31 October 2025

Menata Kembali Hidup

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 9E


   Berhari-hari Vio merasa dirinya kurang fokus dalam belajar. Entah dari segi manapun. Hanya raganya yang hadir, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ia seperti hidup dalam kabut.


   "Kamu kenapa, Vio? Belakangan ini kamu kelihatan nggak fokus," tanya Qila, sahabat dekatnya.


   Vio terdiam, lalu bergumam dalam hati.


   "Iya juga, ya? Kenapa aku akhir-akhir ini nggak fokus sama sekali."

   "Aku juga nggak tahu, Qil," jawab Vio.


   "Aku lihat kamu juga gampang capek. Ada yang kamu pikirin?" tanya Qila sekali lagi.


   "Nggak tahu," jawab Vio singkat.


   Bel istirahat berbunyi. Vio dan Qila langsung melipir ke kantin. Sesampainya di sana, mereka memesan makanan. Qila memilih sayur dan buah seperti biasanya. Sementara Vio mengambil semangkuk bakso super pedas, tanpa peduli perutnya yang sudah sering bermasalah.


   "Wah! Itu pedas banget, loh!" seru Qila.


   "Ah, ini mah nggak ada apa-apanya buat aku," sahut Vio santai.



   "Tapi itu nggak sehat, Vi. Kamu tuh harus jaga badan juga," ucap Qila mengingatkan.


   Tapi Vio tetap mengabaikannya dan mulai menyantap makanannya. Qila yang merasa diabaikan, hanya bisa menghela napas lalu fokus pada makanannya sendiri.



---


   Bel pulang berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Vio merasa sangat lelah dan mengantuk. Badannya remuk, padahal jam olahraga hanya sebentar.


   Langit mulai gelap. Siang perlahan berganti malam. Vio yang seharusnya tidur justru sibuk bermain ponsel sambil tiduran. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi ia tidak memedulikannya. Ia tak tidur semalaman dan pagi harinya langsung berangkat ke sekolah.


   Saat pelajaran berlangsung, rasa kantuk menyerangnya hebat.


   "Vio! Kenapa kamu tidur? Keluar sekarang juga!" ucap Bu Lena dengan tegas.


   Vio tersentak dan meringis, lalu berjalan keluar kelas dengan lesu.


   Hari demi hari berlalu. Vio tetap berlaku seperti itu: begadang di malam hari dan tidur saat sedang belajar di sekolah. Tidak ada perubahan. Orang tuanya mulai kesal. Begitu juga Qila yang hampir setiap hari menasihatinya. Tapi semua nasihat seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan.


   "Ini memang udah jalanku kali, Qil. Takdir aku kayak gini," ucap Vio suatu hari.


   Ucapan itu membuat Qila kecewa. Ia lelah. Ia pun berhenti mencoba, berhenti peduli.


---


   Beberapa hari setelahnya, saat di kantin..


    "Qila," panggil Vio dengan suara pelan.


    "Iya?" jawab Qila datar sambil menyuap makanannya.


    "Aku capek. Aku ingin berubah. Aku sadar… ini semua bukan takdir. Aku yang bikin semua ini jadi kebiasaan buruk."


   Qila langsung menoleh, terkejut.


    "Apa? Kamu serius, Vio?"


    "Iya, Qil. Tapi aku bingung harus mulai dari mana."


   Qila tersenyum lega.


    "Kamu tinggal mulai dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat!" jawab Qila antusias.


    "Apa itu?" tanya Vio penasaran.


    "Yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu."


   Vio mengangguk ragu.


    "Tapi...aku gak yakin bisa," ucap Vio.


    "Kamu pasti bisa! Aku percaya sama kamu. Yuk, mulai bareng-bareng!" ucap Qila sambil tersenyum.


   Hari itu, Vio pun berjanji untuk berubah. Ia mulai menerapkan tujuh kebiasaan itu dengan perlahan.



---


   Dua bulan berlalu...


   Fokusnya kembali. Semangatnya semakin menyala. Kebiasaan buruknya juga pelan-pelan mulai menghilang. Sekarang, ia menyadari bahwa perubahan itu nyata. Tujuh kebiasaan itu bukan hanya rutinitas, tapi fondasi yang penting untuk masa depan.


    “Aku sadar, kebiasaan baik bukan hanya membuatku sehat, tapi juga membuat hidupku lebih bermakna,” pikir Vio sambil tersenyum memandang langit pagi.***

30 October 2025

Hutan Terlarang

Edit Posted by with No comments

Penulis: Mahardika

Kelas: 7J


Aku pergi ke hutan untuk mencari binatang yang bisa dijual. Banyak orang melarangku untuk menangkap binatang di hutan itu. Tapi aku tetap pergi ke sana.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba sesosok tinggi besar mengejarku. Aku tak tahu salahku apa sehingga dia mengejarku dengan penuh amarah. Aku sangat ketakutan dan badanku penuh dengan keringat dingin.


Aku berlari sekencang mungkin dan aku juga terjatuh berkali-kali karena kelelahan. 


Saat aku menoleh ke kiri, aku melihat sebuah cahaya putih. Seketika pandanganku gelap. Aku membuka mataku sedikit. Samar-samar aku melihat sosok tinggi itu melambai kepadaku lalu menghilang. Aku terbangun dan merasa diriku sehat seperti tidak terjadi apa-apa, akupun menghela nafas lega dan kembali ke rumah. 


