Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts

26 December 2023

EMPTY WORLD 2

Edit Posted by with No comments

 Neisca Althafunnisa

Ex IX B


Yura terbangun di sebuah tempat yang asing. Ia melihat pemandangan yang belum pernah lihat sebelumnya. Tempat serba abu yang berkabut, tempat yang tidak berpenghuni.

"Ini di mana?"

Yura mulai bangun dari posisinya yang tengkurap. Dia tidak bisa memastikan yang dia tiduri adalah tanah atau aspal, karena teksturnya sangat lembut, seperti tembok yang baru dicat.

Yura berdiri. Dia mulai berjalan dan kehilangan arah. Setiap arah yang dia lewati seperti tempat pertama kali dia datang, berkabut dan membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan apa yang jauh di depan dia.

"HALO?!" Yura berteriak ke arah sembarang. Sementara itu, ia terus berjalan.

Tidak ada jawaban.

Lebih dari lima detik heningnya. Yura kini benar-benar ketakutan. Bernbgai pertanyaan berkecamuk di pikirannya: Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa tersedot ke dunia ini? Apakah tempat ini benar-benar tidak berpenghuni?

"Halo?! Ada orang?!"

Tiba-tiba Yura mendengar teriakan dari arah yang tidak menentu. Teriakan itu terus bergema. Seakan mendapat pencerahan, Yura berteriak kembali sekeras mungkin.

"HALO?! DI SINI!" Yura berusaha mencari sumber suara yang terus menjawab dengan berlari secepat mungkin.

Suara itu semakin mendekat dan semakin jelas. Kini, di hadapannya, Yura melihat seorang gadis yang lebih tinggi dari dia dan bersurai merah.

"Kamu…." gumam gadis itu. Suara yang Yura dengar saat ini sangat familiar, seperti suara yang ia dengar setiap hari.

"Kamu…,” ujar Yura.

"Ah! Yuu, bukan?!" gadis itu memotong perkataan Yura yang membuat Yura terkesiap kaget.tidak main.

"Carrol...?"

"Benar! Sudah kuduga. Sahutan kamu dari kejauhan terdengar sangat jelas. Ini di mana?” Carrol menggaruk tengkuknnya dan terus menatap kiri dan kanan tanpa karuan.

"Carrol. Apa kamu mengingat apa yang kita lakukan di tempat sebelumnya?" tanya Yura tegas.

"Aku? Aku berada di telepon bersama kalian, bukan? kita sempat membicarakan tentang hilangnya Zeta. Lalu kau mengarahkan aku dan Amia untuk membuka file terbaru yang dikirim di hari yang tepat pada hilangnya Zeta. Aku klik filenya, lalu.. monitor ku terang sekali! Sampai membutakan mata lho! Lalu… ah… aku terbawa ke sini." jelas Carrol. Yura mengangguk.

"Aku pun sama. Yang jelas, kau juga terbawa ke sini. Lalu bagaimana dengan Amia..?" Yura baru tersadar dan bertanya-tanya dalamhati apakah Amia juga terbawa ke sini?

"Sebelum aku mendengar suaramu, aku juga mendengar suara orang lain, namun sayup sayup. Sepertinya dia agak jauh. Ahh! Seluas apa sih tempat in—"

"Tidak terbatas," suara perempuan yang lembut muncul dari samping kanan di mana Yura dan Carrol sedang berbincang.

"Apa yang kalian sedang lakukan di sini?" tanya gadis itu. Sorotan iris mata merah milik perempuan itu terasa menusuk. Bulu kuduk Yura tiba-tiba bergetar karena ngeri.

"Zeta?" bisik Carrol.

Perempuan yang berada di hadapan Carrol dan Yura itu berpenampilan seperti anak kelas SMA biasa dengan seragam kuno tahun 1980-an. Rambutnya yang tergolong sangat panjang dan iris matanya berwarna merah.

"Aku tanya sekali lagi, kenapa kalian di sini?" tanya Zeta tegas.

"Tidak, di mana Amia?" potong Carrol.

Zeta menjentikkan jari tengah dan ibu jari milik dia dan menghasilkan suara jentikan yang menggema. Seakan tempat yang tadi di diami itu sedikit bergeser. Tempatnya masih sama, namun posisi yang mereka diami berubah. Sekarang Yura dan Carrol percaya bahwa tempat ini tidak terbatas luasnya.

Sekarang pandangan Carrol dan Yura terdistraksi oleh gadis yang sedang membelakangi mereka. Gadis itu ber rambut pendek di belakang namun memiliki rambut depan yang sedada dan bersurai cokelat muda.  

"Amia..?" sapa Yura dan Carrol.

"Suara ini….” gumam gadis tersebut. “Yura, Carrol?!" Amia menengok ke belakang dan mendapati Carrol dan Yura dibelakangnya.

"Astaga kalian juga terbawa?!" seru Amia. Kantung matanya merah dan hidungnya merah menandakan Amia baru selesai menangis. Amia memeluk mereka berdua dengan senyap. Zeta memandangi mereka di belakang Yura dan Carrol.

"Aku kira kita akan bertemu di kafe asli dan menyebutkan nama asli kita masing masing. Tapi…kita bertemu di sini. Ah! Yang di belakang itu siapa?" Amia melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah Zeta.

"Dia Zeta." jawab Carrol dengan lirih.

"Zeta?!" Amia menghampiri Zeta yang diam dan memegang kedua tangan Zeta.

