-mana. Dia tidak memang tidak mengganggu. Dia hanya seperti memperhatikanku dari kejauhan. Rasa penasaran mulai menggelitik. Wanita ini siapa? Mengapa wanita ini sangat mirip dengan wanita yang ada di foto dengan paman?

“Dit, udah lihat-lihatnya. Sekarang kamu beresin kamar kamu aja. Gudang ini biar sama paman,” suara paman Budi mengejutkanku. Dengan tergesa-gesa aku menuju kamarku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Aku sangat sulit untuk terlelap. Aku masih memikirkan foto yang kutemukan di gudang tadi. Apakah itu istri paman? Jika itu istri paman, mengapa sekarang tidak bersama paman? Aku sangat menyesal tidak bertanya pada paman tadi. Tapi paman tidak akan memberitahuku. Paman adalah orang yang sangat tertutup. Tapi seiring perkembangan usiaku yang semakin besar, semakin besar pula rasa ingin tahu tentang kehidupanku dan juga paman. Terlebih wanita itu terlihat sedang duduk di atas lemari sambil tersenyum. Ahh sudahlah. Ini sangat membuat stres. Aku perlahan memejamkan mataku, dan....

            Aku terbangun di rumah besar namun sedikit terlihat tua, sendirian. Ini seperti rumah paman, tetapi dengan furnitur yang berbeda. Aku merasa sekujur tubuhku kaku. Aku mulai ketakutan. Apakah aku diculik? Tapi tadi aku tertidur di kamarku.

“Rin! Kamu pilih dia daripada aku?!”

“Hiks, Mas….”

Suara tersebut seolah menyadarkanku. Tubuh kakuku mulai bisa kugerakkan. Aku melihat ke sekitar, lalu berjalan mencari sumber suara. Ternyata itu adalah paman. Muka paman memerah, tersulut emosi. Jarinya menunjuk pada seorang wanita dan pria. Berbagai kata-kata kasar dikeluarkan oleh paman dan juga pria itu. Mereka benar-benar saling meneriaki satu sama lain. Aku terkejut sejadi-jadinya. Dengan mendengarkan pembicaraan itu, dapat kupastikan bahwa wanita dan pria itu adalah orang tuaku. Tunggu, bukan kah mereka sudah tiada?

Jleb!

“Aaaa!” teriak wanita itu. Aku melihat ayahku dihabisi oleh paman. Aku bergidik ngeri. Saking takutnya, aku sampai kencing di celana. Aku benar-benar ketakutan, ini terasa seperti nyata.

“Jangan Bud, kumohon jangan," wanita itu memohon pada paman. Bukannya kasihan, paman malah menghabisi wanita itu sampai terbujur lemah. Aku hanya bisa diam menangis, aku yakin ini hanya mimpi. Orang sebaik paman tidak mungkin sejahat ini. Aku ingin cepat-cepat bangun dari tidurku.

Paman berteriak dan mulai membenturkan kepalanya ke tembok dengan keras. Aku panik, walau kutahu ini hanya mimpi namun aku berlari menghampiri paman dan berusaha untuk menahannya. Namun nihil, paman bersikap acuh seakan dia tidak melihatku. Aku hanya bisa menangis dan berteriak mengucapkan kata, "hentikan!" berulang kali. Akhirnya, paman berhenti. Dia duduk melihat semua yang telah dia perbuat. Dia berdiri, dan membawa jasad pria dan wanita tersebut secara bergantian ke halaman rumah. Dia mulai memasukan jasad pria dan wanita itu ke koper. Dia terdiam sejenak sebelum mulai mengambil alat bangunan. Aku sangat terkejut, paman memakai alat bangunan untuk membuat kursi dari tembok. Di dalam tembok itulah paman menyembunyikan jasad pria dan wanita itu. Yang lebih mengejutkannya lagi, tembok itu adalah tembok yang kugunakan untuk berduduk santai di dekat kolam. Aku mulai tidak yakin bahwa ini hanya mimpi.