Saat kembali ke rumah, aku bingung mengapa ada bendera kuning di depan rumahku. Akupun masuk ke dalam rumah dan melihat keluargaku sedang menangis.

 "Mengapa kalian semua menangis? Apa yang terjadi?" tanyaku dengan penasaran. Hening, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawabku. 


Lalu aku melihat sesosok tubuh yang ditutupi kain. Aku  penasaran siapa orang di balik kain itu. Dengan rasa penasaran, aku pun membuka sedikit kain yang menutupi wajahnya. Deg! Dadaku terasa sesak dan perasaanku tak karuan, seolah semua ini hanya mimpi. Betapa tidak! Orang di balik kain itu adalah diriku sendiri.

24 October 2025

Sifaka Berdiadem

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Sabrina Syahraztany Alkubro 

Kelas: 9B



Guys, pernah denger nama sifaka berdiadem nggak? Kalau belum pernah, sini aku kasih tahu! Kalau udah pernah? Ya…baca aja deh hehe, biar kamu bisa tahu lebih dalam mengenai sifaka berdiadem!

Sifaka berdiadem(Propithecus diadema), atau simpona berdiadem, atau diademed sifaka dalam bahasa inggrisnya adalah salah satu spesies lemur yang hanya dapat kita temukan di pulau Madagascar lho, dan semua spesies sifaka ini terancam, mulai dari genting hingga terancam kritis.

Kok bisa ya, dinamai sifaka berdiadem? Asal-usulnya dari mana sih? Nah, untuk kata ‘sifaka’ itu diambil dari panggilan tanda bahaya mereka yang khas, yaitu “shi-fak” dan untuk diadem itu diambil dari primata tersebut yang memiliki pola warna putih keperakan di atas kepalanya yang terlihat seperti mahkota atau diadem atau ikat hias kepala yang dipakai oleh para bangsawan! 

Oh iya! Mau tahu gak, tentang deskripsi lebih dalam mengenai fisiknya? Kita jelaskan lebih dalam ya guys…

Nah, spesies ini tuh merupakan salah satu dari dua jenis lemur terbesar, dengan bobot rata-rata yaitu 6,5 kg dan panjang total dewasa sekitar 105 cm, di mana setengahnya adalah ekor. Russel Mittermeier yang merupakan salah satu ahli lemur kontemporer, mendeskripsikan sifaka berdiadem ini sebagai “salah satu yang paling memikat dan berwarna di antara semua lemur”, memiliki bulu yang panjang seperti sutra. Spesies ini juga, dikenal dengan nama Malagasy-nya, yaitu simpona, simpony dan ankomba joby. Eh, Malagasy itu apa ya? Nah, Malagasy itu adalah bangsa Malagasi, yaitu suatu bangsa yang terdiri dari berbagai kelompok etnis dan merupakan penghuni asli Madagaskar. Dan spesies ini tuh berada dalam famili Indriidae.

Daftar Pustaka:

Sifaka berdiadem. (t.t). dalam Wikipedia diakses pada 8 Maret 2025 dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sifaka_berdiadem#:~:text=Sifaka%20berdiadem%20(Propithecus%20diadema,yang%20endemik%20ke%20Madagaskar%20timur.

Orang Malagasi. (t.t). dalam Wikipedia diakses pada 8 Maret 2025 dari https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Malagasi.

Safira, Nur Aulia. 2024. “6 Fakta Diademed Sifaka, seperti Memakai Ikat Kepala Hias Bangsawan”. IDN Times, 2 Mei 2024, dilihat 8 Maret 2025. https://www.idntimes.com/science/discovery/nur-aulia-safira/fakta-diademed-sifaka-c1c2.

NN. 2008. “SELAMAT DATANG DI… “…MADAHUHA?””. dalam MAJALAH Sigma “Aku Orang Berilmu!”, 2008, h. 18-21.

Bulu-bulu Gagak

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Axelia Yurizaki 

Kelas: 8H


Di sebuah kamar yang besar dan megah, terlihat seorang pria yang sedang membaca buku di atas kasurnya. Namanya adalah Valerius Nyx Raven Holt, atau yang lebih dikenal dengan Val. Val merupakan pangeran dari Kerajaan Ravenholt. 


  Ia sedang membaca buku novel kesukaannya, yang menceritakan perjalanan kesatria-kesatria kegelapan. Val sudah membaca buku itu berkali-kali. Dia terlihat begitu serius membacanya. Karena salah satu karakter kesukaannya yang merupakan seorang calon pewaris kerajaan sedang bertarung mempertaruhkan nyawanya melawan seorang ratu legendaris, lalu... 


"Augh! Hah... yang benar saja...," Val terdengar sangat kecewa dan kesal akan sesuatu.


"Kenapa sih semua karakter kesukaanku kebanyakan harus mati? Mana lagi diubah jadi gagak." Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya.


Selagi ia meratapi nasib karakter kesukaannya itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Val menoleh ke arah pintu, lalu terdengar suara seorang wanita paruh baya dibaliknya. 


"Yang mulia, makan malam telah siap. Yang lain sudah menunggu di ruang makan," ucap pelayan itu dari luar.


"Baiklah, saya akan segera kesana," Val sedikit berteriak agar pelayan itu bisa mendengarnya. Ia melirik jam di dinding dan benar saja ini sudah waktunya untuk makan malam.