"Astaga kamu juga terbawa ke sini..? Apa kamu sudah tahu seberapa luas temp—" tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Amia melebur hilang dari mata Zeta bagaikan puzzle yang terpasang dan dihancurkan begitu saja.

"Kalian harus pulang." Zeta menghampiri Carrol dan ikut menyentuh tangan Carrol. Carrol juga menghilang begitu saja.

"Dunia kosong ini… milikku. Kamu sebaiknya tidak ke sini," Zeta hendak memegang tangan Yura namun Yura menghindarinya dengan mundur satu langkah.

"Kenapa? Lalu kau akan hilang begitu saja di dunia nyata?"

"Aku membuat musik di sini—"

"Musik apa?!" Yura meninggikan suaranya.

"LEO. Kau ingat itu? LEO, adalah aku." ucap Zeta.

"Kalian juga harus melupakan aku. Lalu, ya…hapus file kosong itu." Zeta mencengkeram erat lengan Yura. Yura tidak bisa lari lagi sekarang. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan beberapa pertanyaan yang terus menggantung di hatinya.

Sekarang Yura tidak melihat apa-apa selain cahaya yang sangat menusuk mata dan suara dengungan yang keras dan bergema.

"Aaaaaa…..!" Yura berteriak.

Yura membuka mata dia. Dia sadar bahwa dia kembali ke dunia nyata. Dia bahkan sempat mencubit pipinya sekeras mungkin untuk memastikan ini hanya sebatas mimpi. Namun ini nyatanya kenyataan yang harus dihadapi olehnya.

"Yuuu, kamu tidak apa-apa?!" terdengar sebuah suara keluar dari komputer Yura yang sedari tadi menyala.

"Yura! Jawab aku!" suara itu adalah suara Carrol dan Amia.

"Kalian…. sudah kembali dari dunia kosong itu?" tanya Yura dengan penuh kebingungan.

"Dunia kosong apa, sih?"

"Kamu sempat menghilang dari telepon ini.... tidak lama dari itu kamu tiba-tiba berteriak." jawab Amia.

"Ah… oke…. Zeta belum masuk ke discord call? Atau.. Zeta belum kembali?" Yura memijit keningnya. Dia rasanya merasakan pusing yang hebat.

"Zeta?"

"Iya, Zeta, loh…."

"Yura.. band kita hanya tiga orang. Kamu tidak apa-apa? Kau bermimpi buruk? Dari tadi pertanyaanmu tidak masuk akal," jelas Carrol.

"Kau seperti meracau."

Yura kaget bukan main saat kedua temannya tidak mengenali Zeta, bahkan mereka tidak mengingat mereka masuk ke dunia kosong milik Zeta tadi.

Apa Zeta akan selamanya tinggal di sana? Tidak ada tanda-tanda semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya terasa sangat aneh.

"Ah, maaf." Yura menghela nafas sangat panjang. Kemudian ia mengecek file dunia kosong itu. Semuanya masih ada. Yura mengerutkan keningnya dan mengangguk kuat.

“Jika itu maumu, akan kulakukan,” ujar Yura seraya memijit tombol delete.

“KALIAN…ADA FILE BARU ‘UNTITLED 01’, BUKAN? JANGAN DIBUKA. HAPUS SAJA.”

Yolo (Kisah Dua Orang Pengembara Di Negeri Antah Berantah) (Bagian 2)

Edit Posted by with No comments

 M. Farid Rubiansyah

VIII E


                Kurun demi kurun telah berlalu. Joe dan partnernya Emmy berhasil menguasai tanah tak bertuan itu dan membuat kerajaannya sendiri. Persis seperti apa yang tertuang dalam puisi yang ditulis oleh salah satu pelayan dan penyair kesukaan Joe, Mistrole, yang isinya :

"Dialah yang melawan tentara dan membunuh raja mereka

Dialah yang merebut semua tanah mereka dan mencuri pedang milik mereka

Warga desa pura pura menyukai dia

Dan namanya adalah Joe".

                Siang itu, Joe dan Emmy sedang duduk di singgasananya yang megah. Ketika itu mereka menerima seorang tamu dari kalangan orang lokal. Tamu tersebut membawa kabar mengenai sesuatu yang telah terjadi di pusat kota.

                ‘’Apa yang membuatmu datang ke istana ini, rakyat Joeland yang rendahan?" tanya Joe dengan nada angkuh.

                ‘’Ohh, Yang Mulia Pemilik Kerajaan Joeland...," sahut sang warga desa.

                ‘’Eeh…hem!" dehem Emmy agak dipaksakan karena namanya tidak disebut.

                ‘’Dan partnernya yang ia percayakan," timpal sang warga desa sedikit kesal.

                ‘’Sesungguhnya aku membawa berita kurang mengenakkan dari kota kepada Baginda. Sebuah portal ke dunia lain telah terbuka di pusat kota. Semua warga ketakutan, dari dalam portal itu keluar suara yang cukup mengerikan," lanjut sang warga desa.

                ‘’Suara apakah itu?" Joe kembali bertanya.

                ‘’Suara seperti Haaaaa…. Hua……. He……., tapi yang jelas itu suara naga, ya itu naga!," jawab sang warga desa.

                ‘’Naga kau bilang ha. Oh, aku dapat menyelesaikan masalah ini karena akulah yang terhebat dan terbaik di seluruh negeri ini," jawab Joe dengan nada yang sombong

                ‘’Kabarkan berita gembira pada seluruh rakyat di kota, bahwa aku, Joe yang sangat kuat dan penuh keagungan akan mengalahkan naga kecil dan lemah yang kau katakan tadi, bawalah aku ke portalmu itu!" tukasnya.