Aku tersadar, tidak, ini hanya mimpi buruk. Aku melihat sebuah pisau dan kucoba untuk melukai tanganku. Berdarah. Aku harap ini bisa membuktikan bahwa ini bukan mimpi.

Aku terbangun dari tidur ku dengan nafas yang tidak beraturan. Aku melihat tanganku yang berdarah. Benar, ini bukan mimpi. Tanganku terluka dan masih meneteskan darah. Aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan. Tanpa pikir panjang, aku membawa jaket dan mulai mengendarai mobil ku di tengah gelapnya malam untuk ke kantor polisi. Tentu aku tidak mungkin ke kantor polisi dengan cerita konyolku. Mereka pasti tidak akan percaya. Dan akhirnya aku membawa kotak hitam itu sebagai bukti. Aku akan menceritakan semuanya walau pasti mereka tidak akan percaya. Aku akan menyerahkan kursi tembok itu pada polisi. Karena itu, aku menjadi tidak fokus. Sebuah mobil truk yang sedang melaju dengan kencang menghantam mobilku.

Aku terbangun di rumah sakit. Paman tertidur di sampingku sambil memegang tanganku. Aku coba untuk duduk, dan paman mulai terbangun dari tidurnya. Paman hanya menatap ku dalam. Dia tidak melontarkan sepatah kata pun. Dengan hati yang masih kecewa, aku lebih memilih menatap ke bawah dibandingkan harus menatap mata paman.

“Adit, sebenarnya kamu anak paman,” ucap paman sembari terisak. Aku terkejut, menatap paman tanpa sepatah kata pun.

“Kamu sebenarnya anak paman, Adit. Sekarang kamu harus transfuse darah. Darah kamu dan paman cocok.”

Aku menangis. Ternyata paman yang selalu kupuja ialah ayah sekaligus pembunuh yang sangat jahat. Aku menepis tangan paman yang memegang tanganku. Aku merasa dibohongi selama ini. Aku merasa sangat kecewa pada paman. Aku sangat tidak mengerti dengan takdir, mengapa bisa serumit ini.

Tujuh tahun sudah kulewati. Kini aku sudah menjalani hidup sendiri tanpa bantuan paman. Paman sudah dipenjara. Paman seperti sudah tahu hal ini akan terjadi. Dia hanya tersenyum dan mengaku bahwa ia telah melakukan semua kejahatan itu.

Menjalani hidup tanpa paman tidak mudah. Aku harus mencari pekerjaan sendiri untuk membiayai hidup ku, terlebih saat itu aku masih menjadi seorang siswa. Perasaan bersalah selalu menghantui diriku. Aku terkadang menyesal telah melapor ke polisi. Paman mengaku dia mengurusku dari bayi karena dia merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya.

Setelah sekian lama menghilang, wanita dalam mimpi, yang ternyata ibuku, berkunjung ke mimpiku. Dia hanya tersenyum, lalu mengucapkan terimakasih sembari mengusap kepalaku, lalu menghilang. Setelah itu, aku tidak pernah melihat ibu menampakkan diri.***

PELANGI YANG BERBEDA

Edit Posted by with No comments

Nayla Ameera

9D


Aldara, dan Clarissa adalah saudara kembar. Meski bukan kembar identik, namun Aldara adalah selalu dibanding-bandingkan dengan saudara kembarnya. Kekurangannya yang selalu dianggap remeh oleh sebagian orang, terkadang membuatnya ingin menyerah dengan keadaan. Berbeda jauh dengan Clarissa, seorang gadis yang dikenal nyaris sempurna, entah itu dari segi fisik, kepintaran dan lainnya.

Aldara selalu merasa bahwa dirinya sungguh tidak berarti. Ia hanya seperti tokoh yang seharusnya tidak ada. Hingga suatu hari, Aldara benar-benar sudah lelah atas segala yang menimpanya di sekolah. Ia berlari menuju kamar dan menangis tanpa suara. Aldara menangis lama sekali hingga tertidur pulas.

