26 December 2023

Misteri Pohon Duku

Edit Posted by with No comments

 Delvan Satria Kustiadi

IX C


Ayah dan ibuku biasa pergi ke kota untuk menjual buah-buahan dan sayuran hasil tani. Aku dan adikku sudah biasa ditinggalkan ke kota oleh ayah dan ibu. Mereka sudah memberi uang saku selama seminggu untuk kami dan sudah menyiapkan makanan yang banyak untuk kami.

Keesokan harinya sepulang sekolah, kami pulang bersama dengan naik angkot. Tapi angkotnya tidak sampai ke rumah. Angkot hanya behenti sampai dekat pohon duku besar.

           Saat kami berjalan melewati pohon itu, terdengar suara anak kecil yang menangis. Kami mencari sumber suara namun tidak ada siapa-siapa. Kami merinding ketakutan.

"Kak, aku takut dengan suara anak yang menangis itu," kata adikku.

"Tenang, kan ada kakak di sini ." Aku berusaha menenangkannya.

Dan kami terus berjalan dengan langkah yang cepat. Tapi saat kami sedang berjalan, terdengar seseorang memanggil kami.

" Nak, jangan buru- buru jalanya. Mampir dulu ke sini,"  ujar seorang nenek yang tiba-tiba muncul.

"Maaf Nek, kami berdua tidak bisa mampir ke rumah Nenek,” jawabku dengan suara ketakutan.

Kami berdua terus berjalan. Meski takut, kami penasaran dan menengok ke belakang. Terlihat seorang  nenek sedang duduk dengan seorang anak bayi. Seorang bapak dan dan seorang ibu terlihat sedang duduk. Kami semakin merinding ketakutan dengan sosok orang-orang itu. Kami pun berlari menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, kami langsung masuk rumah tanpa basa-basi.

Hari berganti pagi. Saat bangun, ayah dan ibu ternyata sudah pulang. Kami langsung bercerita tentang sosok yang kami lihat dekat pohon duku. Kami bercerita dengan penuh rasa takut karena kami mengira itu adalah hantu.

"Itu bukan hantu tapi itu adalah keluarga pengemis. Mereka semua tidak punya rumah jadi mereka membuat rumah di dalam pohon duku karena pohonya besar. Ibu dan ayah juga sering bertemu dengan mereka. Mereka semua itu baik dan ramah. Ibu dan ayah sering memberi buah buahan ," kata ibu dan ayah.

"Oooh, jadi mereka itu bukan hantu? Ternyata keluarga pengemis,” ujar kami sambil tersenyum lega.***


EMPTY WORLD 2

Edit Posted by with No comments

 Neisca Althafunnisa

Ex IX B


Yura terbangun di sebuah tempat yang asing. Ia melihat pemandangan yang belum pernah lihat sebelumnya. Tempat serba abu yang berkabut, tempat yang tidak berpenghuni.

"Ini di mana?"

Yura mulai bangun dari posisinya yang tengkurap. Dia tidak bisa memastikan yang dia tiduri adalah tanah atau aspal, karena teksturnya sangat lembut, seperti tembok yang baru dicat.

Yura berdiri. Dia mulai berjalan dan kehilangan arah. Setiap arah yang dia lewati seperti tempat pertama kali dia datang, berkabut dan membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan apa yang jauh di depan dia.

"HALO?!" Yura berteriak ke arah sembarang. Sementara itu, ia terus berjalan.

Tidak ada jawaban.

Lebih dari lima detik heningnya. Yura kini benar-benar ketakutan. Bernbgai pertanyaan berkecamuk di pikirannya: Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa tersedot ke dunia ini? Apakah tempat ini benar-benar tidak berpenghuni?

"Halo?! Ada orang?!"

Tiba-tiba Yura mendengar teriakan dari arah yang tidak menentu. Teriakan itu terus bergema. Seakan mendapat pencerahan, Yura berteriak kembali sekeras mungkin.

"HALO?! DI SINI!" Yura berusaha mencari sumber suara yang terus menjawab dengan berlari secepat mungkin.

Suara itu semakin mendekat dan semakin jelas. Kini, di hadapannya, Yura melihat seorang gadis yang lebih tinggi dari dia dan bersurai merah.

"Kamu…." gumam gadis itu. Suara yang Yura dengar saat ini sangat familiar, seperti suara yang ia dengar setiap hari.

"Kamu…,” ujar Yura.

"Ah! Yuu, bukan?!" gadis itu memotong perkataan Yura yang membuat Yura terkesiap kaget.tidak main.

"Carrol...?"

"Benar! Sudah kuduga. Sahutan kamu dari kejauhan terdengar sangat jelas. Ini di mana?” Carrol menggaruk tengkuknnya dan terus menatap kiri dan kanan tanpa karuan.

"Carrol. Apa kamu mengingat apa yang kita lakukan di tempat sebelumnya?" tanya Yura tegas.

"Aku? Aku berada di telepon bersama kalian, bukan? kita sempat membicarakan tentang hilangnya Zeta. Lalu kau mengarahkan aku dan Amia untuk membuka file terbaru yang dikirim di hari yang tepat pada hilangnya Zeta. Aku klik filenya, lalu.. monitor ku terang sekali! Sampai membutakan mata lho! Lalu… ah… aku terbawa ke sini." jelas Carrol. Yura mengangguk.

"Aku pun sama. Yang jelas, kau juga terbawa ke sini. Lalu bagaimana dengan Amia..?" Yura baru tersadar dan bertanya-tanya dalamhati apakah Amia juga terbawa ke sini?

"Sebelum aku mendengar suaramu, aku juga mendengar suara orang lain, namun sayup sayup. Sepertinya dia agak jauh. Ahh! Seluas apa sih tempat in—"

"Tidak terbatas," suara perempuan yang lembut muncul dari samping kanan di mana Yura dan Carrol sedang berbincang.

"Apa yang kalian sedang lakukan di sini?" tanya gadis itu. Sorotan iris mata merah milik perempuan itu terasa menusuk. Bulu kuduk Yura tiba-tiba bergetar karena ngeri.

"Zeta?" bisik Carrol.

Perempuan yang berada di hadapan Carrol dan Yura itu berpenampilan seperti anak kelas SMA biasa dengan seragam kuno tahun 1980-an. Rambutnya yang tergolong sangat panjang dan iris matanya berwarna merah.

"Aku tanya sekali lagi, kenapa kalian di sini?" tanya Zeta tegas.

"Tidak, di mana Amia?" potong Carrol.

Zeta menjentikkan jari tengah dan ibu jari milik dia dan menghasilkan suara jentikan yang menggema. Seakan tempat yang tadi di diami itu sedikit bergeser. Tempatnya masih sama, namun posisi yang mereka diami berubah. Sekarang Yura dan Carrol percaya bahwa tempat ini tidak terbatas luasnya.

Sekarang pandangan Carrol dan Yura terdistraksi oleh gadis yang sedang membelakangi mereka. Gadis itu ber rambut pendek di belakang namun memiliki rambut depan yang sedada dan bersurai cokelat muda.  

"Amia..?" sapa Yura dan Carrol.

"Suara ini….” gumam gadis tersebut. “Yura, Carrol?!" Amia menengok ke belakang dan mendapati Carrol dan Yura dibelakangnya.

"Astaga kalian juga terbawa?!" seru Amia. Kantung matanya merah dan hidungnya merah menandakan Amia baru selesai menangis. Amia memeluk mereka berdua dengan senyap. Zeta memandangi mereka di belakang Yura dan Carrol.

"Aku kira kita akan bertemu di kafe asli dan menyebutkan nama asli kita masing masing. Tapi…kita bertemu di sini. Ah! Yang di belakang itu siapa?" Amia melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah Zeta.

"Dia Zeta." jawab Carrol dengan lirih.

"Zeta?!" Amia menghampiri Zeta yang diam dan memegang kedua tangan Zeta.