                Singkatnya, rombongan yang terdiri atas Joe, Emmy, Mistrole, dan sang warga desa itu sampai di tempat yang dituju. Banyak warga telah berkumpul di tempat itu untuk menyambut rombongan.

                ‘’Salam rakyat Joeland yang saya hormati. Sekarang juru selamat kalian telah hadir untuk menghancurkan monster yang kalian telah adukan kepadaku lewat warga berhidung besar ini," sapa Joe kepada seluruh rakyatnya.

                ‘’Juru selamat?" para warga kebingungan.

                ‘’Aku. Akulah juru selamat kalian dari monster lemah yang bersembunyi di balik portal ini,"  Joe kembali menjawab. Kemudian, terdengar sorak sorai warganya saat itu juga.

                Emmy menarik tangan Joe dan mengajaknya berdiskusi, apa Joe memang benar benar sanggup mengalahkan naga itu.

                ‘’Jadi, kau sanggup tidak mengalahkan naga itu ?," tanya Emmy.

                ‘’Apa?Beraninya kau mempertanyakan keberanianku ini ?"  jawab Joe.

                Kemudian suara naga keluar dari mulut portal. Membuat Joe terkejut dan melompat ketakutan. Ia hanya bisa melihat Emmy tersenyum melihat respon temannya itu.

                Emmy berpikir bahwa Joe mungkin sebenarnya tidak bisa melakukan ini semua, dia hanya melakukan akting berani di depan warganya karena gengsi. Sebenarnya yang membantunya mendapatkan semua tanah di negeri itu adalah dirinya sendiri, namun Joelah yang menikmati sorak sorai dari warganya yang payah. Semuanya, harta, tahta, dan ketenarannya di masyarakat telah membuat Joe lupa daratan, menjadikannya pribadi yang awalnya pengecut dan penakut menjadi angkuh dan sombong dengan tidak menghilangkan rasa penakut dan pengecutnya itu. Mungkin sudah saatnya Joe mendapat balasan karena keangkuhannya dan kesombongannya itu dengan membiarkan ia masuk ke dalam portal itu.

                “Baiklah warga Joeland yang setia, sekarang aku akan masuk ke dalam untuk mengalahkan naga itu, ini hanya perlu waktu lima menit saja!”, tungkas Joe.

                Joe pun masuk kedalam portal itu disusul Emmy, Mistrole membuntuti mereka dari belakang. Di sana, Joe terkejut melihat bahwa mereka bertiga ada di sebuah tanah nan kering dimana mereka dapat melihat kekosongan dan kehampaan di bawah tanah itu. Joe melihat sesuatu yang membuatnya respon mengeluarkan pedang nya dan membunuh se4suatu tersebut.

                “Ya, akhirnya kita membunuh naga itu dan menyelesaikan daftar yang ingin kita lakukan selagi hidup," ucap Joe dengan bangganya menoleh ke arah Emmy di belakangnya.

                “Tunggu, kau pikir itu naga?" tanya Emmy.

                “Jadi seperti apa naga itu?," Joe berbalik menanya.

                ‘’Nah, seperti itu!" jawab Emmy terkejut.

                Joe menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia bahwa yang ia lihat adalah naga yang besar, membuatnya melemparkan pedangnya ke belakang dan membuatnya berteriak sejadi-jadinya.

                “Hai, namaku Joe. Senang bertemu kau!," sapa Joe terbata bata.

                Naga itu menghembuskan nafasnya ke arah Joe, membuat nyalinya ciut. Dia berlari ke belakang menghampiri Emmy dan Mistrole. Sementara, naga itu terbang tinggi mendekati mereka, membuka mulutnya dan mengeluarkan api yang sangat besar yang mengarah kepada mereka berdua.

                ‘’Awass!!!’’ teriak Joe. Ia memeluk erat Emmy, menghindarkan mereka berdua dari nafas naga.

                ‘’Cepat, kita harus berbuat sesuatu sebelum naga itu kembali!" desak Joe.

                Untuk sesaat, Emmy merasa bahwa Joe sudah mampu mengatasi kepayahannya dalam bertempur. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu bisa setegas itu mengungkapkan keberaniannya. Mungkin karena Joe sangat menikmati pertempuran ini. Kini, ia harus mengikuti apa yang di perintahkan oleh sahabatnya itu.

                Emmy menembakkan beberapa anak panah ke arah naga itu, sedangkan Joe menaiki sebuah gunung untuk bisa menaiki naga itu dan menusuknya. Namun, ketika ia sampai di puncak gunung, ia melihat Mistrole sedang berdiri mengamati naga itu.

                “Hei, sedang apa kau disana?," tanya Joe keheranan.

                ‘’Aku sedang mengamati naga itu. Sebenarnya aku kasihan melihat Emmy sendirian di bawah sana melawan naga itu. Kau pula sedang apa disini?," ucap Mistrole berbalik bertanya.

                ‘’Aku sedang membantu sahabatku itu, dengan cara seperti ini…..!!!," seketika itu juga Joe melompat dari atas ketinggian ke tubuh naga itu. Ia sudah menusuknya, namun, kekuatan naga itu sangat besar, ia tidak mati juga. Naga itu menggoyang goyangkan badannya, membuat Joe terjatuh ke bawah.

                ‘’Joe, kau tidak apa apa?," ucap Emmy merasa khawatir pada kondisi Joe.