Sang pelayanan yang mendengarnya pun pergi. Suara langkah kakinya menggema ke sepanjang lorong. Val menutup novelnya, ia beranjak dari kasurnya dan menyimpan novel itu di rak buku miliknya. Val tiba tiba sekilas mendengar suara gagak namun ia hiraukan hal itu karena ada banyak gagak di sekitar kerajaan. 


Ia sekarang sedang berjalan menyusuri lorong-lorong kerajaan. Jarak kamarnya dan ruang makan cukup jauh, jadi ia terkadang malas jika harus berjalan jauh hanya untuk makan saja. Terlebih lagi pengawal pribadinya sedang mengambil cuti untuk beberapa hari. Sungguh menyebalkan. 


Ia terus menuruni anak tangga yang rasanya tidak ada habisnya sebelum ia akhirnya sampai di ruang makan. Di dalam sudah ada saudara-saudaranya dan beberapa pelayan. Val duduk di kursi miliknya. Semua orang menunggu untuk sang raja untuk datang. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin berbicara dengan satu sama lain. 


Beberapa saat kemudian seseorang memasuki ruangan. Sang raja telah tiba, semua orang di ruangan tersebut langsung memberi hormat kepadanya. 


"Sepertinya kalian sudah menunggu cukup lama ya?" tanya sang raja. Mereka pun mulai makan. 


Di pertengahan acara makan mereka. Sang raja mengumumkan bahwa ia akan menunjuk salah satu dari mereka untuk menjadi penerusnya.


Semua orang di ruangan itu terdiam. Setelah beberapa menit keheningan yang menusuk itu, Raja akhirnya menunjukkan seseorang. 


"Valerius. Kaulah yang akan mewarisi tahta kerajaan," ucap sang raja. Val terkejut ketika mendengar namanya disebut. 


"Apa? Ayahanda kenapa harus saya?" tanya Val. 


"Kau adalah anak yang baik dan ayah tidak bisa mempercayai saudara-saudaramu." Seluruh ruang kembali hening. Val bisa merasakan tatapan tajam dari saudara-saudaranya. Val lama kelamaan kehilangan nafsu makannya dan pamit untuk pergi ke kamarnya lebih dulu. 


Val akhirnya sampai di kamarnya namun ia terkejut ketika menemukan kamarnya yang tadinya rapih menjadi hancur berantakan. Namun, yang menarik perhatiannya adalah sehelai buru gagak yang terletak di tengah-tengah kamarnya. 


"Apa-apaan ini?!" Val mencoba untuk menenangkan dirinya dan memanggil pelayan untuk membersihkan kamarnya. 


Beberapa bulan kemudian, Val sudah lupa dengan kejadian itu. Ia lebih memikirkan apa yang harus ia lakukan karena besok adalah hari dimana ia akan secara resmi diangkat menjadi seorang pewaris kerajaan.


Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Val sedang berjalan menuju kamarnya, ia ingin segera tidur. Ketika sampai, ia langsung menutup pintu dan melemparkan dirinya ke atas kasur dan mencoba untuk tidur. 


Sekarang sudah lewat tengah malam dan Val masih tidak bisa tidur karena ia terus mendengar suara-suara bisikan seorang wanita yang terus-menerus memanggilnya. 


Pada akhirnya Val yang sudah tidak kuat memutuskan untuk mencari sumber suara itu. Ia berjalan menyusuri kerajaan mencoba mencari sumber suara wanita itu. 


Di perjalanan ia sesekali mengintip keluar jendela dan melihat bulan purnama merah yang menerangi malam itu. 


Val mendengar suara itu semakin jelas ia yakin bahwa ia semakin dekat dengan sumber suara tersebut, Ia berjalan menuju aula. Suara itu sekarang sangat jelas. 


Val melihat seekor gagak yang sedang terbang mengelilingi langit-langit aula kerajaan terus menerus. 


Tiba-tiba gagak itu berhenti terbang mengelilingi langit-langit dan berdiam diri ditengah-tengah aula. Val mencoba mendekat. Namun, sebuah cahaya tiba-tiba mengelilingi gagak  dan ia seketika berubah menjadi seorang wanita paruh baya. 


Val sangat terkejut akan hal Itu. Lalu ia teringat dengan cerita yang ada di buku novelnya. Wanita ini sangat mirip dengan ratu yang mengubah karakter kesukaannya menjadi gagak. 


"Jadi kau calon pewaris yang baru?" Wanita itu tiba-tiba bertanya kepada Val. Val hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan. 


"Hmm.. mari kita lihat apakah kau pantas untuk menjadi seorang pewaris di kerajaan ini." Wanita itu menjulurkan tangannya dan seketika ada banyak bulu-bulu gagak tajam yang mencoba untuk melukai Val. 


Val berhasil menghindari bulu-bulu itu. Namun, tiba-tiba ada lebih banyak bulu yang bermunculan. Val mencoba untuk menghindari semua bulu-bulu itu namun nihil tetap saja ada bulu yang berhasil mengenainya. Val kembali dibuat terkejut karena bagian yang tergores buku itu mulai ditumbuhi bulu gagak sedikit demi sedikit. 


"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan bulu-bulu gagak yang indah itu?" tanya wanita itu secara tiba-tiba.


"Jika kau terus tergores oleh bulu-bulu itu hingga fajar, kau akan berubah menjadi seekor gagak sedikit demi sedikit," lanjut wanita itu.


Val yang mendengarnya mencoba untuk menghindari semua bulu itu namun karena ia terlalu panik ada beberapa bulu yang berhasil mengenainya. 