"Astaga kamu juga terbawa ke sini..? Apa kamu sudah tahu seberapa luas temp—" tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Amia melebur hilang dari mata Zeta bagaikan puzzle yang terpasang dan dihancurkan begitu saja.

"Kalian harus pulang." Zeta menghampiri Carrol dan ikut menyentuh tangan Carrol. Carrol juga menghilang begitu saja.

"Dunia kosong ini… milikku. Kamu sebaiknya tidak ke sini," Zeta hendak memegang tangan Yura namun Yura menghindarinya dengan mundur satu langkah.

"Kenapa? Lalu kau akan hilang begitu saja di dunia nyata?"

"Aku membuat musik di sini—"

"Musik apa?!" Yura meninggikan suaranya.

"LEO. Kau ingat itu? LEO, adalah aku." ucap Zeta.

"Kalian juga harus melupakan aku. Lalu, ya…hapus file kosong itu." Zeta mencengkeram erat lengan Yura. Yura tidak bisa lari lagi sekarang. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan beberapa pertanyaan yang terus menggantung di hatinya.

Sekarang Yura tidak melihat apa-apa selain cahaya yang sangat menusuk mata dan suara dengungan yang keras dan bergema.

"Aaaaaa…..!" Yura berteriak.

Yura membuka mata dia. Dia sadar bahwa dia kembali ke dunia nyata. Dia bahkan sempat mencubit pipinya sekeras mungkin untuk memastikan ini hanya sebatas mimpi. Namun ini nyatanya kenyataan yang harus dihadapi olehnya.

"Yuuu, kamu tidak apa-apa?!" terdengar sebuah suara keluar dari komputer Yura yang sedari tadi menyala.

"Yura! Jawab aku!" suara itu adalah suara Carrol dan Amia.

"Kalian…. sudah kembali dari dunia kosong itu?" tanya Yura dengan penuh kebingungan.

"Dunia kosong apa, sih?"

"Kamu sempat menghilang dari telepon ini.... tidak lama dari itu kamu tiba-tiba berteriak." jawab Amia.

"Ah… oke…. Zeta belum masuk ke discord call? Atau.. Zeta belum kembali?" Yura memijit keningnya. Dia rasanya merasakan pusing yang hebat.

"Zeta?"

"Iya, Zeta, loh…."

"Yura.. band kita hanya tiga orang. Kamu tidak apa-apa? Kau bermimpi buruk? Dari tadi pertanyaanmu tidak masuk akal," jelas Carrol.

"Kau seperti meracau."

Yura kaget bukan main saat kedua temannya tidak mengenali Zeta, bahkan mereka tidak mengingat mereka masuk ke dunia kosong milik Zeta tadi.

Apa Zeta akan selamanya tinggal di sana? Tidak ada tanda-tanda semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya terasa sangat aneh.

"Ah, maaf." Yura menghela nafas sangat panjang. Kemudian ia mengecek file dunia kosong itu. Semuanya masih ada. Yura mengerutkan keningnya dan mengangguk kuat.

“Jika itu maumu, akan kulakukan,” ujar Yura seraya memijit tombol delete.

“KALIAN…ADA FILE BARU ‘UNTITLED 01’, BUKAN? JANGAN DIBUKA. HAPUS SAJA.”

Yolo (Kisah Dua Orang Pengembara Di Negeri Antah Berantah) (Bagian 2)

Edit Posted by with No comments

 M. Farid Rubiansyah

VIII E


                Kurun demi kurun telah berlalu. Joe dan partnernya Emmy berhasil menguasai tanah tak bertuan itu dan membuat kerajaannya sendiri. Persis seperti apa yang tertuang dalam puisi yang ditulis oleh salah satu pelayan dan penyair kesukaan Joe, Mistrole, yang isinya :

"Dialah yang melawan tentara dan membunuh raja mereka

Dialah yang merebut semua tanah mereka dan mencuri pedang milik mereka

Warga desa pura pura menyukai dia

Dan namanya adalah Joe".

                Siang itu, Joe dan Emmy sedang duduk di singgasananya yang megah. Ketika itu mereka menerima seorang tamu dari kalangan orang lokal. Tamu tersebut membawa kabar mengenai sesuatu yang telah terjadi di pusat kota.

                ‘’Apa yang membuatmu datang ke istana ini, rakyat Joeland yang rendahan?" tanya Joe dengan nada angkuh.

                ‘’Ohh, Yang Mulia Pemilik Kerajaan Joeland...," sahut sang warga desa.

                ‘’Eeh…hem!" dehem Emmy agak dipaksakan karena namanya tidak disebut.

                ‘’Dan partnernya yang ia percayakan," timpal sang warga desa sedikit kesal.

                ‘’Sesungguhnya aku membawa berita kurang mengenakkan dari kota kepada Baginda. Sebuah portal ke dunia lain telah terbuka di pusat kota. Semua warga ketakutan, dari dalam portal itu keluar suara yang cukup mengerikan," lanjut sang warga desa.

                ‘’Suara apakah itu?" Joe kembali bertanya.

                ‘’Suara seperti Haaaaa…. Hua……. He……., tapi yang jelas itu suara naga, ya itu naga!," jawab sang warga desa.

                ‘’Naga kau bilang ha. Oh, aku dapat menyelesaikan masalah ini karena akulah yang terhebat dan terbaik di seluruh negeri ini," jawab Joe dengan nada yang sombong

                ‘’Kabarkan berita gembira pada seluruh rakyat di kota, bahwa aku, Joe yang sangat kuat dan penuh keagungan akan mengalahkan naga kecil dan lemah yang kau katakan tadi, bawalah aku ke portalmu itu!" tukasnya.

                Singkatnya, rombongan yang terdiri atas Joe, Emmy, Mistrole, dan sang warga desa itu sampai di tempat yang dituju. Banyak warga telah berkumpul di tempat itu untuk menyambut rombongan.

                ‘’Salam rakyat Joeland yang saya hormati. Sekarang juru selamat kalian telah hadir untuk menghancurkan monster yang kalian telah adukan kepadaku lewat warga berhidung besar ini," sapa Joe kepada seluruh rakyatnya.

                ‘’Juru selamat?" para warga kebingungan.

                ‘’Aku. Akulah juru selamat kalian dari monster lemah yang bersembunyi di balik portal ini,"  Joe kembali menjawab. Kemudian, terdengar sorak sorai warganya saat itu juga.

                Emmy menarik tangan Joe dan mengajaknya berdiskusi, apa Joe memang benar benar sanggup mengalahkan naga itu.

                ‘’Jadi, kau sanggup tidak mengalahkan naga itu ?," tanya Emmy.

                ‘’Apa?Beraninya kau mempertanyakan keberanianku ini ?"  jawab Joe.

                Kemudian suara naga keluar dari mulut portal. Membuat Joe terkejut dan melompat ketakutan. Ia hanya bisa melihat Emmy tersenyum melihat respon temannya itu.

                Emmy berpikir bahwa Joe mungkin sebenarnya tidak bisa melakukan ini semua, dia hanya melakukan akting berani di depan warganya karena gengsi. Sebenarnya yang membantunya mendapatkan semua tanah di negeri itu adalah dirinya sendiri, namun Joelah yang menikmati sorak sorai dari warganya yang payah. Semuanya, harta, tahta, dan ketenarannya di masyarakat telah membuat Joe lupa daratan, menjadikannya pribadi yang awalnya pengecut dan penakut menjadi angkuh dan sombong dengan tidak menghilangkan rasa penakut dan pengecutnya itu. Mungkin sudah saatnya Joe mendapat balasan karena keangkuhannya dan kesombongannya itu dengan membiarkan ia masuk ke dalam portal itu.

                “Baiklah warga Joeland yang setia, sekarang aku akan masuk ke dalam untuk mengalahkan naga itu, ini hanya perlu waktu lima menit saja!”, tungkas Joe.