                ‘’Aku baik baik saja," sahut Joe.

                ‘’Kelihatannya, kekuatan naga itu terletak pada batu permata yang ada di kepalanya. Ia menyerap kekuatan batu permata itu, kita harus menghancurkan batu itu!," ucap Emmy mengernyitkan matanya pada batu permata yang ada pada kepala naga itu sambil membantu kawannya itu berdiri.

                “Sudahlah, aku sudah percayakan semuanya pada MIstrole, dia akan menangani semua ini," ucap Joe dengan tenangnya.

                Sementara itu di atas gunung. Mistrole melompat ke arah naga itu, ia berhasil mendarat di tubuh naga. Ia mencabut pedang yang telah tertusuk di tubuhnya sebelumnya, kemudian berjalan dengan tertatih tatih ke arah kepala naga itu. Ia akan menusuknya tepat di tempat batu permata itu berada. Sebelum menusuk, ia berkata kata untuk yang terakhir kalinya.

                ‘’mereka tidak cukup dan tidak akan pernah cukup untuk membayarku melakukan ini !!!." Kemudian, dia menusuk permata yang ada di naga itu. Naga itu berhenti menyerang Joe dan Emmy. Naga itu mengapung dan terus mengapung, hingga akhirnya meledak. Membuat Mistrole terpental sangat jauh ke langit dan kemudian jatuh ke tanah dengan cepatnya.

                Setelah kondisi aman. Joe pun berteriak ‘’Yah. Akhirnya kita berhasil mengalahkan naga itu".

                Emmy berdehem dan berkata “Ya, meskipun bukan kau yang menghabisi naga itu. Yang menghabisinya adalah Mistrole;. Tunggu, dimana dia?," lanjutnya dengan nada keheranan.

                Mereka terus mencari Mistrole dan akhirnya mereka menemukannya tergeletak di tanah. Hari itu akan selalu mereka ingat, penyair dan pelayan yang baru saja menyelamatkan mereka dari marabahaya dan selalu mengagung agungkan nama mereka berdua di mata masyarakat telah berpulang ke pangkuannya yang memiliki hidup.

                Sebagai penghormatan terhadap pelayan mereka yang selalu mereka marahi dan caci. Joe dan Emmy pun sepakat untuk menamai tanah itu sebagai “Mistroland”. Mereka menangis sebagai rasa bangga karena mereka sudah menyelesaikan daftar keinginan mereka sekaligus sebagai rasa sedih karena mereka baru saja kehilangan orang yang paling mereka percayai.

                “Sudahlah, kita hanya bisa bersabar untuk itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kejadian ini akan terjadi!," hibur Emmy untuk menghilangkan rasa sedih Joe.

                “Iyah, aku tahu itu. Kita harus bisa bangkit setelah semua yang kita alami hari ini. Hai, bagaimana kalau kita buat daftar keinginan baru yang berisi apa saja yang ingin kita lakukan seperti ikut kelas dansa atau mengikuti pertunjukan sirkus, bagaimana ha..?," ujar Joe terdengar menyarankan.

                “Terus bermimpi Joe, teruslah bermimpi yang indah," sahut Emmy.

               

Tammat

 

               

 

 

29 September 2023

Yolo (Kisah Dua Orang Pengembara Di Negeri Antah Berantah) (Bagian 1)

Edit Posted by with No comments

 M. FARID RUBIANSYAH

8E


                Di sebuah negeri nun jauh di sana, dua orang menapakkan kakinya. Mereka berdua adalah penjelajah kedua setelah orang lokal di sana benar benar meninggali tanah tak bertuan itu. Mereka bernama Joe dan “soldier” nya, Emmy. Mereka datang untuk berpetualang ke negeri tersebut untuk menyelesaikan daftar yang ingin mereka lakukan ketika masih hidup, yaitu melawan para monster.         

                “Akhirnya kita sampai juga," ucap Emmy dengan nafas lega. Joe melihat sekelilingnya dan melihat bahwa mereka dikelilingi bentang alam yang begitu luas, mulai dari pegunungan, sungai, hingga hutan.

                “Iya…, ayo Emmy, kita habisi semua monster yang ada di sini," ucap Joe dengan sangat tidak sabar.

                “Tenanglah Joe. Kita baru saja sampai. Lihatlah, bahkan kita tidak membawa apa-apa ke sini, setidaknya kita bangun dulu rumah kita dengan kayu dan batu." Emmy menanggapi pernyataan sahabatnya yang tidak sabaran itu.

                Singkat cerita. Pertama tama yang mereka lakukan adalah memburu hewan liar untuk makanan, membuat peralatan sederhana dari kayu dan batu. Mereka menambang bijih besi untuk di buat senjata, menebang banyak pohon, dan memulai konstruksi rumah.

                Ketika pemasangan pintu untuk bagian depan rumah mereka. Datanglah seorang warga lokal ingin bertemu dengan Joe. Ia berkata ‘’Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian!’’.

                "Hai Emmy, lihatlah ada orang aneh berhidung besar ingin berbagi kebahagiaan dengan kita!," ucap Joe dengan tidak sopan.

                ‘’Oh, biarkan saja dia. Dia hanya ingin bermain main dengan kita. Lebih baik selesaikan saja pemasangan pintunya agar tidak keburu malam!’’, jawab Emmy. Ia nampak ingin segera membereskan rumahnya.