Val sadar waktu fajar masih terlalu lama dan ia sudah merasa sangat lelah. Bulu-bulu terus mengenainya dan kesadaran Val menghilang sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya ia tak kuat lagi dan pada akhirnya ia berubah menjadi seekor gagak seutuhnya. 


END.

18 October 2025

Aku adalah Pelangi

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Muslimah

Kelas: 9D

"Wah hujan." Ririn bergegas menuju kursi di mana saudara kembarnya berada.

    "Reno Reno!!" Ririn duduk di sebelah saudara nya itu sambil menatapnya. Reno yang menyadari hal itu menatap kembali Ririn. Ririn hanya tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya.

   "Ada apa Ririn?" Reno bertanya cukup lembut kepada saudaranya itu, karena jika ia naikkan sedikit saja nada bicaranya maka Ririn akan kesal lalu menangis. Ririn memang anak yang cengeng, manja dan juga nakal, namun ia sangat penurut kepada kakaknya.

  "Reno ayo main hujan-hujanan mumpung sekarang sedang hujan!" Ririn turun dari kursinya lalu mulai melompat-lompat sambil menunjuk keluar jendela. Ia memasang wajah imutnya untuk membujuk saudaranya agar ikut bermain hujan bersamanya.

  "Reno ayolah ayolah. Aku mohon...." Reno tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya mengangguk kepada Ririn.

   "Wahhhh... yeyy...asikkk kita bermain hujann!!" Ririn melompat-lompat kegirangan dengan jawaban kakaknya. Kemudian ia menarik tangan kakanya untuk meminta izin kepada ibu agar bisa bermain hujan.

    "Ibu... Ibuuu Ririn akan bermain hujan-hujanan yaaa...." Ririn tersenyum tak henti. Tangannya masih menggenggam erat tangan kakaknya. Setelah ibu memberikan izin, Ririn berlari keluar sambil tertawa. Reno ikut tertawa.

Mereka berdua kini bermain hujan-hujanann bersama.

 "Reno kemarilah... duduk disini di sebelah Ririn." Ririn menepuk-nepuk tempat disebelahnya. "Coba berbaring seperti ini agar hujannya terasa di wajah. Ini menyenangkan...hihihi...," ujar Ririn sambil tertawa tanpa henti

   Reno mengikuti apa yang adiknya itu suruh. Setelah agak lama bermain, hujanpun mulai reda. 

  "Reno tahu tidak?" 

  "Tahu soal apa?" 

   Ririn tersenyum lalu melihat langit yang mulai terang.

   "Ririn pengen deh jadi pelangi," ujar Ririn sembari menatap kakaknya dengan senyuman di wajahnya.

 "Kenapa Ririn pengen jadi pelangi?" Reno bertanya.

   "Karena Ririn ingin membawa kebahagiaan untuk orang yang sedang bersedih. Jika hujan reda, selalu ada pelangi sampai semua orang yang sedang bermain hujan melihat kagum dan tersenyum. Mereka bahkan bisa lupa kalau mereka sedang bermain hujan saat melihat pelangi itu. Sama halnya dengan Ririn. Ririn ingin membawa kebahagiaan jika orang di sekitar Ririn sedang sedih agar rasa sedih mereka terlupakan. Apa Reno mengerti?" Ririn berbaring di rerumputan itu sambil memejamkan mata.


 "Iya, Reno mengerti," ujar Reno.


   Ririn tak tahu bahwa dirinya sudah menjadi pelangi di keluarganya. Dengan adanya Ririn, keluarga mereka tak pernah sepi. Itu yang selama ini Reno rasakan. Mereka memang saudara kembar tapi Reno merasa Ririn adalah orang spesial yang dikirim oleh tuhan untuk dirinya dan keluarganya yang harus mereka jaga

Setangkai Bunga

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Balqis Aurelita Rahmat

Kelas: 7J

  Di sebuah taman, aku melihat beberapa remaja berpasangan. Mereka membuatku iri dengan keromantisan mereka.

 "Membuatku kesal saja!" ucapku sambil mengepalkan tangan

"Andai saja kekasihku masih hidup, pasti kami akan menjadi pasangan paling romantis!" ucapku dengan nada sombong. 


Akupun berjalan dengan kesal. Saat sedang berjalan, aku tidak sengaja menabrak seseorang. 

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja!" ucapku dengan perasaan bersalah.   

   Bukannya marah, orang yang kutabrak malah tertawa.

   "Hai...apa kabar, Sayang?" ucapnya sambil menyodorkan setangkai bunga.

     "K...kamu..?" ucapku terkejut. Tiba-tiba seluruh badanku gemetar. Betapa tidak!Kekasihku berdiri di depanku. Tapi, bukannya aku ikut mengantar jenazahnya ke kuburan 2 minggu yang lalu? Lalu, siapa yang berada di hadapanku sekarang?

17 October 2025

Krisan untuk Diriku Sendiri

Edit Posted by with No comments

Penulis: Ilmira Ramadhani

Kelas: 7J

   Di suatu sore, aku sedang berjalan-jalan setelah pulang dari sekolah. Rambut panjangku yang terurai tertiup angin. Aku berjalan santai sambil memperhatikan barang-barang yang berjejer di toko-toko di pinggir jalan. Aku berhenti sejenak saat melihat toko bunga. Kakiku tiba-tiba melangkah ke arah toko itu. Saat aku masuk, hidungku mencium aroma wangi dari berbagai bunga.