Di alam bawah sadarnya, ia tengah menangis di tengah hamparan putih tanpa ujung. Tak berselang lama, seseorang berusaha menghampirinya. Awalnya Aldara tak sadar siapa orang itu. Namun, ketika semakin dekat, ia mulai menyadari bahwa orang tersebut adalah neneknya yang telah lama tiada. Aldara lantas berlari dan memeluk sang nenek. Neneknya membalas pelukan itu. Beberapa saat kemudian, sang nenek baru menyadari bahwa cucunya baru saja menangis.

“Cucuku, mengapa kau menangis?” tanya nenek sembari menghapus air mata Aldara.

Aldara menceritakan segala kegundahan hatinya, rasa sakit yang selama ini ia tahan sendiri. Setelah mendengar keluh kesah Aldara, nenek tersenyum dan mengusap rambut Aldara. Tiba-tiba saja pelangi muncul di antara mereka berdua.

“Lihatlah pelangi itu, cantik bukan?” tanya nenek.

Aldara mengangguk.

“Aldara, pelangi adalah salah satu objek yang dicintai banyak orang karena keindahan warnanya yang berjajar rapi. Namun bisakah kamu bayangkan jika pelangi itu kehilangan salah satu warnanya, atau bahkan lebih? Mungkin akan banyak sekali orang yang bisa saja hilang ketertarikannya pada pelangi itu. Hanya beberapa saja orang yang akan bertahan dengan ketertarikannya. Pelanginya memang masih indah, namun ia kehilangan kesempurnaannya. Tapi, ingatlah Aldara, pelangi tak menampakan seluruh warna yang ada, ia hanya menampakan 7 warna saja. Jika pelangi yang kehilangan warnanya ada kemauan untuk berubah, maka ia bisa saja mencari warna lain untuk melengkapinya dan menjadi pelangi yang berbeda namun masih memiliki keindahan yang sangat menawan. Jadilah pelangi itu Aldara, pelangi yang berbeda namun memiliki daya tarik tersendiri. Di dunia ini, tidak semua orang menyukaimu namun juga tidak semua orang membencimu. Kamu tidak harus terobsesi untuk sempurna di mata semua orang karena  hal itu hanya akan sangat melelahkan dan tiada akhirnya. Jadilah versi terbaik dari dirimu, ya?” Nenek berbicara panjang lebar untuk menyemangati cucunya.

Aldara mengangguk, air matanya kembali jatuh membasahi pipi sendunya. Ia lalu memeluk nenek dengan erat. Namun, sang nenek perlahan menghilang. Tak lama, Aldara terbangun dari tidurnya. Saat itu juga, rasa sakit yang selama ini menyelimuti dirinya tiba-tiba berubah menjadi sebuah kepercayaan diri, bahwa semua yang ia miliki sekarang adalah sebuah keistimewaan yang tak semua orang miliki.

Inilah Aldara sekarang, ia telah menjadi “pelangi yang berbeda.”***

28 February 2024

Dijemput Waktu

Edit Posted by with No comments

 Asri Fajriani

9D

Dia masih saja tidak berhenti menduduki ayunan itu di taman. Dia masih saja terpaku dengan mata terbelalak yang tak pernah dia kedipkan lagi. Padahal, hari sudah mau sore dan mendung. Tidak menutup kemungkinan bahwa hujan akan menghiasi seluruh alam ini.

Ingin sekali kubawa dia pulang. Memasakkannya makanan dan menyeduhkannya susu hangat seperti dulu. Sayangnya, kakiku seperti terpaku tanpa bisa bergerak.

Semua itu terjadi semenjak adikku menyelamatkanku dari bom si Bangsat dan ia meninggal. Namun yang membuatku heran adalah tangannya. Ia tetap berada di atas paha, tanpa menyentuh ayunan. Tapi mainan itu tetap berayun seolah ia memainkannya.

“Ayo pulang, Nak. Mulai gerimis. Ikhlaskan kepergian adikmu. Ayah yakin dia sudah tenang.”

Sial, Ayah datang menjemput.

Lalu dia pun pergi.

Aku sering sekali melihat adikku di taman. Tapi, aku belum siuman.