                ‘’Baiklah, selamat tinggal, orang aneh," ucap Joe. Kemudian, ia menutup pintunya dan membiarkan orang dari desa itu sendirian di luar dengan perasaan kecewa berat.

                ‘’Ah, lihatlah itu, sangat luar biasa," ucap Joe dengan penuh rasa bangga melihat rumahnya yang hanya terbuat dari kayu dan batu. Waktu pun larut menjadi malam dan mereka menyalakan api unggun untuk sekadar menghangatkan badan dan memasak makanan.

                ‘’Lalu, apa yang sekarang kita akan lakukan?," tanya Joe.

                “Yah…, kita akan menunggu hingga pagi menjelang," jawab Emmy.

                “Apa…?. Duduk memandangi perapian semalaman?. Itu tidak seru!. Harusnya kita melawan monster-monster di luar sana. Mereka sudah menunggu kita sedari tadi," keluh Joe.

                “Oh jangan Joe. Mereka itu banyak dan kita hanya berdua. Kita jangan gegabah, ikuti saranku supaya kita selamat," terdengar Emmy memberi saran.

                Namun,  Joe tidak mempedulikan saran Emmy. Ia tetap keluar saking tidak sabarnya. Akhirnya, yang ia tunggu-tunggu pun datang juga. Para monster datang, Joe berduel dengan para monster monster itu. Ada zombie hingga tengkorak. Joe melawan dengan sekuat tenaga. Namun karena jumlah monster-monster itu terlalu banyak, ia pun memutuskan untuk kembali.

                “Baiklah, aku mendengarkan," ucap Joe dengan nafas tersengal-sengal karena dikejar segerombolan mahkluk tak hidup dan tak mati itu.

                “Bagus! Kau baru saja memancing makhluk-makhluk itu datang ke sini dan meneror rumah kita semalam suntuk," jawab Emmy dengan nada kesal.

                Sementara itu, para mahkluk-mahkluk di luar sana mencoba mendobrak pintu yang dibuat oleh Joe. Pada akhirnya, pintu pun rusak. Segerombolan mahkluk itu menyerbu rumah milik Joe dan Emmy. Emmy mencoba melawan mereka dengan menembakkan beberapa anak panah. Namun, Joe malah mengurung dirinya di sudut ruangan.

                “Ayolah Joe. Bantu aku cepat!," paksa Emmy karena ia sudah mulai terdesak.

                ‘’Baiklah," ucap Joe. Ia melemparkan pedang besinya pada salah satu mahkluk itu, namun, mahkluk itu terlihat tambah marah.

                Sementara itu, fajar mulai menyongsong. Memperlihatkan matahari yang bersinar cerah di ufuk timur.

                Joe merasa silau dan menutup matanya. Ia pun menggerutu ‘’Oh, terang sekali, aku tidak bisa melihat". Melihat kesempatan itu, Emmy mendesak Joe agar menghancurkan tembok rumah mereka.

                ‘’Cepat, Joe. Hancurkan sisi tembok yang menghadap ke arah matahari," desak Emmy.

                Tanpa pikir panjang, Joe pun menghancurkan sisi tembok yang menghadap ke arah matahari terbit itu. Para mahkluk itu pun berhenti menyerang dan mulai merasa terbakar. Mereka berlarian mondar mandir karena kepanasan sebelum akhirnya menghilang.

                “Kerja bagus Joe. Kau segera menghancurkan tembok itu meskipun kau merasa silau karena cahaya mataharinya. Kau puas melawan monster di sini," ujar Emmy.

                “Ya, kau juga. Tapi sebelumnya maafkan aku karena tidak mau mengikuti saranmu. Tapi jujur, aku puas sejauh ini," jawab Joe sambil tertawa kecil.

                “Sudahlah. Kita bereskan yang harus kita bereskan," ucap Emmy.

Bersambung

28 December 2022

Tacenda (Part 1)

Edit Posted by with No comments

Dea Mustika

Kelas 9I

Tacenda


Sumber gambar: https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-zzaai

Suatu malam di musim dingin. Arthemis pergi ke ujung danau yang membeku untuk mencari rasa tenang. Arthemis berjongkok, mengetuk danau yang beku di depannya. Ia merasakan danau itu lebih beku dari tahun sebelumnya.

Arthemis mengembuskan napas. Ia duduk di bangku dekat danau itu, membiarkan tubuhnya merasakan udara dingin yang menusuk. Danau itu terbentang luas. Saat musim semi, pemandangan akan terlihat indah karena bunga-bunga yang mekar. Namun hari ini, semuanya dipenuhi salju.

Arthemis menatap ke arah danau. Terlihat seseorang di depan sana. Dahi Arthemis mengernyit, memastikan bahwa yang ia lihat memang manusia.

Orang itu memakai sepatu skating, maju tanpa beban. Ia bergerak dengan cepat di atas es yang membeku. Untuk sekilas, ia terlihat bebas. Namun, waktu sudah hampir tengah malam. Untuk apa dia melakukan itu? Arthemis meringis. Untuk kali ini, ia menganggap itu hantu.

Arthemis akhirnya memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, ia membuka pintu dengan pelan. Lagi-lagi Arthemis mendengar orang tuanya bertengkar lagi. Dengan rasa lelah, Arthemis mengendap-endap. Untuk sepersekian detik, ia menahan langkahnya tatkala mendengar pecahan kaca.

Arthemis tertegun, bingung harus mengambil keputusan apa. Ia kemudian melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar. Terkadang Ia membenci ibunya yang terus-terus memprovokasi ayah hanya karena masalah kecil. Namun, mereka berdua sama saja.

