Showing posts with label Pentigraf. Show all posts
Showing posts with label Pentigraf. Show all posts

17 October 2025

Sebuah Patung

Edit Posted by with No comments

Penulis: Humaira Zaura

Kelas: 8F

Aku mengunjungi rumah pamanku. Pamanku adalah seorang pembuat patung namanya 'Robert williams'. Namanya begitu tersebar luas di mana-mana, karena ia adalah seorang pembuat patung yang begitu terkenal.


        Aku melihat-lihat patung karya pamanku. Karyanya begitu indah seperti realis. Aku sangat takjub melihat patung-patungnya. 

 

       Namun, ada sebuah patung yang menarik perhatianku. Aku mendekati patung itu dan sedikit menyipitkan mata. Aku seketika merasa membeku di tempat, terkejut dengan apa yang aku lihat. Patung itu mengeluarkan air mata dari kelopak matanya.

22 September 2024

Di Balik Senyum

Edit Posted by with No comments

Penulis: Najmi Suci Saniyyah 

Kelas: 8H

Aku adalah anak perempuan yang berasal dari keluarga bangsawan. Walaupun begitu, aku selalu dikucilkan karena kebiasaanku yang unik. Di saat anak perempuan pada umumnya menghabiskan waktu dengan belajar berdansa atau bersantai di halaman depan, aku menghabiskan waktu di ruang latihan.

        Entah kenapa aku suka melihat api. Warnanya yang cerah sangatlah unik dan anggun di mataku. Kebiasaan itu berlanjut sampai aku berumur 20 tahun. Saat Kaisar mengadakan pesta dansa, tiba-tiba lampu gantung yang berada di tengah ruangan terjatuh dan menyebabkan kebakaran. Aku selamat karena aku tidak berada di dalam saat itu.

         Detektif datang ke tempat kejadian bersama para penjaga dan bangsawan lain yang heboh. Penyelidikan sempat terhambat karena besarnya api. Para penjaga dan orang-orang berusaha untuk memadamkan api. Karena kerja sama yang bagus, api pun padam sehingga detektif bisa melanjutkan penyelidikan. Tak lama kemudian detektif itu keluar dari dalam dan mendatangiku sambil menodongkan sebuah pistol. Aku hanya bisa tersenyum sambil memegang sebuah panah di belakang jubahku

Ayunan Tua

Edit Posted by with No comments

Penulis: Muslimah

Kelas: 9D                       

      Gadis berkuncir kuda itu berlari menghampiri si kakek. Gadis itu duduk lalu perlahan ayunan itu mulai bergerak.

     Suara tawa gadis itu sangat keras. Rasanya menyenangkan melihat gadis itu bermain ayunan. Tidak kusangka gadis itu menatapku dalam, sampai akhirnya ia terjatuh. Si kakek tua berteriak memanggil nama gadis itu.

     Gadis itu diam sambil menatapku. Hujan turun. Tatapan matanya seolah mengisyaratkan aku untuk pergi. Aku mendengar suara warga sekitar. Tak ku sangka ternyata aku pingsan setelah tertabrak lari.

Kejadian Tak Terduga

Edit Posted by with No comments

Penulis: Wiji Amalia Rahayu

Kelas: 7I

Namaku Andi. Sejak umur 12 tahun aku sudah tinggal sendiri karena orang tuaku pergi entah ke mana. Aku bekerja setiap hari menjadi pemungut sampah. Mungkin pekerjaanku melelahkan. Tapi jika aku tidak bekerja, aku tidak bisa makan.

           Aku tinggal di jalanan seorang diri. Aku tidak mempunyai rumah. Di umurku yang masih sangat remaja ini aku mempunyai mimpi besar, menjadi seseorang yang sukses. Namun terkadang aku malu pada diriku sendiri apakah mimpi tersebut akan terwujud oleh seorang pemulung sepertiku. Namun aku berpikir kembali tidak ada yang tidak mungkin bagi seseorang yang selalu berusaha.

            Pada suatu hari, aku sedang memungut sampah di pinggir jalan raya. Ada seorang anak kecil yang ingin menyebrangi jalan raya. Aku hanya melihatnya. Aku pikir ia tidak akan lari pada saat mobil besar datang dari arah utara. Dia lari tanpa takut akan tertabrak oleh mobil itu. Aku segera berlari menyelamatkan anak itu. Paat itu, orang tua dari anak tersebut datang menghampiri kami berdua. Orang tua itu sangat senang anaknya selamat dan berterimakasih padaku. Lalu aku diberi uang yang sangat banyak Aku sangat berterima kasih pada orang tua anak tersebut.