**

Demi Cintaku

Edit Posted by with No comments

 Asri Fajriani

9D

Pagi ini, Ashraf bangun dengan semangat yang menggebu-gebu karena hari ini adalah hari dimana ia akan bertanding sepak bola dengan SMP sebelah. Ashraf sangat bahagia bisa mewakili sekolah bersama teman-temannya.

"Bu,Ashraf berangkat dulu. Do'akan Ashraf supaya menang, yaa." teriak Ashraf sembari mengenakan sepatu.

"Tentu saja ibu do'akan, Nak. Hati² di jalan, ya," jawab sang ibu.

Ashraf pun berlari menuju ke sekolah. Di tepi jalan, tiba-tiba, "braaak!..." Ashraf tidak sengaja menyenggol batu dan terjatuh karena saking semangatnya. Kakinya terlukanamun, ia tak hiraukan. ia bergegas bangun dan menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang kotor.

 Sesampainya di sekolah, ia lagsung pergi ke lapangan olahraga. Di sana, terlihat teman-nya yang sudah siap bertanding. Ashraf pun menurunkan tas yang ada di pundaknya dan menyimpannya di pinggir lapangan, lalu menghampiri mereka. Mereka tersenyum pada Ashraf. Namun, senyuman kedua sahabat Ashraf memudar ketika melihat bekas luka yang ada di lutut Ashraf.

"Raf, kenapa 'tuh kakimu? Kok berdarah?" tanya Abiel.

"Ooh, ini? Tadi aku terjatuh saat berlari menuju ke sekolah di jalan, hehe...." Jawab Ashraf tersenyum malu.

"Sepertinya, kau terlalu bersemangat untuk menang, ya, Raf?" Yoga ikut bicara sambil membawakan alkohol dan obat merah untuk mengobati luka yang ada di lutut Ashraf.

                Beberapa menit kemudian, pertandingan dimulai. Ketika bertanding, saat Ashraf hendak berlari mengambil bola dari lawan, tiba-tiba kakinya terasa sakit yang kemudian membuatnya terjatuh. Namun, ia tidak menyerah. Sampai akhirnya, "Gooooool!" tim Ashraf memenangkan pertandingan dengan skor 3-2.

"Yeay, gol! Kalian memang hebat," teriak Pak Jazlan sambil menghampiri dan memeluk anak-anak didiknya di tengah lapangan.

Ini merupakan kemenangan pertama mereka. Pasalnya, sebelum ada Ashraf, sekolah ini belum pernah memenangkan satu pertandingan sepak bola sekalipun. Jadi, sejauh ini, Ashraf adalah pemain terbaik. Mereka pun melanjutkan ke pertandingan selanjutnya. Mereka memenangkan setiap pertandingan.

 Singkat cerita, Ashraf tumbuh menjadi atlet sepakbola yang hebat. Di suatu pertandingan antara negara Indonesia dan Malaysia, seperti biasa tim Ashraf memenangkannya. Pelatih dari Malaysia kagum dengan kemampuan yang dimiliki Ashraf. Ia tertarik dan berkeinginan untuk merekrut Ashraf untuk main di timnya dan betanding di negara Malaysia.

Pelatih itu pun menghampiri Ashraf yang sedang duduk di samping lapangan sambil meminum air.

"Saya nampak awak memang pandai bermain tadi."

"Terimakasih, Pak," ujar Ashraf sopan sembari membungkuk dan menganggukkan kepala.

"Bagaimana jika awak bermain dalam pasukan saya? Ekhemm... Jangan risau, awak takkan balik dengan tangan kosong," ucap pelatih itu meyakinkan.

Ashraf berfikir sejenak. Lalu Yoga dan Abiel menghampiri.

“Terima saja tawaran itu, Raf. Bayangkan, kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau," ucap mereka.

"Entah kenapa aku merasakan keputusan yang berbeda. Mulut mereka berkata demikian, namun kelopak mata Yoga dan Abiel menampakkan hati yang berpaling," batin Ashraf.

"Tapi...," kata Ashraf. Belum sempat Ashraf melanjutkan kata-katanya, pelatih itu sudah memotong.