                Joe pun masuk kedalam portal itu disusul Emmy, Mistrole membuntuti mereka dari belakang. Di sana, Joe terkejut melihat bahwa mereka bertiga ada di sebuah tanah nan kering dimana mereka dapat melihat kekosongan dan kehampaan di bawah tanah itu. Joe melihat sesuatu yang membuatnya respon mengeluarkan pedang nya dan membunuh se4suatu tersebut.

                “Ya, akhirnya kita membunuh naga itu dan menyelesaikan daftar yang ingin kita lakukan selagi hidup," ucap Joe dengan bangganya menoleh ke arah Emmy di belakangnya.

                “Tunggu, kau pikir itu naga?" tanya Emmy.

                “Jadi seperti apa naga itu?," Joe berbalik menanya.

                ‘’Nah, seperti itu!" jawab Emmy terkejut.

                Joe menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia bahwa yang ia lihat adalah naga yang besar, membuatnya melemparkan pedangnya ke belakang dan membuatnya berteriak sejadi-jadinya.

                “Hai, namaku Joe. Senang bertemu kau!," sapa Joe terbata bata.

                Naga itu menghembuskan nafasnya ke arah Joe, membuat nyalinya ciut. Dia berlari ke belakang menghampiri Emmy dan Mistrole. Sementara, naga itu terbang tinggi mendekati mereka, membuka mulutnya dan mengeluarkan api yang sangat besar yang mengarah kepada mereka berdua.

                ‘’Awass!!!’’ teriak Joe. Ia memeluk erat Emmy, menghindarkan mereka berdua dari nafas naga.

                ‘’Cepat, kita harus berbuat sesuatu sebelum naga itu kembali!" desak Joe.

                Untuk sesaat, Emmy merasa bahwa Joe sudah mampu mengatasi kepayahannya dalam bertempur. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu bisa setegas itu mengungkapkan keberaniannya. Mungkin karena Joe sangat menikmati pertempuran ini. Kini, ia harus mengikuti apa yang di perintahkan oleh sahabatnya itu.

                Emmy menembakkan beberapa anak panah ke arah naga itu, sedangkan Joe menaiki sebuah gunung untuk bisa menaiki naga itu dan menusuknya. Namun, ketika ia sampai di puncak gunung, ia melihat Mistrole sedang berdiri mengamati naga itu.

                “Hei, sedang apa kau disana?," tanya Joe keheranan.

                ‘’Aku sedang mengamati naga itu. Sebenarnya aku kasihan melihat Emmy sendirian di bawah sana melawan naga itu. Kau pula sedang apa disini?," ucap Mistrole berbalik bertanya.

                ‘’Aku sedang membantu sahabatku itu, dengan cara seperti ini…..!!!," seketika itu juga Joe melompat dari atas ketinggian ke tubuh naga itu. Ia sudah menusuknya, namun, kekuatan naga itu sangat besar, ia tidak mati juga. Naga itu menggoyang goyangkan badannya, membuat Joe terjatuh ke bawah.

                ‘’Joe, kau tidak apa apa?," ucap Emmy merasa khawatir pada kondisi Joe.

                ‘’Aku baik baik saja," sahut Joe.

                ‘’Kelihatannya, kekuatan naga itu terletak pada batu permata yang ada di kepalanya. Ia menyerap kekuatan batu permata itu, kita harus menghancurkan batu itu!," ucap Emmy mengernyitkan matanya pada batu permata yang ada pada kepala naga itu sambil membantu kawannya itu berdiri.

                “Sudahlah, aku sudah percayakan semuanya pada MIstrole, dia akan menangani semua ini," ucap Joe dengan tenangnya.

                Sementara itu di atas gunung. Mistrole melompat ke arah naga itu, ia berhasil mendarat di tubuh naga. Ia mencabut pedang yang telah tertusuk di tubuhnya sebelumnya, kemudian berjalan dengan tertatih tatih ke arah kepala naga itu. Ia akan menusuknya tepat di tempat batu permata itu berada. Sebelum menusuk, ia berkata kata untuk yang terakhir kalinya.

                ‘’mereka tidak cukup dan tidak akan pernah cukup untuk membayarku melakukan ini !!!." Kemudian, dia menusuk permata yang ada di naga itu. Naga itu berhenti menyerang Joe dan Emmy. Naga itu mengapung dan terus mengapung, hingga akhirnya meledak. Membuat Mistrole terpental sangat jauh ke langit dan kemudian jatuh ke tanah dengan cepatnya.

                Setelah kondisi aman. Joe pun berteriak ‘’Yah. Akhirnya kita berhasil mengalahkan naga itu".

                Emmy berdehem dan berkata “Ya, meskipun bukan kau yang menghabisi naga itu. Yang menghabisinya adalah Mistrole;. Tunggu, dimana dia?," lanjutnya dengan nada keheranan.

                Mereka terus mencari Mistrole dan akhirnya mereka menemukannya tergeletak di tanah. Hari itu akan selalu mereka ingat, penyair dan pelayan yang baru saja menyelamatkan mereka dari marabahaya dan selalu mengagung agungkan nama mereka berdua di mata masyarakat telah berpulang ke pangkuannya yang memiliki hidup.

                Sebagai penghormatan terhadap pelayan mereka yang selalu mereka marahi dan caci. Joe dan Emmy pun sepakat untuk menamai tanah itu sebagai “Mistroland”. Mereka menangis sebagai rasa bangga karena mereka sudah menyelesaikan daftar keinginan mereka sekaligus sebagai rasa sedih karena mereka baru saja kehilangan orang yang paling mereka percayai.

                “Sudahlah, kita hanya bisa bersabar untuk itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kejadian ini akan terjadi!," hibur Emmy untuk menghilangkan rasa sedih Joe.

                “Iyah, aku tahu itu. Kita harus bisa bangkit setelah semua yang kita alami hari ini. Hai, bagaimana kalau kita buat daftar keinginan baru yang berisi apa saja yang ingin kita lakukan seperti ikut kelas dansa atau mengikuti pertunjukan sirkus, bagaimana ha..?," ujar Joe terdengar menyarankan.

                “Terus bermimpi Joe, teruslah bermimpi yang indah," sahut Emmy.

               

Tammat

 

               

 

 

Rumah Kosong

Edit Posted by with 1 comment

Putri Nuraini 

IX C 



 <a href='https://id.pngtree.com/freebackground/an-abandoned-house-in-sepia-in-the-field_3140185.html'>foto latar belakang gratis dari id.pngtree.com/</a>

'BRAKKK' suara keras muncul dari dapur rumah rumah kosong itu.

"Suara apa itu?" tanya Ophelia

"Aku tidak tahu. Mending kita pulang saja. Aku takut" Ella ketakutan. Ella terus menempel pada Ophelia dan memegang tangannya dengan erat.

Tiba tiba mereka baru sadar bahwa Opal tidak ada di samping mereka.

"Hey, ke mana Opal?" tanya Ian

"Tadi dia di sini. Tapi, kemana dia sekarang? Apa dia diculik oleh hantu?" Ella merinding ketakutan.

Pada suatu hari Ophelia dan Opal berpikir untuk uji nyali di rumah kosong yang tidak jauh dari rumahnya. Rumah kosong itu sangat besar dan halamannya sangat luas. Sayangnya, rumah itu tidak terurus dan menjadi terlihat sangat menakutkan, banyak rumput liar dan pohon yang besar.

"Ayo kita coba uji nyali di rumah kosong itu," Ophelia mengajak Ella dan Ian.

"Aku ngikut saja," jawab Ian sambil fokus bermain game di ponsel nya.

"Gak mau ah, takut," Ella mendengar nya langsung merinding ketakutan.

"Kita ke rumah kosong itu hanya sebentar saja. Aku hanya ingin membuat vidio dan dikirim ke media sosial. Aku yakin tidak akan ada hantu. Walaupun ada, itu pasti akan menyenangkan," canda Opal. Opal juga berencana untuk membuat vidio dan dikirim ke media sosial agar  viral.