Arthemis menutup pintu kamar, memutuskan untuk tidur.

 

***

Hari bergantiIbu tiba-tiba melaporkan ayah dengan alasan kekerasan dalam rumah tangga. Polisi menangkap ayah.

Di bawah temaramnya lampu, Arthemis melihat Ibu menyeret koper-koper yang berisi barang-barang.

“Ibu mau ke mana?” tanya Arthemis.

“Kamu diam di rumah. Ibu akan meninggalkan salah satu kartu kredit Ibu. Kamu gunakan uang itu untuk melanjutkan hidup. Ibu akan mencari pekerjaan di luar kota,” jawab ibu.

Arthemis tak berani berbicara lagi. Ia menatap Ibunya pergi, meninggalkan segalanya. Ia tak meninggalkan satu dekapan maupun lambaian tangan. Hati Arthemis teriris. Tanpa sadar ia menangis, menangisi hidupnya.

Ke mana aku harus pergi selanjutnya? Batin Arthemis. Bahkan, kedua cahaya yang harusnya menjadi penuntun arah agar tidak tersesat, kini telah padam. Mereka padam bersamaan.

Arthemis melihat jam dinding. Hampir jam delapan. Ia sudah menggunakan seragam. Diambilnya tas, kemudian dikuncinya pintu. Dalam perjalanan, ia mencoba menahan tangis.

Jangan terlihat seperti bayi cengeng yang baru ditinggal ibunyaBatin Arthemis.

 

Ia melewati hari dengan penuh rasa sesak. Sepulang sekolah, ia langsung masuk ke kamar dan  menjatuhkan diri di atas ranjang. Ia menangis, membiarkan semuanya terluapkan. Kemudian, ia tertidur.

***

Arthemis terbangun di malam hari. Ia  ingat bahwa ia belum makan sejak pagi. Ia membuka handphone, membaca chat dari ibunya yang masuk tadi sore.



 

Arthemis membalas dengan ucapan terima kasih. Ia memutuskan keluar untuk mencari makanan.

Ia masih merasakan dingin yang menusuk saat ia keluar rumah. Arthemis membenci musim dingin. Selama perjalanan, pikirannya berkecamuk. Ia menangisi hidupnya. Ia hampir tidak punya teman. Kedua orang tuanya meninggalkannya. Saudaranya entah di mana. Kepada siapa ia harus bersandar?

Arthemis masuk ke dalam sebuah toko penjual sup. Ia membeli sup jamur untuk menghangatkan diri.

 

Di balik salju yang perlahan turun, ia melihat orang yang waktu itu ia lihat di danau. Arthemis memperhatikan orang itu dan menatapnya lekat.

“Ternyata dia bukan hantu.” Arthemis terlihat lega.

Pesanannya datang. Ia makan dengan perasaan yang membaik. Dirasakan hangatnya sup yang dicampur dengan roti.

Tak lama kemudian, seseorang terlihat duduk di depannya. Arthemis mengeluh dalam hati, merasa sedikit terganggu. Namun ia tidak bisa menegur. Ini kan bukan toko miliknya.

Arthemis mengangkat pandangan, menatap ke arah orang yang duduk di depan. Ia hampir tersedak tatkala melihat bahwa itu adalah orang yang sempat dia sebut hantu.

Orang itu menatap balik Arthemismengernyit melihat reaksi Arthemis. Toko itu sudah tidak ada bangku kosong, sehingga pelayan menyuruhnya untuk duduk bersama perempuan yang kini berada di depannya.

“Hai..?” sapanya canggung.

Arthemis mencoba menetralkan reaksinya. Dalam hati ia bepikir bahwa kota ini sungguh sempit.

“Hai,” balas Arthemis dengan pelan.

Pria itu tak membalas kembali, membuat Arthemis kembali fokus untuk makan. Ia memesan dessert karena masih merasa lapar. Ia mengabaikan pria di depannya.



       Sumber gambar: en.pinkoi.com 

Tak berselang lama, pesanan itu datang bersamaan. Namun, ada tambahan menu di sana: sebuah kue. Pelayan itu menjelaskan bahwa kue itu adalah hadiah untuk siapapun yang semeja dengan berpasangan. Hal itu diadakan sebagai hadiah tahun baru. Kue strawberry berukuran kecil. Sepertinya kue itu enak.
                Arthemis tersenyum menanggapi. Sementara itu, pria tersebut menatap strawberry cake. Arthemis mengambil Cheescake yang dipesannya, menggeser menu hadiah itu untuk diambil oleh pria itu.

“Aku tak suka makanan manis,” ujarnya.

Arthemis menatapnya.

“Kayaknya ini low sugar deh,” ucap Arthemis.

“Kamu bawa saja.”

Arthemis menggelengkan kepala. “Ini hadiah untuk dua orang.”

“Lalu?” tanyanya.

“Aku tidak akan membawanya kecuali dibagi dua. Setelah itu, kamu bebas mau membuangnya atau bagaimana pun.”

Ada rasa tak nyaman yang menjalar dalam hati Arthemis. Ia melihat pria itu menghela napas, kemudian memotong kue itu seukuran dengan cheesecake milik Arthemis. Ia memakan potongan itu hanya untuk tiga suapan. Lalu menggeserkan sisanya ke arah Arthemis.

“Orang aneh,” pikir Arthemis.

Arthemis memakan cheesecake-nya, kemudian meminta kemasan untuk membungkus kue stroberi.