"Apa sahaja yang awak mahu, kami akan berikan," pelatih itu menegaskan.

Setelah berfikir cukup lama, Ashraf menetapkan pendiriannya bahwa ia mencintai tanah air lebih dari apapun.

"Maaf, Pak. Bukannya saya tidak mau, tapi saya ingin berjuang untuk negara saya sendiri. Saya yakin, Bapak akan mendapatkan pemain yang lebih baik dari saya di Malaysia," Ashraf menolak dengan sopan.

Pelatih itu pun meninggalkan Ashraf, Yoga, dan Abiel dengan wajah yang kecewa. Senyuman Yoga dan Abiel kian merekah.

"Huft... Aku pikir kau akan menerimanya," ucap Abiel khawatir.

"Iya. Dia tahu kami adalah sahabatmu. Jadi, kami disuruh untuk membujukmu. Dia pikir, kau akan mau jika kami juga mendukung," kata Yoga sambil merangkul pundak Ashraf.

Ashraf tersenyum.

"Tentu saja aku tidak akan mau. Kita sudah bersahabat sejak lama. Jadi, aku tahu sekali jika kalian berbohong. Dengar, ya. Aku lebih memilih menjadi pemuda yang berjiwa patriotisme dan bernasionalisme daripada menjadi atlet yang profesionalisme untuk bangsa lain. Aku ingin membanggakan ibu dengan memakai kaos tim dengan bendera merah putih di dadaku," jawab Ashraf.

***

 

26 December 2023

Pesugihan

Edit Posted by with No comments

Asri Fajriani

IX F

 

Di sebuah desa, hiduplah seorang penjual sate keliling yang berdagang di malam hari. Namanya Pak Dayat. Ia hidup bersama anaknya yang bernama Dika. Semenjak istrinya meninggal, kehidupan mereka berubah total. Dari mulai perekonomian yang turun drastis, Dika anaknya menjadi pendiam, hingga dagangan satenya yang tak laku lagi.

     Hari demi hari, kehidupan mereka semakin berkekurangan. Pak Dayat putus asa. Mengingat anaknya yang tak pernah membantunya, Pak Dayat memutuskan untuk pergi ke dukun dan melakukan pesugihan.

Singkat cerita...

Setelah Pak Dayat pergi ke dukun, dagangannya mulai laku kembali. Bahkan lebih laku daripada saat istrinya masih hidup. Namun, sejak saat itu, Pak Dayat libur berjualan  pada hari Kamis atau malam Jum'at. Pada setiap malam Jum’at, ia pergi ke sebuah pohon beringin yang terbilang angker sambil membawa sesajen. Ia lalu melakukan ritual. Pak Dayat melakukan ritual itu di setiap jam 12 malam sampai terbit matahari.

Meskipun dagangannya telah ramai pembeli, Dika semakin terlihat lesu dan sering kali mengurung diri di kamar. Semakin lama, dagangan Pak Dayat terus laris walau Pak Dayat berjualan di malam hari bahkan tengah malam sekalipun.

Hingga pada suatu ketika, ada seorang warga yang menyadari keanehan yang terjadi pada Pak Dayat. Pak Shamsyul yang merasa curiga dengan Pak Dayat, pergi menemui Pak Kyai yang tinggal di desa tersebut. Pak Shamsyul kemudian menceritakan keanehan yang ia lihat.

Malam berikutnya, Pak Shamsyul berpura-pura membeli sate Pak Dayat dan membawanya ke rumah Pak Kyai. Lalu, Pak Kyai membacakan do'a-do'a sebelum memakan sate tersebut. Betapa kagetnya Pak Kyai dengan Pak Shamsyul saat melihat satenya berubah menjadi belatung sebesar ibu jari. Pak Kyai kemudian menyadari, bahwa ternyata selama ini Pak Dayat melakukan pesugihan.

 Keesokan harinya, Pak Kyai beserta beberapa orang warga pergi ke rumah Pak Dayat untuk menemui Pak Dayat dan mencari bukti. Sesampainya di rumah Pak Dayat ternyata Pak Dayat sedang menangis sambil memeluk mayat anaknya yang sudah digerogoti belatung.