20 September 2024

Kekasih Lautan

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani

Kelas: 8H


   Ombak bersahutan. Gemuruh petir saling berdatangan. Malam pun semakin gelap dengan hujan deras yang menyertainya. Seorang perempuan duduk di tepi pantai sambil memeluk lutut. Ia menangis dalam kesendirian.

   Di malam itu, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Sesosok laki-laki datang menghampiri perempuan tersebut.

   Senyuman yang begitu manis menghiasi wajahnya. Perempuan itu menghentikan tangis, lalu ia memeluk sosok tersebut. Ternyata, laki-laki itu adalah kekasihnya yang ditelan ombak lautan 2 bulan lalu.

Mawarku

Edit Posted by with No comments

Penulis: Siti Hanifa

Kelas: 7K

Aku berkunjung ke planet tetangga untuk mencari teman. Di planet itu aku sangat kesepian. Hanya setangkai bunga mawar yang menemaniku. Setiap pagi aku menyapanya tetapi mawar itu tidak menjawab. Dia hanya diam. Aku bosan. Aku ingin mencoba hal baru!

Aku berkunjung ke planet yang katanya di sana banyak penghuninya. Aku bertemu dengan seekor rubah yang sedang tidur dan aku membangunkannya. Saat itu aku berkenalan dengannya dan mengobrol lama. Itu membuat kami sangat dekat. Aku mulai percaya padanya dan menceritakan keseharian di planetku. Hari-hari berlalu. Aku melupakan bunga mawarku.

Aku merindukan mawarku. Meskipun di planet baru banyak mawar namun mawarku yang dulu tak bisa tergantikan. Aku berniat kembali ke planet asalku. Aku melihat mawar itu sudah layu dan hanya menyisakan daun-daun yang kering. Aku menyesal karena meningkalkannya. Berhari-hari menangis. Aku menyesal atas perbuatanku. Suatu pagi, tiba-tiba aku melihat kuncup baru pada mawarku yang layu. Aku sangat gembira. Aku berjanji akan merawatnya dengan baik.

 

16 September 2024

Aku Iri

Edit Posted by with No comments

Penulis: Asri Fajriani


Sebagai makhluk hidup, aku juga ingin mempunyai pasangan. Aku jenuh. Dari hari ke hari, hanya sendiri di hutan ini. Aku iri pada mereka: pada kedua burung hantu yang bernyanyi di malam gelap dengan indahnya. Atau kedua Hummingbird yang bercinta walau hanya sepersekian detik. Aku iri.

Angin memainkan ranting-ranting pohon, membuatnya terdengar seperti alunan yang dingin dan sunyi. Terkadang, aku bertanya-tanya, aku dibesarkan oleh siapa?

Setiap siulanku hanya dijawab sepi. Maksudku, di sini aku tidak kelaparan. Buah-buahan matang dan ranum begitu melimpah. Tapi, mengapa aku sendiri? Seperti tak ada satu pun burung lain yang sama bentuknya denganku. Apa manusia memang sekejam itu? Atau, aku ditakdirkan untuk selamanya memeluk sepi, bahkan sampai aku mati? Aku menyesal jadi satu-satunya spesies terakhir.

15 September 2024

Sekedar Pengagum Rahasia

Edit Posted by with No comments

 

Naira Hilmiah

Kelas 9G

Saat aku duduk di sebuah taman, mataku tertuju pada seorang pria yang begitu memesona. Pria itu tersenyum dengan begitu manis, melebihi manisnya gula.

Pria itu menghampiriku dengan senyuman yang terukir indah di wajah tampannya. Ia mengajak diriku untuk mengikutinya. Sesampainya di sebuah danau. Pria itu menatapku dengan tatapan yang begitu damai.

Tak lama terdengar suara ayam jantan berkokok. Aku pun terbangun dari mimpi indahku.  Sambil tersenyum, aku terus mengingat wajah tampan pria itu. Tak lama dari itu aku tersadar jika pria yang ada di dalam mimpiku itu adalah sahabatku sendiri. Sangatlah tidak mungkin bagiku untuk bisa bersama dengannya, karena  ia masih mencintai masa lalunya dan aku hanya bisa mengaguminya dalam diam.