Ia berterimakasih kepada pria itu. Kemudian, ia memutuskan keluar dari toko.

Arthemis mengakhiri hari itu dengan tertidur pulas karena merasa lelah.

 

***

(To be continued)

 

 

07 December 2022

Restu yang Tak Berpihak

Edit Posted by with No comments

Rani Martias

Kelas 8H

Restu yang Tak Berpihak

Luisa adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas di Bandung. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia mengambil jurusan bisnis investasi.

Di pagi hari.

Tok... Tok... Tok.... Terdengar suara yang mengetuk pintu kamar Luisa. Dengan mata yang masih berat, ia langsung bergegas membukakan pintunya. Seorang wanita berdiri dengan senyum. Ia langsung menyuruh Luisa untuk makan dan bersiap-siap. Wanita itu tak lain adalah ibunya.

Luisa membalas senyuman ibunya. Kemudian ia langsung pergi ke kamar mandi. Dengan asyiknya ia bernyanyi di toilet.  Mandi pun selesai. Ia berdandan dan melihat dirinya di cermin. Ia tersenyum, seakan hari-harinya sangat istimewa.

Luisa langsung pergi ke dapur dengan senyuman yang riang. Ibu menghidangkan makanan begitu banyak di meja makan. Ayah membaca koran, santai sambil meminum kopi buatan istri tercinta.

Di kampus …

"Hai, Luisa!" terlihat seseorang menghampirinya.

"Hai, Lylia! " sahut Luisa dengan senyumnya.

Lylia adalah seorang mahasiswi juga seperti Luisa. Ia adalah sahabat Luisa sejak kecil. Namun berbeda dengan Luisa. Ayahnya meninggalkannya sejak kecil. Ia sekarang hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya tidak pernah memberinya kabar.

                                                                  ***

Saat hendak pergi ke kelas, Luisa dan Lylia melihat segerombolan wanita bergerombol. Karena penasaran, mereka langsung menerobos gerombolan tersebut. Ternyata mereka sedang memandang seorang pria tampan, kekar, dan tinggi yang berada di depan mereka. Luisa dan Lylia terpukau melihatnya. Laki-laki itu tersenyum kedua perempuan tersebut yang  membuat Luisa dan Lylia salah tingkah. Nama pria itu adalah Samuel.

Samuel melihat ke arah Luisa. Ia berdiri dan menghampiri Luisa.

"Hai! Perkenalkan, nama saya Samuel. " Ia mungulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sopan kepada Luisa.

 

 

"Hai juga. Saya Luisa." Luisa tersenyum dan membalas jabatan tangan Samuel.

Melihat hal itu, Lylia merasa iri. Ia merasa dipandang rendah karena status dan penampilannya tidak seperti Luisa.

Di dalam kelas, saat perkuliahan berlangsung. Samuel duduk sambil menatap Luisa yang sedang belajar dan sementara Lylia ia memasang wajah iri.

Saat pelajaran usai, Lylia langsung pergi meninggalkan kelas. Ia tidak ingin bertemu dengan Luisa. Biasanya ia tidak seperti itu. Luisa juga sangat heran dengan tingkah sahabatnya itu.

Saat itu, kebetulan Samuel lewat. Ia langsung memberi tumpangan kepada Luisa. Luisa tidak menolaknya.

***

Sesampainya di rumah, Lylia buru-buru pergi ke kamar. Pintunya ia kunci. Ia menangis.  Ia membenci Luisa hanya karna seorang laki-laki. Lylia melihat foto mereka dan merobeknya menjadi serpihan kertas yang tak berguna lagi baginya.

Tring... Tiba-tiba Hp-nya berdering. Muncul sebuah pesan. Ia langsung melihatnya, berharap Sam yang mengirim pesan itu. Ternyata, pesan itu berasal dari Luisa.

                      < Luisa

                           Online

                          ───

P

(Dibaca)

Ly, kok kamu tadi ninggalin aku?

(Dibaca)

Kamu marah???

(Dibaca)

Jangan marah ya... :)

(Dibaca)

 

Lylia hanya membaca isi pesan itu.

 

Tak lama ibunya pulang. Ibunya hanya seorang pekerja paruh waktu. Ia masuk ke kamar Lylia dan melihatnya sedang menangis.

"Kamu kenapa?" tanya ibunya.

Lylia langsung memeluk ibunya dengan erat.

 

(To be continued)

05 December 2022

EMPTY WORLD (PART 1)

Edit Posted by with No comments

Neisca Althafunnisa Widana

Kelas 9B

 

EMPTY WORLD (PART 1)

 

Seperti biasa, hari yang membosankan. Hari yang aku habiskan hanya bermain komputer kesayanganku dan membuat musik.


 

(Kamar Yura)

 

Namaku Yura Kirana Ayunda, seorang komposer musik indie. Aku sama seperti cewek pada umumnya. Aku seorang siswi SMA kelas 2. Namun karena suatu alasan, aku tidak melanjutkan sekolahku. Sekolah tidak sepenting aku mengkomposisikan musik. Aku ingin membuat musik yang bisa menyelamatkan orang, entah itu berupa perasaan atau apapun itu. Itu adalah mimpiku saat aku masih belajar di sekolah menengah, hari di mana ayah kecelakaan dan tidak bisa melanjutkan karirnya sebagai mengkomposisikan musik.

"Yuu!! Haloo~?" panggil seseorang keluar dari speaker komputerku. Aku memandangi discord call-ku dari kejauhan. Ada Carrol dan Amia masuk ke room call-ku.