Pak Kyai dengan warga setempat pun segera mengurus jenazah Dika. Sementara itu, Pak Dayat hanya memasang wajah sedih dan penyesalan. Setelah pengurusan jenazah selesai, Pak Dayat kemudian menceritakan semua yang telah ia lakukan selama ini.

Sejak saat itu, Pak Dayat tak lagi melakukan pesugihan dan memulai kehidupan yang lebih baik. Kemudian, Pak Kyai bersama warga setempat berinisiatif untuk menebang pohon beringin tua itu karena warga merasa terganggu oleh hal-hal yang ghaib setiap kali melewati pohon tersebut.

 

"Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. " (Q.S. Al-Ahzab : 73)

 

"Rezeki udah ada yang ngatur. Kadang, kalo diatur sama diri sendiri bisa ancur. Kita cuma tinggal ikhtiar sama do'a. Selebihnya, pasrahin aja sama yang Maha Kuasa.“ -Asri .F.

Misteri Pohon Duku

Edit Posted by with No comments

 Delvan Satria Kustiadi

IX C


Ayah dan ibuku biasa pergi ke kota untuk menjual buah-buahan dan sayuran hasil tani. Aku dan adikku sudah biasa ditinggalkan ke kota oleh ayah dan ibu. Mereka sudah memberi uang saku selama seminggu untuk kami dan sudah menyiapkan makanan yang banyak untuk kami.

Keesokan harinya sepulang sekolah, kami pulang bersama dengan naik angkot. Tapi angkotnya tidak sampai ke rumah. Angkot hanya behenti sampai dekat pohon duku besar.

           Saat kami berjalan melewati pohon itu, terdengar suara anak kecil yang menangis. Kami mencari sumber suara namun tidak ada siapa-siapa. Kami merinding ketakutan.

"Kak, aku takut dengan suara anak yang menangis itu," kata adikku.

"Tenang, kan ada kakak di sini ." Aku berusaha menenangkannya.

Dan kami terus berjalan dengan langkah yang cepat. Tapi saat kami sedang berjalan, terdengar seseorang memanggil kami.

" Nak, jangan buru- buru jalanya. Mampir dulu ke sini,"  ujar seorang nenek yang tiba-tiba muncul.

"Maaf Nek, kami berdua tidak bisa mampir ke rumah Nenek,” jawabku dengan suara ketakutan.

Kami berdua terus berjalan. Meski takut, kami penasaran dan menengok ke belakang. Terlihat seorang  nenek sedang duduk dengan seorang anak bayi. Seorang bapak dan dan seorang ibu terlihat sedang duduk. Kami semakin merinding ketakutan dengan sosok orang-orang itu. Kami pun berlari menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, kami langsung masuk rumah tanpa basa-basi.

Hari berganti pagi. Saat bangun, ayah dan ibu ternyata sudah pulang. Kami langsung bercerita tentang sosok yang kami lihat dekat pohon duku. Kami bercerita dengan penuh rasa takut karena kami mengira itu adalah hantu.

"Itu bukan hantu tapi itu adalah keluarga pengemis. Mereka semua tidak punya rumah jadi mereka membuat rumah di dalam pohon duku karena pohonya besar. Ibu dan ayah juga sering bertemu dengan mereka. Mereka semua itu baik dan ramah. Ibu dan ayah sering memberi buah buahan ," kata ibu dan ayah.

"Oooh, jadi mereka itu bukan hantu? Ternyata keluarga pengemis,” ujar kami sambil tersenyum lega.***


Rumah Kosong

Edit Posted by with 1 comment

Putri Nuraini 

IX C 



 <a href='https://id.pngtree.com/freebackground/an-abandoned-house-in-sepia-in-the-field_3140185.html'>foto latar belakang gratis dari id.pngtree.com/</a>

'BRAKKK' suara keras muncul dari dapur rumah rumah kosong itu.