"Tapi..., Baiklah, aku ikut dengan kalian. Tapi, hanya sebentar saja. Janji, ya?" Ella merasa khawatir dan takut

"Janji, hanya sebentar saja. Lagipula aku hanya penasaran dengan rumah kosong itu. Kita akan ke sana jam 17:00 ya," Ophelia menentukan jam untuk pergi ke rumah kosong itu.

Ian dan Opal setuju. Ella masih ragu ragu dan takut . Tapi, Ella tetap tersenyum dan mengangguk kecil.

Saat sudah jam 17:00 mereka sudah berkumpul di depan gerbang rumah kosong itu. Ophelia membuka sedikit gerbangnya dan masuk. Teman-temannya mengikutinya dari belakang. Ella masih berdiri di luar gerbang dan gemetar ketakutan. Ella memutuskan untuk mengikuti teman temannya dan masuk ke dalam  dan meraih tangan Ophelia agar tidak tersesat.

"Apa kalian sudah siap untuk masuk ke dalam rumahnya?" tanya Ophelia.

"Aku sudah siap" Opal memegang ponsel dan mulai merekam.

“Ayo masuk"  Ian memegang senter. Ella mengangguk

Ophelia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah itu. Mereka disambut dengan bau melati yang sangat menyengat di hidung mereka. Ella merinding ketakutan. Saat melihat ke atas tangga, terlihat ada sosok perempuan, dengan pakaian putih. Wajahnya pucat. Badannya melayang. Kedua matanya menatap ke arah Ophelia dan Ella seperti marah. Kemudian melesat ke lantai atas.

“Teman teman, seperti nya kita harus pulang," Ella merinding ketakutan. Ia tidak menceritakan bahwa dia melihat sosok perempuan.

“Kita baru saja masuk. Tidak seru jika langsung pulang. Walaupun ada bau bunga melati, kita bersama-sama. Jangan takut." Opal mencoba menenangkan Ella

“Firasatku tidak enak. Tapi ayo coba jelajahi rumah ini," Ophelia mulai berjalan memimpin dan melihat barang-barang di rumah tersebut.

                “Barang-barangnya mewah, pasti mereka orang kaya." Ian melihat barang-barang yang berlapis emas di lemari kaca.

“Kamu benar. Tapi, kenapa barang-barang ini tidak dicuri ya?" Tanya Opal.

                “Aku pernah mendengar cerita dari warga. Katanya pernah ada yang mengambil satu barang di rumah ini, lalu orang itu tiba tiba menghilang dan tidak di temukan sampai sekarang," jawab Ophelia

'BRAKKK' suara keras muncul dari dapur rumah itu

“Suara apa itu?" tanya Ophelia

“Aku tidak tahu. Mending kita pulang saja. Aku takut." Ella ketakutan. Ella terus menempel pada Ophelia dan memegang tangannya dengan erat.

“Hey, ke mana Opal?" tanya Ian.

“Tadi dia di sini. Tapi, ke mana dia sekarang? Apa dia diculik oleh hantu?"  Ella merinding ketakutan.

“Kita harus cari Opal," Ophelia berbicara dengan tegas.

“Ophelia, bagaimana kita mencarinya?" tanya Ian

“Apa kalian mau berpencar?" tanya Ophelia

“APA! BERPENCAR? TENTU SAJA AKU TIDAK MAU!" jawab Ella sambil berteriak dan menutup matanya.

“Ya, akan lebih berbahaya jika kita berpencar. Bagaimana kalo kita mencarinya bersama?" Ajak Ian

“Itu ide yang bagus," Ophelia dan Ella setuju.

Mereka kemudian mencari Opal ke segala ruangan di lantai bawah. Sayangnya, mereka tidak menemukan Opal.

“Hari sudah semakin gelap. Tapi, Opal belum ketemu. Bagaimana ini?" Ella khawatir

“Jangan putus asa. Kita belum memeriksa lantai dua" jawab Ophelia

“Tapi... tapi lantai dua itu," Ella menghentikan kata katanya dan ketakutan.

  “Ada apa dengan lantai dua?" tanya Ian

“T...tidak" Ella menjawab dengan gagap

Saat itu, Ophelia memutuskan untuk mencari Opal ke lantai dua. Saat sampai di lantai dua mereka masuk ke setiap kamar. Saat masuk ke kamar paling pojok yang ada di rumah itu, mereka melihat Opal tidak sadarkan diri. Mereka langsung ke arah Opal dan menepuk pipinya.

“Opal, bangun! Opall" Ophelia, Ella dan Ian sangat khawatir. Di saat mereka khawatir, tiba-tiba pintu menutup dengan sangat keras 'BRAKKKK' mereka bertiga terkejut dan saling berdekatan.

“Aku takut sekali, aku ingin pulang," rengek Ella

“Tenang, jangan takut, kita akan segera pulang." Ian mencoba menenangkan Ella. Sementara Ophelin mencoba membangunkan Opal. Setelah beberapa menit, akhirnya Opal terbangun.

“Akhirnya kamu bangun. Ayo, kita harus keluar dari rumah ini," ujar Ophelia

Opal mengangguk dan bangun. Mereka mencoba membuka pintu, namun pintu tidak bisa dibuka. Mereka berempat terjebak di kamar itu. Mereka mulai ketakutan dan saling berdekatan. Tiba-tiba ada bau anyir yang menusuk hidung mereka.

“Bau sekali." Mereka menutup hidung. Saat mereka melihat ke atas, mereka dikejutkan dengan nampaknya beberapa pocong dengan muka hancur dan berlumuran darah. Mereka ketakutan dan memejamkan mata. Ella meneteskan air mata dan memeluk Ophelia. Ophelia merasa penasaran dan membuka matanya perlahan. Saat membuka matanya dia benar-benar kaget karena di depannya terlihat ada sosok dengan wajah yang benar-benar mengerikan. Wajah sosok itu hancur dan  dia menyeringai ke Ophelia. Ophelia merasa badannya membeku. Ian, Opal, dan Ella membuka matanya. Mereka juga melihat sosok itu. Mereka terkejut dan pingsan. Ophelia yang masih sadar mencoba untuk bergerak. Tapi saat Ophelia mencoba bergerak sosok itu mendekati Ophelia dengan cepat dan menghilang. Lalu, sosok itu tiba-tiba muncul di depan wajah Ophelia. Ophelia pun pingsan.

Saat mereka sadar, mereka melihat sekeliling ternyata itu rumah Ophelia. Mereka melihat hari sudah terang dan melihat warga berkumpul.

Sejak saat itu,  mereka tidak berani lagi menginjakkan kaki ke rumah itu atau uji nyali.

Tamat

08 October 2023

Thank You Mom and Dad

Edit Posted by with No comments

Delvan Satria Kustiadi

9C


Ibu...

Engkau yang melahirkanku

Kau yang membesarkanku

Dengan semua pengorbananmu 

Agar aku menjadi anak yang berguna


Ibu, kau tidak menyatakan lelah

Untuk merawatku

Kau adalah malaikatku

Selalu sabar mengahadapiku


Ayah...

Kutahu kau selalu penat

Setelah seharian peras keringat

Untuk menafkahkan keluarga

Dan untuk membahagiakan aku


Ayah... Ibu...

Kalian adalah pahlawanku

Terimakasih Ayah...Ibu...

Kalian sudah berjuang untuk merawatku setiap hari

Melewati berbagai rintangan yang sulit untuk membesarkanku 


Ayah ... ibu...

Maafkan aku 

Karena sering membantah 

Ayah ... ibu...

Aku sayang kalian berdua

05 October 2023

Serenity

Edit Posted by with No comments

Dea Mustika, Ex. 9I


                                                            https://id.pinterest.com/pin/794111346768138753/

Gadis itu menyalakan korek api, membakar sumbu lilin aroma terapi yang beberapa minggu ini selalu ia ganti dengan rutin. Tidak ada alasan khusus dari kegiatannya, hanya sekedar mencoba menghilangkan bau dari obat-obatan yang sebenarnya sudah menjadi ciri khas dari rumah sakit.