"Aah--.. Iya. Apa? Aku melamunkan sesuatu tadi. Apa Amia?" tanyaku pada Amia yang memanggilku tadi.

"Kamu ga curiga ya? Zeta hilang lebih dari 6 hari, lo!" seru Carrol. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Singkatnya, kebingungan.

"Curiga sih curiga, ya.. Dia ga bilang apa-apa ke aku soalnya. Terakhir kali dia nge-chat di discord,  dia cuma bilang.. 'Otsu¹ sampai besok lagi.' Itu doang," jelasku. Carrol dan Amia hanya menghela nafas panjang.

 

"Ah.. LEO² mengunggah musik baru. Ini bukan saat yang tepat.. Namun view-nya sudah mencapai 200 ribu penonton. Itu baru di-upload 3 jam yang lalu. Gila!" Carrol bergumam. Sontak aku membuka MeTube di komputerku. Tanpa harus mengetik nama band itu, video terbaru LEO sudah muncul paling atas, menjadi trending.

"LEO… Siapa di balik band itu?" tanyaku pada Carrol dan Amia.

"Aku rasa orang yang mendirikan band itu hanya satu orang. Namun masih belum ada info lain dari LEO," jelas Amia. Aku hanya mengangguk ria walaupun mereka tidak melihat mukaku.

 

Carrol, Amia, dan Zeta adalah teman dekat online-ku. Mereka membantuku banyak hal. Bahkan karena kami sama-sama menyukai musik, kami membuat band. Band itu bernama 'nada musik di 00.00', fans kami sering menyingkatnya menjadi "Nightcord". Carrol, Amia, dan Zeta adalah nama samaran, bahkan namaku menjadi 'Yuu'. Kami berteman 1 tahun tanpa mengetahui nama asli, bahkan muka masing-masing. Namun masing-masing dari kami menjadi pendengar yang baik.

 

Carrol adalah designer album. Dia yang menggambar semua thumbnail album, bahkan isinya. Gambarnya sangat indah. Namun dia selalu ragu dengan hasilnya. Di sisi lain, dia juga sering mem-posting dirinya sendiri di media sosial, tidak seperti Amia, aku, dan Zeta.

 


Amia adalah designer di suatu kota. Aku tidak tahu itu di mana. Namun dia menyukai hal yang imut. Dia juga membantu Carrol. Dia memiliki vocal yang sangat bagus di antara kami berempat.

 


Zeta adalah orang yang sering menulis lirik. Lirik buatan dia selalu pas dengan suasana musiknya: gelap, dingin, namun memiliki banyak sisi terangnya. Dia sangat pintar dalam bahasa luar. Suara dia juga sangat lembut, selalu pas dengan setiap tema.

Sedangkan aku, hanya seorang composer. Mixing, uploading… semua soal begituan adalah urusanku. Itu saja.

"Uh, Gila! Liriknya seperti orang yang tidak berperasaan." Carrol berseru sembari mendengarkan lagu terbaru LEO.

"Ah, benar. LEO memiliki suara vokal satu orang namun entah siapa yang menulis lagunya. Namun instrument dari group band ini rasanya familiar. Aku seperti pernah mendengar. Namun, di mana, ya?" Amia bergumam. Aku hanya manggut-manggut.

 

Dari pada mengobrol yang tidak penting, aku membuka file yang berisi kiriman terbaru lewat discord.

'Untitled 01.' 


 
Aku melihat satu file yang terlihat asing. 

"Carrol. Amia. Bisa buka file terbaru dari discord?" tanyaku  dengan suara keras pada mereka.

"Tentu. Oh, yang untitled? Itu dikirim 6 hari yang lalu.. Ah, hari saat Zeta menghilang! Dan yang mengirimnya bahkan Zeta! Amia, Yuu. Ayo dengarkan," Carrol berseru. Aku lantas meng-klik file itu. Namun saat file itu diklik cahaya menyinari seluruh monitor.

"A- apa ini?! Terang sekali!" Amia berteriak dari speaker. Namun perlahan teriakannya itu hilang. Monitor semakin terang cahayanya. Aku mencoba men-shut down komputerku, namun sia-sia. Cahayanya membutakan mata dan perlahan mataku mulai sakit. Aku menutup mata dalam beberapa detik, sampai benar-benar tidak terasa sakit.

 Aku membuka mata, sontak aku kaget karena posisiku berbeda dari sebelumnya. Tadi aku duduk di kursi gaming-ku, namun sekarang aku di dalam posisi bangun tidur. Posisiku tidur terlentang. Kerasnya seperti di atas aspal. Perlahan aku mengangkat kepalaku dan melihat pemandangan serba abu-abu yang tidak dapat kugambarkan.

 

  (???)

Banyak sekali bangunan berbentuk segitiga sembarang dan besi yang muncul di sembarang. Ada yang pendek, ada yang panjang. Terlihat langit yang berwarna abu-abu dan area yang penuh dengan kabut.

"Di mana aku?"

 

 (TO BE CONTINUE)

Footnote

  1. Otsu / おつ / おつかれ/ おつかれさまでした (otsukare / otsukaresamadeshita) adalah frasa yang digunakan untuk menunjuk kan rasa terimakasih atas kerja keras rekan kerja (diambil dari bahasa jepang).

 

  1. LEO (Di dalam cerita ini) adalah nama band terbaru yang tiba-tiba naik daun, orang dibalik band itu belum diketahui siapa.