   Aku melangkah mencari bunga yang menarik. Langkahku terhenti ketika melihat bunga krisan berwarna putih dan kuning. Entah mengapa aku merasa tertarik pada bunga krisan itu. Padahal, menurut informasi, bunga krisan berwarna putih dan kuning melambangkan kabar duka cita. Setelah mengambil bunga, aku pergi ke kasir untuk membayar. Setelah membayar, aku langsung keluar dari toko. Aku kembali melangkahkan kakiku dengan pikiran kosong.

  Saat sedang berjalan, aku bertemu teman-teman sekelasku yang sedang asik berbincang. Aku menyapa mereka ramah. Tetapi tak satupun dari mereka membalas sapaan dariku. Aku berpikir, mungkin mereka sedang marah padaku ataupun tak melihat aku. Dari arah belakang, terdengar suara ramai. Aku membalikkan badan. Benar saja, orang-orang terlihat ramai sambil mengerumuni sesuatu di tengah jalan. Aku melangkah cepat menghampiri kerumunan itu. Betapa terkejutnya aku. Di sana, tubuhku tergeletak tak bernyawa dengan darah segar mengalir dari pelipis. Badanku gemetar karena terkejut. Aku melihat tanganku mulai memudar dan lama-kelamaan menghilang seperti debu tertiup angin. Ternyata, sore ini aku tewas tertabrak mobil saat akan menyebrang.

Jeritan dalam Hujan

Edit Posted by with No comments

Penulis: Dhiya Silmi 

Kelas: 9H


Arulla terbangun di pagi hari. Ia terbangun karena suara hujan yang begitu deras. Ia menarik nafas dalam-dalam sembari melihat ke halaman depan rumahnya yang basah oleh hujan. Rumah yang begitu sunyi. Dan suara hujan terus turun tanpa henti.


Ia kemudian pergi keluar kamar dan hanya duduk di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. Tayangan televisi menunjukan sebuah berita orang-orang yang menghilang begitu saja.


"Ck! Berita ini lagi." Kesalnya sembari mematikan televisi.


Di tengah malam, Arulla pergi keluar dari rumahnya tanpa memakai payung ataupun jas hujan. Padahal malam itu hujan belum berhenti. Semua orang menatapnya aneh.


"Hei, anak muda! Kenapa kamu berani keluar malam-malam sendirian?," ucap seorang pria asing yang mengikutinya dari belakang.


Arulla tidak mendengarkan, ia tetap berjalan tanpa peduli perkataan pria asing itu.


"Kamu mengabaikanku? Dasar wanita aneh," pria asing itu mendorong kepala Arulla dengan kasar.


Arulla terlihat kesal, tapi ia tetap berjalan. Pukul 2 malam, Arulla kembali ke rumahnya dengan membawa sebuah koper besar. Ia membawa koper itu ke dalam rumah dengan hati-hati. Keringat membasahi kening Arulla, ia terus membawa koper besar itu dengan terengah-engah. Lalu ia meletakkan koper itu di ruangan rahasianya.


Saat dibuka, ternyata itu adalah pria asing tadi. Tubuhnya terbaring paksa di dalam koper. Tangannya terikat. Mulutnya ditutupi kain. Nafasnya terengah-engah. Arulla membuka kain yang menutupi mulut pria asing itu, mata pria asing itu langsung tertuju pada mata Arulla.


"Aku minta maaf. Tadi hanya bercanda," ucap pria asing itu sambil memohon.


Tetapi Arulla tidak peduli, koper itu ditutup kembali. Malam itu, Arulla tidur bersama suara hujan dan jeritan pria asing itu.

Untuk Ayah dan Ibu

Edit Posted by with No comments

Penulis: Dhiya Silmi

Kelas: 9H


Rumah berantakan. Pecahan piring berserakan di lantai. Suara bentakan memenuhi udara.


Ayah... Ibu... mengapa kalian harus berpisah? apakah kalian tidak saling mencintai lagi? ataukah kalian memang sudah tidak menginginkan anak ini?

sejak hari itu, kalian meninggalkan luka yang dalam di hatiku.


"Aku nggak tahan lagi hidup denganmu! kita cerai saja!"

Teriak ibu. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.


Ayah membalas dengan nada yang sama, penuh amarah.


"Baik! Kita cerai saja! Jangan harap aku membawa anak ini!"

Lalu, ia pergi tanpa menoleh lagi.


Hatiku hancur. Seharusnya, di usiaku yang masih remaja, aku mendapatkan kasih sayang, bukan makian. Jika memang aku yang menghancurkan rumah tangga kalian, aku minta maaf. Aku ikhlas jika harus menghilang dari dunia ini.


Ayah, terkadang aku iri melihat anak-anak lain yang punya sosok ayah sebagai panutan dalam hidupnya.

Ibu, aku juga iri melihat anak-anak lain yang memiliki ibu penuh kasih sayang. Sedangkan aku? Hanya hidup sendiri di jalanan, tanpa siapa-siapa.


Ayah... Ibu.... Sungguh, aku sangat mencintai kalian. Tapi mengapa kalian membenciku? mengapa kalian tega menyebutku "anak bodoh"? tidakkah kalian sadar bahwa kata-kata sekecil itu telah menggores hatiku dan meninggalkan trauma dalam hidupku?


Saat anak-anak lain tertidur dengan elusan lembut di kepala dan kecupan di kening dari orang tua mereka, aku hanya bisa memeluk diriku sendiri di trotoar yang dingin. Saat mereka tertawa bahagia bersama keluarga, aku hanya bisa menangis dalam kesepian.