Iris berwarna abu-abu miliknya menelisik seisi ruangan. Ruangan tersebut menjadi saksi bahwa hampir selama hidupnya ia akan menghabiskan waktu di dipan rumah sakit, bertarung dengan kanker darah yang sudah mencapai stadium akhir. 

Arunala tidak menyesal karena terlahir di dunia. Ia bersyukur diberi kesempatan untuk bisa bernapas, menghirup udara, atau sekedar memperhatikan hujan di balik jendela. Ibunya juga sibuk. Jarang sekali ia menjenguk atau bertanya kabar walau hanya lewat aplikasi pesan yang ada di handphone.

Arunala memegang ujung rambutnya yang semakin tipis, menariknya pelan, membuat beberapa helai rambutnya berjatuhan ke atas selimut dengan mudah. Ia menghela napas pelan. Sepertinya ia harus mencukur rambutnya.

“Jangan menariknya, La.” 

Arunala mengalihkan atensi, melirik pria yang berdiri di ujung ruangan yang menatapnya dengan penuh iba. 

Namanya Rin. Ia telah menjadi teman Arunala sejak kecil. Arunala hanya sekedar tahu nama dan umurnya. Saat ditanya data diri yang lain, Rin hanya akan menjawab bahwa ia sudah lupa. 

“Rin, kira-kira berapa lama lagi aku hidup?”

Rin tidak menjawab. Ia masih diam di sana, memperhatikan Arunala yang terlihat rapuh. Kakinya beranjak, mendekat ke bangsal, kemudian duduk di kursi dekat Arunala. 

“Entahlah, aku yakin kamu bisa hidup lebih lama. Buktinya sampai sekarang kamu masih hidup walau sudah berkali-kali bertanya hal yang sama dari tahun ke tahun."

Arunala ingin mempercayai kalimat itu. Namun, seiring berjalannya waktu, penyakit yang ia derita tak kunjung membaik. Masa kecilnya ia habiskan dengan bolak-balik menginap di rumah sakit, pemeriksaan rutin, terapi, dan lainnya. Membuatnya hampir tidak memiliki teman satupun. Teman-temannya di rumah sakit satu persatu mulai kembali karena sembuh, tapi dirinya masih di sini. Terbelenggu di atas garis takdir antara hidup dan mati.


“Kamu itu orang aneh ya, Rin. Selalu muncul tiba-tiba. Dulu, saat aku melamun di taman rumah sakit, kamu juga tiba-tiba datang dan mengajakku berteman.”

Rin hanya tersenyum getir. Tangannya terulur mengambil sebuah potongan apel di atas nakas lalu memakannya. "Kamu juga aneh. Bisa-bisanya mau mengobrol denganku."

Arunala tertawa pelan. “Aku mau jalan-jalan keluar, Rin. Kamu bisa membantuku?" 

Rin mengangguk. Ia mengulurkan tangan, membantu Arunala turun dari dipan, menuntunnya menuju pintu keluar hingga Arunala merasa bahwa ia sudah cukup sanggup untuk berjalan sendirian. Sementara Rin kembali ke dalam ruangan, membawa jaket yang di tersimpan di dalam laci. Kemudian kembali menghampiri Arunala yang menunggu di depan ruangan. 

Cuaca cerah hari itu. Arunala merasakan hangat dari pancaran sinar matahari saat ia baru saja keluar menuju taman rumah sakit. Ia berjalan menghampiri bangku di tengah taman, berniat duduk di sana. Di sana telah duduk seseorang. Arunala melirik ke arah orang itu. Dia seorang gadis, terlihat sedikit lebih tua darinya. Kedua tangannya penuh perban, iris matanya yang berwarna hazel terlihat redup, memandang lurus dengan tatapan kosong. Seolah tak ada semangat yang memancar dari hidupnya. 

“Kau tidak nyaman aku duduk disini?"

Arunala tersentak ia dengan cepat menggelengkan kepala. “Tidak, tidak. Aku nyaman-nyaman saja," ujarnya dengan nada panik.

“Orang-orang di sini memang aneh.”

Kalimat itu menarik atensi Arunala, membuatnya menatap gadis itu. “Siapa namamu?” tanyanya.

Dia melirik Arunala. “Sheya,” balasnya singkat.

Arunala tersenyum tipis. “Aku Arunala. Kalau dia namanya Rin.” Arunala menunjuk ke arah Rin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.

Sheya mengangkat alisnya, melihat ke arah yang ditunjuk Arunala. Mencoba melihat apa yang ia perkenalkan. 

“Di sana kan kosong.” 

Arunala tersentak. Ia hanya tersenyum kikuk, membuat Sheya lagi-lagi merasa bahwa anak ini lebih aneh dari hidupnya. 

“Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?” Arunala berusaha mengalihkan topik. 

“Dua hari yang lalu.”


Arunala mengangguk paham. “Aku terkena kanker darah. Kalau kamu kenapa?”


Sheya terlihat berpikir. “Nadiku hampir putus.”

Arunala menoleh kaget ke arah Sheya. Ia kehabisan kata-kata sekaligus merasa bingung harus membalas perkataan Sheya dengan kalimat apa. 

“Aku memotongnya. Tidak usah merasa bingung.” Sheya tiba-tiba melanjutkan kalimatnya. Ekspresinya terlihat tenang, seolah itu bukan hal yang besar.

Rin yang sedari tadi diam, mengerutkan dahi. Ia ikut tertarik pada obrolan mereka berdua. Kemudian ia duduk di samping Arunala, membuat Arunala bergeser lebih ke tengah. 

“Kenapa kamu melakukan hal itu itu?" nada suara Arunala terdengar sangat hati-hati, was-was bila sekiranya ternyata itu pertanyaan sensitif bagi Sheya. 

“Tubuhku ini tidak berguna. Orang tuaku terus-terusan bertengkar hebat hanya karena uang. Aku hanya menambah beban mereka dalam pengeluaran rumah tangga. Aku juga tidak punya bakat. Aku dijauhi teman-temanku di sekolah, entah apa alasannya. Ibuku menyuruhku mati setiap waktu. Ayah sering memarahiku karena katanya hidupku ini hanya semakin menambah beban mereka.”

Arunala mendengar kata demi kata yang dilontarkan Sheya. Ia menatap Sheya yang dengan mudahnya menceritakan kisah hidupnya yang terdengar menyayat hati. 

“Rumah sakit itu tempat yang jelek. Kemarin sore aku mendengar suara tangisan penuh pilu di ruangan sebelah kanan, tapi aku juga mendengar tangisan penuh tawa bahagia di ruangan sebelah kiri. Aku bisa melihat banyak orang mati-matian bertahan hidup walau dengan tubuh mereka yang tidak sehat ataupun sekarat. Sementara aku sibuk mencoba membunuh diri karena merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hidup.” Sheya terlihat marah. Tangannya meremat celana yang ia kenakan.

“Manusia itu tidak punya kehendak untuk memilih takdirnya. Kita sama-sama terbelenggu pada satu garis takdir yang sama. Memperjuangkan kewarasan saat hidup sudah tak lagi terasa berguna, mati-matian menahan diri untuk tetap bernafas walau rasanya sakit setengah mati. Perihal kamu ingin mati itu bohong. Kamu ingin hidup dengan lebih layak. Namun takdir lebih suka bermain-main.”

Sheya tak lagi menjawab. Ia menatap lurus ke arah langit yang menjadi berawan. Mereka sama-sama diam selama hampir sepuluh menit, hingga rintik hujan tiba-tiba jatuh menyapa kulit mereka. 

Sheya berdiri. “Aku duluan, ya. Terima kasih sudah menemaniku.”

Arunala melambaikan tangan ke arah Sheya yang semakin menjauh dari pandangannya. Akhirnya ia ikut beranjak dari sana, berniat kembali ke ruangannya. 

“Rin, kamu itu sepertinya awet bicara sekali, ya.”