Mesin Waktu

Edit Posted by with No comments

Penulis: Naira Hilmiah

Kelas: 9G

Malam berganti pagi. Aku terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Aku terbangun di dalam kamarku yang dulu. Aku bangkit dan melihat penampilanku dari sebuah kaca. Aku terkejut karena penampilanku adalah diriku yang dulu.

Kini aku tersadar bahwa aku telah kembali ke masa lalu ketika kedua orang tuaku masih ada. Aku amati segala peristiwa yang terjadi.

Malam pun tiba. Aku berjalan menyelusuri sebuah lorong yang ada di perusahaan, untuk memastikan keadaan. Saat aku membuka pintu sebuah ruangan, aku melihat ibuku tengah bermesraan dengan seorang pria, yang ternyata adalah sahabatku sendiri yaitu Arhan.

 

 

 


Sayatan Hati

Edit Posted by with No comments

Penulis: Naira Hilmiah

Kelas: 9G

Aku adalah Vanaya, seorang gadis yang hidup dengan penuh luka. Meskipun aku masih duduk di bangku SMP,  kehidupanku sangatlah menyakitkan, melebihi sakitnya putus cinta.

Seorang pria yang aku banggakan ternyata bisa melakukan perbuatan yang begitu kejam. Bertahun tahun kutekadkan diri untuk terus bertahan dengan luka yang kurasakan. Terkadang aku berpikir jika dunia ini sangatlah tidak adil, namun pemikiran itu salah. Bukan dunia yang tidak adil, melainkan aku yang tidak bisa menerima takdir.

Pria itu adalah ayahku, sosok yang dulu kubanggakan. Namun sebuah setelah kejadian kelam yang menimpa keluargaku. Dengan teganya ia membunuh ibuku tanpa sebuah konflik.

 

 


13 September 2024

Penantianku

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 8H


   Di masa kecil, aku mempunyai sahabat. Dia adalah seorang laki-laki yang sangat tampan dan memiliki hati yang teramat baik.

   Suatu saat, kami berpisah. Dia meninggalkanku dan memberiku kalung yang terukir dari berlian yang begitu indah. Dia berjanji bahwa suatu saat dia akan kembali lagi kepadaku dan akan selalu bersamaku selamanya.

   Akhirnya, penantianku selama ini tidak sia-sia. Dia datang lagi kepadaku setelah belasan tahun menghilang bak ditelan oleh ombak laut. Dia menepati janjinya kepadaku.

Luka di Masa Lalu

Edit Posted by with No comments

 Anisya

Kelas 8H

Luka di Masa Lalu

   Setelah hubungan percintaanku yang kemarin, entah kenapa aku susah untuk membuka hati kembali. Meski banyak orang yang ingin bersamaku. Tapi, hatiku seakan-akan tertutup rapat untuk mereka yang datang dalam kehidupanku.

   Mungkinkah aku trauma untuk mengulang sebuah hubungan kembali? Aku takut hati yang sudah kuberikan dipermainkan kembali. Aku takut apa yang sudah kuberikan dibalas dengan sakit yang begitu dalam.

   Aku yakin tidak semua laki-laki seperti laki-laki di masa laluku. Aku hanya ingin sendiri dulu untuk mengobati luka hatiku. Eh, tapi tunggu. Siapa laki-laki yang senyumannya sangat manis itu?


Kebebasan yang Kutunggu

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 8H

   Aku adalah anak perempuan yang tidak punya kebebasan penuh sejak kecil. Aku mempunyai orang tua yang tidak pernah mengerti akan perasaanku.

   Ada kala aku ingin hidup seperti anak perempuan lainnya. Aku tahu orang tuaku menginginkan yang terbaik untukku. Tapi, aku ingin setidaknya mereka berfikir jauh sebelum mereka bertindak. Akankah itu menyakiti hatiku atau tidak?

   Lama kelamaan aku sudah terbiasa dengan aturan-aturan dari orang tuaku. Hingga besar, aku masih diatur oleh mereka. Sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang melamarku dan aku menerimanya. Sejak itu aku mulai dibebaskan dan melakukan apapun tanpa takut atau dimarahi oleh mereka.