Aku selalu berharap memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Tapi harapan itu kini terkubur dalam-dalam, karena aku tahu, itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Sosok di Balik Cermin

Edit Posted by with No comments

Penulis: Siti sopiyah 

Kelas: 7j 


    Saat aku sedang duduk di depan meja rias, aku menyisir rambut panjangku yang hitam dan terurai. Rambut rontok banyak terlihat di sisir. Aku mengambil rambut rontokku lalu menggulungnya. Kemudian kutaruh di laci meja rias. 

   Aku melihat sekilas ke arah cermin. Terlihat sosok berambut panjang namun wujudnya tampak gelap. Aku menengok ke belakang untuk memastikan benar atau tidaknya penampakan sosok itu. Aku mengucek mataku. Tetapi tidak ada siapapun di belakangku. Aku berpikir, mungkin itu hanya halusinasi. Belakangan ini aku merasakan lelah yang berlebihan. Akupun melanjutkan kembali aktivitasku, membersihkan wajah sebelum beranjak tidur.

  Tiba - tiba saklar lampu mati. Aku tidak tahu penyebabnya. Kunyalakan senter dari ponsel untuk menerangi kamarku. Aku kembali menatap cermin. Betapa terkejutnya aku melihat bahwa sosok menyeramkan itu terlihat di sisiku. Tangannya mengusap rambut panjangku. Raut wajahnya mengerikan. Ia menyeringai. 

   Badanku kaku; mulutku seperti ditahan sesuatu; nafasku terengah-engah; bulu kudukku berdiri. Sosok itu menatap diriku dengan mata melotot dan bibirnya tertarik ke atas, menciptakan seringai mengerikan. Tiba-tiba dari cermin muncul cahaya hitam. Lama kelamaan cahaya itu makin membesar dan tubuhku tersedot ke dalam cahaya tersebut. Aku berteriak ketakutan.


     Tiba - tiba terdengar suara mama memanggilku. Aku membuka mata. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku melihat sekeliling kamarku. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Syukurlah. Itu hanya mimpi buruk.

Titik Harapan

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 9E


    Dari kecil hingga sekarang. Tiara rutin menjalani terapi psikologis terutama DBT (Dialectical Behavior Therapy). Sampai sekarang, ia masih tak menyangka bahwa ia mengidap penyakit BPD (Bordecine Personality Disorder). Karena itu, ia sering merasa takut secara berlebihan saat ditinggalkan, emosi tidak stabil, selalu melakukan sesuatu tanpa pikir panjang dan masih banyak lagi hal lainnya.


    "Aku capek, Dok! Sudah begitu lama aku bergantung pada obat-obatan," Keluh Tiara,


    "Tiara Sayang, Dokter yakin kamu bisa Sembuh. Jadi, Tiara harus berjuang lebih keras lagi agar tidak selalu bergantung pada obat," Dokter Ana menyemangati.


    "Tapi, mau sampai kapan, Dok?" tanya Tiara dengan menahan tangis.


    "Aku sudah melakukan berbagai cara tapi itu sama sekali tidak berpengaruh di hidupku," lanjut Tiara. Tak bisa dipungkiri ia sangat menginginkan hidup normal seperti orang lain. Namun, takdir berkata lain. Takdir mengatakan bahwa Tiara harus sanggup menanggung semua ini.


    Dokter Ana merasa terenyuh dengan keadaan Tiara. Ia membayangkan jika ia yang ada di posisi Tiara. Mendengar tangisan Tiara, ia tersentak dan kemudian menghampiri Tiara seraya menggenggam kedua tangannya.


    "Apa kamu sudah menerapkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat?" tanya Dokter Ana dengan lembut,


    Tiara menggelengkan kepala dengan air mata yang masih terus berjatuhan.


    "Apa itu, Dok?'


    Dokter Ana pun tersenyum. Lalu ia membawa Tiara ke dalam pelukannya seraya mengusap pucuk kepala Tiara dengan penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap Tiara layaknya anak kandungnya sendiri karena sudah lima belas tahun lamanya mereka bersama. Bahkan Dokter Ana melihat sendiri perkembangan Tiara dari kecil.


    "Tiara Sayang, tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat itu yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur cepat. Perlu Tiara tahu juga bahwa semua itu sangat penting dan sangat berpengaruh untuk kesembuhan mental Tiara." ucap Dokter Ana memberitahu,


    "Apa hubungannya, Dok? Lagian yang sakit itu mental dan hatiku bukan jiwa dan ragaku, Dok," ucap Tiara tak percaya.


    "Aku sudah capek, Dok. Sudah begitu lama aku menjalani terapi ini. Pada akhirnya semuanya masih sama. Aku lelah. Sampai sekarang aku masih sering takut ditinggalkan, diabaikan, dan emosiku sering tidak stabil bahkan bisa meledak-ledak," lanjut Tiara bertubi-tubi. Ia sudah tak dapat menahan semua itu.


    Tenang, Tiara, tenang. Tarik nafas kamu lalu buang secara perlahan," ucap Dokter Ana dengan penuh kelembutan. Tiara Mengikuti instruksi Dokter Ana Seketika hatinya terasa lebih tenang.