Rin melirik Arunala, ia tidak menjawab. Atensinya ia alihkan kembali ke lorong rumah sakit yang sepi. Hampir tidak ada orang berkeliaran seperti biasanya. 

“Kurasa kamu harus mencari teman baru yang lebih nyata,” ujar Rin tiba-tiba.

Arunala menghentikan Langkah. Ia menoleh ke arah Rin, membuat Rin ikut menghentikan langkah. Arunala menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”

“Cari teman baru.”

“Jangan bercanda, Rin. Aku takut. Seharusnya kamu tahu. Dulu aku juga punya teman. Tapi mereka tidak pernah datang walau hanya sekedar untuk menjengukku. Mereka semua melupakan dan meninggalkanku, termasuk Ibuku. Bahkan ia tidak menanyakan kabar anaknya membaik atau memburuk."

“Tapi, kalau kamu terus berbicara denganku, kamu harus—"

“Sudah cukup. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kepalaku sudah terasa pusing," potong Arunala.

Arunala beranjak dari sana, meninggalkan Rin yang masih terdiam mencerna perkataan Arunala. Iris matanya memandang Arunala dengan sedih, seolah banyak kata yang tertahan hingga berakhirnya di pendam. 


***


Kendati hujan masih belum berhenti, tetapi setidaknya langit sudah tidak mendung. Cahaya perlahan muncul dari sela-sela awan. Hujan tidak sederas dua jam lalu. Pupil Arunala melebar. Ia sedari tadi diam memandang hujan dari balik jendela. Matanya menatap ke arah langit. Ada pelangi di sana, terbentang lebar menghiasi langit yang masih terhias hujan. 

Ini pertama kalinya Arunala melihat Pelangi. Saat kecil ia hanya bisa melihatnya di buku dongeng. Bentang pelangi itu terlihat indah. Lebih indah dari yang ada di buku gambar favorit dia saat berumur 5 tahun. Dari dulu dia selalu banyak berdiam diri di kamarnya, tidak pernah ikut sekolah umum, dan jarang keluar karena stamina tubuh yang sangat buruk. Ibunya rutin mengirim buku baru sebagai hadiah, hingga banyak buku cerita bergambar yang masuk dalam koleksi bukunya. 

Namun ibu tidak tahu betapa kesepiannya Arunala kala itu. Dulu orang tuanya pulang seminggu sekali untuk mengajak Arunala bermain. Tapi, semenjak Ayahnya dikabarkan meninggal karena kecelakaan, ibunya hanya pulang sebulan sekali karena sibuk bekerja di luar kota. Bahkan, kadang tidak pulang sama sekali hingga bulan selanjutnya. 


Arunala tidak memiliki teman ataupun peliharaan. Ia hanya tinggal berdua bersama pembantu di rumahnya. Lima bulan lalu, pembantunya mengundurkan diri karena suaminya sudah mempunyai pekerjaan tetap.

“Lihat apa, Nala?”

Atensi Arunala teralih. Ia membalikkan badan, melihat suster Kinan berdiri di depan pintu. Arunala tidak menghampirinya, hanya menoleh sembari tersenyum tipis. 

“Ada apa, kak Kinan? Kan aku sudah diperiksa sudah sama suster yang lain tadi.”

Dia menggeleng pelan. “Aku hanya ingin memberitahu bahwa ibumu akan datang malam ini.”

Arunala terdiam. Ini kali kedua Ibunya datang menjenguknya selama tiga bulan ini. Arunala mengangguk sebagai jawaban, kemudian kembali menatap ke arah jendela. Kemudian terdengar suara pintu yang tertutup, tanda bahwa suster itu sudah pergi dari ruangannya.

Pelanginya sudah hilang. Arunala menghela napas, bergerak naik ke atas dipan, mencari posisi nyaman, menarik selimut hingga ke leher lalu menutup mata. Ia menunggu gelap atau bunga tidur menjemputnya.

***

Arunala mengerjapkan mata, merasa silau dengan lampu terang yang berada di atasnya. Ia menguap pelan, menggerakan badannya yang terasa pegal. Terdengar suara ketikan laptop yang mengisi ruangan itu, membuat Arunala menelisik sekitar ruangan. Di kursi ujung ruangan ada ibunya, sibuk bekerja dengan laptop ditemani tiga kaleng soda yang sepertinya sudah habis. 

“Bagaimana keadaanmu, Aruna?” Dia tidak menatap Arunala, masih sibuk dengan laptop di depannya. 

“Baik, Ibu. Sejak kapan Ibu ada di sini?" Kesadaran Arunala belum sepenuhnya pulih. Ia masih merasa pusing, pandangannya juga masih temaram.

“Sejak dua jam yang lalu.”

Arunala melirik jam dinding, melihat waktu yang hampir menyentuh pukul sepuluh malam. Ia tidur hampir 7 jam. 

“Apakah tidak masalah? Kelihatannya Ibu sibuk. Aku baik-baik saja bahkan jika aku sendirian, Ibu bisa datang lagi saat Ibu merasa lebih senggang,” ujar Arunala dengan ragu.

Ibunya melirik Arunala. Tangannya membetulkan kacamatanya yang mulai melonggar. “Kamu mengusir ibu?”


Arunala menepuk dahinya, “Bukan begitu. Lupakan saja. Ibu sudah makan?”

Ibu Arunala menutup laptop. Ia mengangkat plastik makanan.

“Ibu baru saja memesan makanan. Kamu mau? Ini favoritmu.”

Arunala memandang makanan itu dengan berbinar. Sudah lama ia tidak memakan makanan lain selain masakan yang di sajikan rumah sakit. Arunala mengangguk antusias sebagai jawaban. Ibunya tertawa melihat putrinya, sudah lama sekali ia tidak melihat putrinya terlihat sesenang itu.

Makanan itu adalah ayam goreng. Ibunya memberikan bungkus ayam goreng ke pangkuan Arunala. Lalu ia duduk di samping Arunala, memperhatikan Arunala yang semakin terlihat kurus dan pucat.

“Ibu melihat banyak bekas tisu yang berwarna merah di tong sampah. Itu milikmu?”

Arunala mengangguk. “Tadi siang aku sempat mimisan dan batuk darah, tapi itu bukan masalah besar. Tenang saja Ibu, aku pasti sembuh. Kalau aku tidak ada kan, tidak ada yang mewarisi harta Ibu," ujar Arunala sembari tertawa.

Ibunya hanya menggelengkan kepala. Anaknya memang susah ditebak. Setidaknya, melihat anaknya bisa tertawa seperti ini, membuatnya merasa lebih tenang. 

“Di sini ada memar baru?" Ibu menunjuk siku Arunala dan menyentuhnya dengan hati-hati. 

“Oh itu tidak sengaja mengenai meja, tapi tidak sakit.”

“Lebih berhati-hati Arunala. Ibu teringat kamu saat kecil, tubuhmu hampir dipenuhi memar karena terjatuh."

Arunala tertawa. “Aku bukan anak kecil lagi, Ibu!”

Mereka menghabiskan waktu dengan bercanda dan mengobrol, hingga makanan Arunala habis. Ibunya mengecek jam di jam tangannya. Ia mengelus kepala Arunala. Sudah hampir jam dua belas malam. 

“Ibu harus pulang. Ibu langsung datang ke sini saat sampai di kota. Ibu harus membereskan rumah karena bi Dara sudah tidak bekerja di rumah lagi. Ibu harap kamu mengerti."


Arunala mengangguk, ia tersenyum tipis mendengar Ibunya, "hati-hati di jalan, Ibu."


"Jaga diri selagi Ibu sibuk, Arunala pasti sembuh, Ibu yakin anak Ibu kuat." 


Dia mengecup dahi Arunala, kemudian berjalan menjauh menuju pintu keluar. Tangannya melambai, garis senyum di wajahnya tertarik membentuk senyum yang sudah lama Arunala rindukan. Arunala ikut melambaikan tangan dengan ceria, lalu pintu itu tertutup. 