"Suara apa itu?" tanya Ophelia

"Aku tidak tahu. Mending kita pulang saja. Aku takut" Ella ketakutan. Ella terus menempel pada Ophelia dan memegang tangannya dengan erat.

Tiba tiba mereka baru sadar bahwa Opal tidak ada di samping mereka.

"Hey, ke mana Opal?" tanya Ian

"Tadi dia di sini. Tapi, kemana dia sekarang? Apa dia diculik oleh hantu?" Ella merinding ketakutan.

Pada suatu hari Ophelia dan Opal berpikir untuk uji nyali di rumah kosong yang tidak jauh dari rumahnya. Rumah kosong itu sangat besar dan halamannya sangat luas. Sayangnya, rumah itu tidak terurus dan menjadi terlihat sangat menakutkan, banyak rumput liar dan pohon yang besar.

"Ayo kita coba uji nyali di rumah kosong itu," Ophelia mengajak Ella dan Ian.

"Aku ngikut saja," jawab Ian sambil fokus bermain game di ponsel nya.

"Gak mau ah, takut," Ella mendengar nya langsung merinding ketakutan.

"Kita ke rumah kosong itu hanya sebentar saja. Aku hanya ingin membuat vidio dan dikirim ke media sosial. Aku yakin tidak akan ada hantu. Walaupun ada, itu pasti akan menyenangkan," canda Opal. Opal juga berencana untuk membuat vidio dan dikirim ke media sosial agar  viral.

"Tapi..., Baiklah, aku ikut dengan kalian. Tapi, hanya sebentar saja. Janji, ya?" Ella merasa khawatir dan takut

"Janji, hanya sebentar saja. Lagipula aku hanya penasaran dengan rumah kosong itu. Kita akan ke sana jam 17:00 ya," Ophelia menentukan jam untuk pergi ke rumah kosong itu.

Ian dan Opal setuju. Ella masih ragu ragu dan takut . Tapi, Ella tetap tersenyum dan mengangguk kecil.

Saat sudah jam 17:00 mereka sudah berkumpul di depan gerbang rumah kosong itu. Ophelia membuka sedikit gerbangnya dan masuk. Teman-temannya mengikutinya dari belakang. Ella masih berdiri di luar gerbang dan gemetar ketakutan. Ella memutuskan untuk mengikuti teman temannya dan masuk ke dalam  dan meraih tangan Ophelia agar tidak tersesat.

"Apa kalian sudah siap untuk masuk ke dalam rumahnya?" tanya Ophelia.

"Aku sudah siap" Opal memegang ponsel dan mulai merekam.

“Ayo masuk"  Ian memegang senter. Ella mengangguk

Ophelia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah itu. Mereka disambut dengan bau melati yang sangat menyengat di hidung mereka. Ella merinding ketakutan. Saat melihat ke atas tangga, terlihat ada sosok perempuan, dengan pakaian putih. Wajahnya pucat. Badannya melayang. Kedua matanya menatap ke arah Ophelia dan Ella seperti marah. Kemudian melesat ke lantai atas.

“Teman teman, seperti nya kita harus pulang," Ella merinding ketakutan. Ia tidak menceritakan bahwa dia melihat sosok perempuan.

“Kita baru saja masuk. Tidak seru jika langsung pulang. Walaupun ada bau bunga melati, kita bersama-sama. Jangan takut." Opal mencoba menenangkan Ella

“Firasatku tidak enak. Tapi ayo coba jelajahi rumah ini," Ophelia mulai berjalan memimpin dan melihat barang-barang di rumah tersebut.

                “Barang-barangnya mewah, pasti mereka orang kaya." Ian melihat barang-barang yang berlapis emas di lemari kaca.

“Kamu benar. Tapi, kenapa barang-barang ini tidak dicuri ya?" Tanya Opal.

                “Aku pernah mendengar cerita dari warga. Katanya pernah ada yang mengambil satu barang di rumah ini, lalu orang itu tiba tiba menghilang dan tidak di temukan sampai sekarang," jawab Ophelia

'BRAKKK' suara keras muncul dari dapur rumah itu

“Suara apa itu?" tanya Ophelia

“Aku tidak tahu. Mending kita pulang saja. Aku takut." Ella ketakutan. Ella terus menempel pada Ophelia dan memegang tangannya dengan erat.