    "Tiara, coba Tiara lakukan yang Dokter Ana sarankan tadi dan nanti Tiara akan tahu bahwa tujuh kebiasaan itu sangat berpengaruh untuk kesembuhan Tiara," ucap Dokter Ana,


    "Tapi, aku sudah terbiasa tidur Larut, Jarang bermasyarakat karena aku malas berbaur dan aku juga tidak suka olahraga di bidang apapun itu," 


    "Maka dari itu, Tiara harus belajar membiasakannya dari sekarang. Tidak Perlu tergesa-gesa karena hal yang besar pun dimulai dengan langkah yang kecil." Dokter Ana berusaha menyadarkan Tiara.


    Tiara terdiam. Mendengar ucapan Dokter Ana, ia mulai merenungi kebiasaan buruk yang sudah ia lakukan saama ini. Melihat Tiara terdiam, Dokter Ana pun tersenyum.


    "Jadi, berjanjilah sama Dokter bahwa Tiara akan menerapkan itu semua mulai dari sekarang, Sambung Dokter Ana seraya mengulurkan kelingkingnya.


    Tiara masih diam memandangi Dokter Ana dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia mempercayai ucapan Dokter Ana karena selama ini Dokter Analah yang paling tahu kondisi kesehatannya. Tiara menarik napasnya dalam - dalam dan mengaitkan kelingking nyo pada jari Dokter Ana dengan tersenyum.


    "Janji?" tanya Dokter Ana,


    "Janji," balas Tiara dengan semangat.


    Setelah itu, Tiara pulang ke ruman dan menceritakan semuanya kepada keluarganya. Mereka mengangguk dan membenarkan apa yang Dokter Ana katakan, Sudah,


    "Yasudah sekarang kamu istirahat. Ini sudah hampir larut. Jangan lupa sholat dulu. Sekarang sudah telat satu jam untuk sholat isya padahal biasanya kamu suka sholat tepat waktu. Bunda dan Ayah sudah melaksanakannya dari tadi," ucap Ayah.


    "Jangan melawan kata-kata Dokter," lanjut Bunda,


    "Jangan begadang," tambah Bang Andra dengan tegas.


    Mendengar hal itu, Tiara mengangguk seraya tersenyum manis. la sangat bahagia tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung dia dan sangat mengutamakannya lebih daripada apapun.


    "Iya, aku ke atas dulu. Good night semuanya." Tiara muangkahkan kakinya menuju tangga dan masuk kamar. Tak lupa ia menunaikan kewajibannya terlebih dahulu sebelum tidur.

        

                                        ***


    Satu bulan kemudian, ia kembali menemui Dokter Anu untuk diperiksa perkembangan kesehatannya. Ia sudah menerapkan apa yang Dokter Ana katakan waktu itu. Tak lupa juga ia ditemani oleh Bundanya tersayang. Sekarang, Tiara merasa Sudah lebih baik dari kemarin dan semuanya Juga sudah mulai terkendali.


     Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah sakit. Sesampainya disana Tiara langsung diperiksa.


     "Wahh hebat! keadaan kamu sudah mulai membaik," ucap Dokter Ana,


     Keduanya mengembangkan senyumnya dan Tiara memeluk Bundanya dengan senang. 


     "Lalu, apa penyakit ini bisa sembuh, Dok?" tanya Bunda Tiara,


     "Maaf, Bu, penyakit ini tidak bisa sembuh secara total tetapi, ibu tenang saja karena ini bisa menjadi sangat membaik sehingga hampir tidak terasa lagi dan Tiara bisa kembali hidup normal, sehat dan stabil,"


     "Tidak apa-apa, Dok, yang penting Tiara sudah bisa hidup dengan semestinya saja itu sudah lebih dari cukup, terimakasih banyak," ucap Bunda Tiara dengan senyuman yang tak luntur, 


     "Sama-sama, itu sudah menjadi bagian dari tugas saya, apalagi Tiara sudah saya anggap anak saya sendiri," ucap Dokter Ana dengan tersenyum,



___



    Satu tahun kemudian, kondisi Tiara sudah sangat membaik dan ia bisa tumbuh dan hidup menjadi anak yang berprestasi untuk bangsa dan negara. Ia juga menjadi sangat aktif di berbagai bidang. Bahkan, ia memenangkan berbagai ajang lomba dan ia suka berorganisasi.


    Sejak itu, ia yakin bahwa tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat sangat berpengaruh besar untuk perkembangan anak-anak seusianya. Meskipun tidak kembali seperti semula. setidaknya, sekarang ia sudah kembali hidup normal seperti semestinya sudah lebih dari cukup dan ia sangat bersyukur. Tak lupa juga ia sangat berterimakasih kepada Dokter Ana, Bunda, Ayah, Bang Andra, dan semua keluarganya. Karena, berkat dukungan mereka ia bisa mencapai titik ini dan hari yang ia nantikan sepanjang hidupnya.

Words of Motivation

Edit Posted by with No comments

Penulis: Anisya Rahmadani 
Kelas: 9E
  1.  Teruslah tumbuh meski sudah terjatuh. 
  2. Mekarlah seperti mawar ditengah ribuan duri yang menusukmu.
  3. Jangan biarkan ucapanmu menggores hati orang lain.
  4. Kamu boleh mengeluh kapan saja dan di mana saja. Namun, ingat! Jangan biarkan keluhmu menghentikan segalanya.
  5. Jalan masih panjang. Lautan masih luas. Jangan sampai luka mu menghentikan proses keberhasilanmu.
  6. Kuatkanlah tekadmu seperti kuatnya batu yang menghantamu.
  7. Kalah bukan berarti gagal. Teruslah melangkah dan berjuang. Jadikan kegagalanmu sekarang menjadi bagian proses menuju kesuksesan.
  8. Janganlah terlalu memikirkan dunia.
  9. Jadikan kekuranganmu menjadi salah satu kelebihanmu.
  10. Sayangilah orang lain layaknya kamu menyayangi dirimu sendiri. 