Dan seluruh pertahanan Arunala yang sudah ia tahan sejak tadi, runtuh. Air matanya jatuh, dadanya sedari tadi terasa sesak, suara isakan tangisannya ia tahan setengah mati. Hingga sebuah tangan mengusap punggungnya. 


Arunala melirik sang pelaku, ada Rin disana. Duduk di samping ranjang, menatap Arunala dengan senyum tipis. Hingga membuat pertahanan Arunala luruh sepenuhnya, isakan tangisnya sudah tak lagi ia tahan, segala keluhannya ia ungkapkan dalam tangisan yang sedari tadi ia tahan. Rin tidak bersuara, ia hanya diam membiarkan Arunala yang terisak sembari menarik ujung bajunya. Diam-diam Rin menyimpan rasa iba yang besar, tangannya ia gunakan untuk menarik Arunala ke dalam dekapannya, membiarkan bajunya basah karena air mata.


Hampir dua jam hingga tangisan itu reda dengan sendirinya. Tergantikan oleh hembusan nafas yang teratur.


***


"Sheya!"


Gadis yang dipanggil menoleh, ia menatap bingung ke arah Arunala yang berlari ke arahnya. 


"Kamu sudah mau pulang?" tanya Arunala.


Sheya mengangguk, ia mengangkat tasnya, "sudah seminggu aku di sini. Lagian aku sudah baik-baik saja. Setelah dari sini aku akan pulang ke rumah nenekku." 


Aruna mengangguk mengerti, "syukurlah. Kuharap kamu lebih bahagia disana. Oh iya, aku ada sesuatu untukmu."


Aruna memberikan kalung perak dengan bandul berbentuk kupu-kupu berwarna biru gelap. Sheya mengangkat alis, bingung dengan maksud Arunala.


"Jangan lupakan aku, ya!"


"Tanpa kamu memberi ini pun, aku pasti tidak akan melupakanmu." 


"Sudahlah, terima saja Sheya! Kemarin aku kesusahan tahu, aku sampai memaksa izin untuk pergi keluar!"


Sheya tertawa kecil mendengar nada Arunala, ia menerima kalung itu, dan memakainya di depan Arunala. 


"Gimana nih? Cocok ngga?"


Arunala mengangguk ceria, ia mengacungkan jempol ke arah Sheya, "ternyata benar, kalung itu akan sangat cocok denganmu, Shey!"


"Terimakasih, aku sangat menyukainya. Tapi sepertinya aku sudah dijemput, jaga diri baik-baik ya, Arunala. Aku akan menjengukmu kapan-kapan." Sheya berjalan mendekati perempuan yang menunggunya di dekat parkiran, dia melambaikan tangan ke arah Arunala, membuat Arunala tersenyum senang. 


Mobil itu berangkat, dan mulai hilang dari pandangan Arunala.


"Pulang lagi," gumam Arunala.


Ia kembali berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Sialnya, tubuhnya mendadak merasa lelah, ia mengusap hidungnya saat merasakan sesuatu mengalir dari sana.


"Ah, berdarah." Dengan cepat Arunala menghapus jejak darah itu sembari menutup hidungnya, namun tiba-tiba kakinya terasa berat, hingga gelap perlahan menghampirinya. Suara orang-orang samar-samar terdengar panik. Pendengaran Arunala seperti teredam air. Tak lama, suara-suara itu ikut hilang bersama kesadaran Arunala.


***


Arunala membuka pandangannya, dia merasakan seseorang menggenggam tangannya. Arunala terbatuk karena merasa tenggorokannya sangat kering.


"Arunala, kamu sudah bangun?" Suara Rin.


Arunala mencoba untuk duduk, tangannya ia gunakan, untuk menjadi tumpuan, Rin dengan sigap membantunya untuk duduk. Lalu dia menyodorkan gelas ke arah Arunala, menawarinya minum. Dengan segera Arunala menerimanya, meneguk air tawar itu hingga habis.


"Syukurlah kamu bangun. Haruskah ku pencet tombol ini?" tanya Rin sembari menunjuk tombol yang bisa memanggil dokter. 


Arunala menggeleng sebagai jawaban, ia masih merasa lelah dan pusing, setidaknya dia ingin waktu untuk mencerna situasi.


"Ini sudah pagi Rin?" tanya Arunala dengan nada serak.


Rin mengangguk, "lebih tepatnya sudah pagi ke-lima sejak kau pingsan di depan rumah sakit.


Arunala memasang wajah terkejut, " aku pingsan selama lima hari?!"


"Iya."


Arunala menepuk dahinya, "kalau begitu pencet tombol itu. Setidaknya aku harus tahu bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhku."


Rin menurut. Tak lama hingga dokter datang di antar oleh suster Kinan. 


Mereka berbincang sebentar, sembari mengecek kondisi Arunala. 


"Kamu harus lebih hati-hati. Kondisimu berbahaya." 


Kalimat singkat itu mampu membuat Arunala terdiam, ia hanya tersenyum tipis. Kegiatan ini tidak berlangsung lama, hingga dokter dan suster itu pergi dari ruangan. Meninggalkan Arunala yang masih bingung mencerna situasi.


Tapi satu hal yang sudah ia pastikan, umur hidupnya tidak lama lagi sampai ia mati.


"La, kudengar disini akan ada acara. Seperti acara penghormatan karena beberapa anggota militer yang mati ataupun sekarat." 


"Loh, kok mereka bisa terluka? Memangnya ada perang? Di tahun modern seperti ini?"


Rin mengangkat bahu tak acuh, "Ada negara yang menyerang kita, aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh negara ini hingga bisa menjadi konflik yang besar. Tapi katanya itu hanya ancaman, jadi bukan masalah besar. Ada juga yang bilang konfliknya sudah selesai."


Arunala berdehem, ia mengangguk mengerti pada penjelasan Rin. Lalu menatap Rin dengan senyum polos sembari tertawa kecil, "Rin, aku lapar." 


Rin menggelengkan kepala, ia mengambil handphone milik Arunala untuk memesan makanan. Dengan modal searching 'makanan orang sakit.'


"Rin, saat kita bertemu, kamu sudah sebesar ini, bahkan umurmu masih sama, kan? Kenapa umurmu tidak bertambah? Parasmu juga tidak berubah. Kamu masih sama sejak kita bertemu 9 tahun lalu."


Rin berdehem, "aku juga tidak tahu." 


Arunala menghela napas, ia sudah menebak jawaban itu. Jadi dia tak kembali membalas ucapan Rin.


"Rupanya Arunala masih belum sadar," gumam Rin dengan nada suara yang sangat pelan. 


***


Hari sudah menjelang sore, tadi siang rumah sakit sangat berisik karena di penuhi oleh orang-orang. Ini sudah hampir dua minggu sejak Arunala bangun dari pingsan, dan hari ini adalah acara penghormatan. Arunala mendesis sebal seharian karena ada banyak anak-anak berteriak kegirangan hanya karena tentara yang berjajar rapih di depan rumah sakit. Ia menghela napas lega saat acara itu selesai. Suasana yang tentram telah kembali.


Hari ini Arunala sudah mimisan empat kali, membuat beberapa suster mengkhawatirkan keadaannya. Arunala merasa sangat lemah.


Arunala melirik keluar jendela, menyaksikan langit berwarna jingga yang disebut senja. Ibunya belum kembali berkunjung, begitu juga dengan Sheya. Rin juga seharian ini tidak muncul. Arunala jadi merasa sangat kesepian.


Tiba-tiba lantai bergetar hebat, seperti ada gempa. Membuat Arunala berjalan ke arah pintu, memegang knop pintu dengan erat supaya tidak jatuh. Teriakan dan tangisan panik dari orang-orang membuat jantung Arunala berdesir hebat, ia khawatir, dan takut. Semua perasaannya tercampur. Namun tak lama getaran itu berhenti. 