“Hey, ke mana Opal?" tanya Ian.

“Tadi dia di sini. Tapi, ke mana dia sekarang? Apa dia diculik oleh hantu?"  Ella merinding ketakutan.

“Kita harus cari Opal," Ophelia berbicara dengan tegas.

“Ophelia, bagaimana kita mencarinya?" tanya Ian

“Apa kalian mau berpencar?" tanya Ophelia

“APA! BERPENCAR? TENTU SAJA AKU TIDAK MAU!" jawab Ella sambil berteriak dan menutup matanya.

“Ya, akan lebih berbahaya jika kita berpencar. Bagaimana kalo kita mencarinya bersama?" Ajak Ian

“Itu ide yang bagus," Ophelia dan Ella setuju.

Mereka kemudian mencari Opal ke segala ruangan di lantai bawah. Sayangnya, mereka tidak menemukan Opal.

“Hari sudah semakin gelap. Tapi, Opal belum ketemu. Bagaimana ini?" Ella khawatir

“Jangan putus asa. Kita belum memeriksa lantai dua" jawab Ophelia

“Tapi... tapi lantai dua itu," Ella menghentikan kata katanya dan ketakutan.

  “Ada apa dengan lantai dua?" tanya Ian

“T...tidak" Ella menjawab dengan gagap

Saat itu, Ophelia memutuskan untuk mencari Opal ke lantai dua. Saat sampai di lantai dua mereka masuk ke setiap kamar. Saat masuk ke kamar paling pojok yang ada di rumah itu, mereka melihat Opal tidak sadarkan diri. Mereka langsung ke arah Opal dan menepuk pipinya.

“Opal, bangun! Opall" Ophelia, Ella dan Ian sangat khawatir. Di saat mereka khawatir, tiba-tiba pintu menutup dengan sangat keras 'BRAKKKK' mereka bertiga terkejut dan saling berdekatan.

“Aku takut sekali, aku ingin pulang," rengek Ella

“Tenang, jangan takut, kita akan segera pulang." Ian mencoba menenangkan Ella. Sementara Ophelin mencoba membangunkan Opal. Setelah beberapa menit, akhirnya Opal terbangun.

“Akhirnya kamu bangun. Ayo, kita harus keluar dari rumah ini," ujar Ophelia

Opal mengangguk dan bangun. Mereka mencoba membuka pintu, namun pintu tidak bisa dibuka. Mereka berempat terjebak di kamar itu. Mereka mulai ketakutan dan saling berdekatan. Tiba-tiba ada bau anyir yang menusuk hidung mereka.

“Bau sekali." Mereka menutup hidung. Saat mereka melihat ke atas, mereka dikejutkan dengan nampaknya beberapa pocong dengan muka hancur dan berlumuran darah. Mereka ketakutan dan memejamkan mata. Ella meneteskan air mata dan memeluk Ophelia. Ophelia merasa penasaran dan membuka matanya perlahan. Saat membuka matanya dia benar-benar kaget karena di depannya terlihat ada sosok dengan wajah yang benar-benar mengerikan. Wajah sosok itu hancur dan  dia menyeringai ke Ophelia. Ophelia merasa badannya membeku. Ian, Opal, dan Ella membuka matanya. Mereka juga melihat sosok itu. Mereka terkejut dan pingsan. Ophelia yang masih sadar mencoba untuk bergerak. Tapi saat Ophelia mencoba bergerak sosok itu mendekati Ophelia dengan cepat dan menghilang. Lalu, sosok itu tiba-tiba muncul di depan wajah Ophelia. Ophelia pun pingsan.

Saat mereka sadar, mereka melihat sekeliling ternyata itu rumah Ophelia. Mereka melihat hari sudah terang dan melihat warga berkumpul.

Sejak saat itu,  mereka tidak berani lagi menginjakkan kaki ke rumah itu atau uji nyali.

Tamat