Alarm kebakaran tiba-tiba menyala, membuat kebisingan yang lebih hebat dari sebelumnya, Arunala membuka pintu keluar, ia melihat sekelompok orang berlarian menuju tangga darurat. Lorong ruangan itu sudah sepi, hanya tertinggal Arunala disana. Atau mungkin dengan beberapa orang yang tidak bisa beranjak dari bangsalnya, karena terdengar isakan dan teriakan minta tolong dari beberapa ruangan yang pintunya tertutup.


Tubuh Arunala sempoyongan, getaran itu kembali menyapa lantai rumah sakit disusul suara membentur yang sangat amat keras. Sisi kanan rumah sakit ini roboh, membuat Arunala bisa dengan leluasa melihat langit yang sudah mulai membiru.


Sialnya kali ini getarannya lebih hebat dari sebelumnya, di susul dengan suara dentuman yang sangat keras. Membuat Arunala takut setengah mati. 


"Tuhan...ada apa ini...?" gumam Arunala. 


Arunala menyentuh dinding. berjalan sembari menekan kedua tangannya ke dinding. Kedua kakinya kambuh, membuatnya lebih sulit untuk dibawa bergerak. Mulut Arunala tidak bisa diam, berkali-kali ia rapalkan doa sembari terus berjalan menuju tangga hingga ia berhasil mencapainya. 


"Tuhan, tolong berpihak kepadaku," gumamnya.


Namun sepertinya dunia tidak mendukung. Suara runtuh dari bangunan itu semakin keras, hingga pertengahan anak tangga kaki Arunala terasa mati rasa sepenuhnya, telinganya berdenging hebat, hidungnya lagi-lagi mimisan, tubuhnya sudah tak memiliki tenaga, nafasnya terasa sangat sesak, jantungnya berdebar hebat. Setengah mati ia pertaruhkan kesadarannya. Ia memaksa kedua tangannya bergerak memukul kedua kakinya untuk memaksanya bergerak. Rin ada di bawah tangga, menatap Arunala dengan tatapan yang benar-benar iba.


"Rin! Tolong bantu aku!" 


Rin menggeleng, "maaf, La." Suaranya serak dan bergetar.


"Rin..? Kenapa?" Tangisan Arunala pecah, ia benar-benar takut setengah mati. Ia tidak mau mati. Setidaknya biarkan dia mengobrol dengan Ibunya untuk terakhir kali. Arunala terbatuk, ia merasakan amis di lidahnya, itu darah. Darah dari hidungnya saja masih belum berhenti mengalir. 


Arunala menggeleng kuat, pandangannya semakin temaram, "Rin! Kamu temanku kan?! RIN!"


Rin masih diam disana, "aku tidak bisa menyelamatkanmu, karena sedari awal, aku tidak ada di dunia ini." 


Arunala menggeleng tidak mengerti, tangisannya semakin pecah saat merasakan tangannya jadi ikut mati rasa sepenuhnya. Ia berusaha turun dengan mendorong tubuhnya, nihil atap rumah sakit itu roboh tepat di atas Arunala. Gelap menyambut pandangan Arunala disusul dengan sakit yang menabrak seluruh badannya.


"Tuhan...sakit sekali...." gumamnya sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.


***


Langit saat itu sangat cerah, suasananya sangat hangat. Bisa membuat siapapun merasa nyaman. Ada yang bilang suasana di seperti ini itu enaknya pergi keluar untuk berjalan-jalan dengan keluarga atau teman, menciptakan rasa bahagia karena langit juga sedang bahagia.


Gadis itu melangkah lebih dekat, menyimpan bunga di atas gundukan tanah yang masih baru. 


"Apakah ini artinya langit bahagia atas kepergianmu?" gumamnya.


Surai hitam legamnya tertiup angin. Ia menarik napas panjang. Bahunya bergetar sejak ia menginjakan kaki di tempat ini, tempat dimana ia akan menjenguk Arunala untuk pertama kalinya. 


"Bukan tempat ini. Bukankah aku sudah janji akan menjengukmu di rumah sakit? Kenapa kamu malah membawaku kesini?" Nada suaranya bergetar, seolah menahan tangis.


Suasana di sana sangat senyap, hanya tersisa gadis ini dengan sebuah makam baru yang bertuliskan Arunala. 


Sheya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia tertawa pelan disusul air mata yang mengalir tanpa bisa dibendung.


"Jahat, Arunala. Bukankah aku yang ingin mati? Kenapa malah kamu lebih dulu pergi?" Ia terisak, tangisannya terdengar lebih pilu dari suara ayam yang disembelih. 


"Rin, imajinasi buatanmu itu, dia bahkan lenyap bersamamu." Sheya teringat pada Rin.


"Arunala, kuharap kamu lebih bahagia di surga."


Ocehan demi ocehan Sheya luapkan hingga langit berubah menjadi jingga. Sheya tidak pernah tahu, bahwa kehilangan seseorang akan menjadi sesakit ini. Bila ia bisa ke masa lalu, ia akan ke rumah sakit pada hari itu untuk membawa Arunala lari dari sana. 


Sheya tahu, Arunala pasti mati. Walaupun penyebabnya bukan tertimbun reruntuhan. Tapi setidaknya, Sheya ingin Arunala mati dengan lebih menyenangkan. 


Seperti semilir angin saat itu, Arunala seolah duduk disana, mendengarkan Sheya dengan seksama. Sembari sesekali tersenyum, ia tertawa kecil melihat Sheya yang terisak di depan makamnya. Setidaknya Sheya harus tahu kalau Arunala tidak merasa sakit lagi. 


Dan dia sudah tidak butuh Rin lagi untuk menjadi temannya. 


***


Sticky Notes:

• Rin hanya imajinasi buatan milik Arunala. Diciptakan tidak sengaja karena Arunala merasa sangat kesepian. Bisa dibilang ini penyakit mental. Arunala membuat Rin saat berumur 7 tahun.

• Arunala merasa Rin sangat berharga karena hanya Rin temannya yang masih ada menemaninya hingga saat ini.

• Rin tidak memiliki nama lengkap. Umurnya 16 tahun. Tubuhnya tinggi, sekitar 186cm. 

• Semua perlakuan Rin hanyalah imajinasi Arunala semata, seperti misalnya, Rin mengambil potongan apel dari piring Arunala dan memakannya. Namun, bila dilihat dan dihitung kembali, jumlah apel sama sekali tidak berkurang. Semua perlakuan Rin juga hanya imajinasi semata. Bila dilihat orang lain, Arunala mengerjakan semuanya secara mandiri atau oleh Arunala sendiri.

• Arunala Home Schooling sejak kecil. Dan dia dirawat oleh perawat hingga berumur 13 tahun. Arunala mudah mendapat memar. Saat kecil ia sering terjatuh hingga terdapat banyak memar di sekujur tubuhnya.

• Ayah Arunala meninggal sejak Arunala berumur 6 tahun karena terlibat kecelakaan lalu lintas.

• Walau hanya bertemu sekali, Sheya dan Arunala sama sama berpikir bahwa pertemuan mereka sangat berarti.

• Rin tahu dan sadar bahwa dia hanya sekedar imajinasi milik Arunala. 

• Arunala juga mengikuti terapi mental, sehingga Rin sangat khawatir padanya. Rin berharap Arunala menemukan teman baru, karena Rin tahu, kalau Arunala sembuh, dia akan lenyap.

• People come and go.

Quotes

Edit Posted by with No comments

Nabila Tresiana, Ex. 9G


1. Jika kamu tidak punya penyemangat jadikanlah masa depanmu sebagai penyemangatmu.


2. Janganlah menyerah. Itu hanya akan membuatmu terlihat lemah. Teruslah maju agar semuanya berubah.


3. Jangan berharap kepada manusia karena manusia mudah berubah. 


4. Teruslah berjuang sampai impian kita tercapai. Jangan menyerah di tengah jalan karena itu hanya akan membuat menyesal di masa depan.


5. Jika kamu merasa lemah, bangkitlah dan terus berusaha agar berubah menjadi kuat.


6. Jika kamu merasa lelah, ingatlah hal yang membuatmu senang agar lelahmu hilang.