Waktu yang Tertunda

Edit Posted by with No comments

 Penulis: Anisya Rahmadani 

Kelas: 9E

  "Apa yang kamu lakukan?" tanya Bunda.

  "Karis sedang menulis cerita, Bun."

  "Alah, menulis gak penting mending belajar sana!" sentak ayah. 

  Karis yang mendengar sentakkan itu hanya diam. Telinganya sudah kebal akan cacian dan makian dari ayahnya sendiri.

  "Apa sih? Kita harus mendukung bakat dia, Mas!"

  "Bakat apanya? Jadi penulis itu gak berguna. Lihat bibi kamu saja sekarang pengangguran!"


 "Itu salah dia sendiri jangan salahkan..."

  "STOP!" teriak Karis. Bunda dan Ayah langsung menatapnya. 

  "Bun, Yah, bisa nggak sih sekali aja jangan ribut? Karis capek!" ucap Karis lemah. 

  Bruk, pintu kamar karis tutup dengan keras.

  "Hikss.. Hiks.. Hiks.."

  "Kenapa jalan sukses aku sesusah ini, ya Allah?"

  Lelah, satu kata yang terus terngiang-ngiang dikepalanya. Karis hanya ingin tenang dan beristirahat di rumah.

  Namun, itu seakan sangat sulit untuk digapai olehnya. Rumah seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman, tapi tidak dengan rumahnya. Berisik dan penuh pertentangan adalah rumah yang ia tempati.

  Tok, tok, tok. Karis mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia segera menghapus air matanya dan langsung membuka pintu.

  "Argh," Karis meringis,

  "Puas kamu ngebuat Bunda benci sama ayah?" tanyanya sembari mencengkeram pergelangan tangan Karis.

  "A...aku gak gitu, Yah," jawab karis sambil menahan rasa sakit.

  Tak percaya dengan perkataan Karis, Ayah memperkuat genggamannya. Ia juga menyeret Karis dengan kasar. 

  Karis hanya bisa menangis dalam diam. Meskipun bersuara, telinga ayahnya seakan tuli atas rasa sakit yang Karis keluarkan.

  Bruk, Ayah mendorong karis sekuat tenaga. Karis terbanting ke dinding, hingga menimbulkan suara yang keras. Belum sampai itu, Ayah langsung mencengkram dagunya hingga berdarah. 

  "Jangan harap aku akan menyayangi dan mendukungmu," ucap Ayah dengan amarah.

  Ia langsung pergi meninggalkan Karis di tengah kegelapan gudang itu. Karis sudah tahu, pintu gudang pasti dikunci.

  "Ya, Allah, apakah ada waktu yang di mana aku didukung dan dicintai olehnya?"

  Dor! Suara petir menyambar. Karis terlonjat kaget. Deg.. Deg.. Deg.. Detak jantungnya tidak karuan.

  "Apa yang terjadi, Sayang?" ayah terlihat panik.

  Karis termenung, ia melihat sekelilingnya hanya putih yang ia lihat.

  "Dimana, Karis?"

  "Kamu koma, Sayang. Lima bulan lamanya kami menunggu kamu sadar," jawab Bunda.

  "Akhirnya, waktu yang kami tunggu-tunggu sudah tiba," ucap Ayah, 

  Mereka langsung memeluk Karis dengan erat. Tangisan pun sudah tidak terbendung.

  "Jadi, itu semua hanya mimpi komaku saja? Terima kasih, Ya, Allah."

Sebuah Patung

Edit Posted by with No comments

Penulis: Humaira Zaura

Kelas: 8F

Aku mengunjungi rumah pamanku. Pamanku adalah seorang pembuat patung namanya 'Robert williams'. Namanya begitu tersebar luas di mana-mana, karena ia adalah seorang pembuat patung yang begitu terkenal.


        Aku melihat-lihat patung karya pamanku. Karyanya begitu indah seperti realis. Aku sangat takjub melihat patung-patungnya. 

 

       Namun, ada sebuah patung yang menarik perhatianku. Aku mendekati patung itu dan sedikit menyipitkan mata. Aku seketika merasa membeku di tempat, terkejut dengan apa yang aku lihat. Patung itu mengeluarkan air mata dari kelopak matanya.

Setangkai Mawar

Edit Posted by with No comments

Penulis: Najmi Suci Saniyyah 

Kelas: 9I

 Setangkai mawar seringkali dipakai untuk melambangkan cinta atau rasa suka. Kerajaan Teser menjadikan mawar sebagai lambang Kerajaan. Mawar dipercaya dapat melambangkan kemakmuran atau kedamaian yang ada di dalam kerajaan tersebut. Walau begitu, mawar juga memiliki sisi gelap tersendiri yaitu duri yang menempel pada tangkainya.           

        Arias, raja dari kerajaan teser kerap disebut mawar berwujud manusia karena suatu alasan. Suatu hari, Arias memutuskan untuk memberikan setangkai manar yang indah untuk sang pujaan hatinya. Ia menitipkan setangkai mawar itu pada merpati dan menerbangkannya ke kerajaan avestin. 

        Setangkai mawar itu jatuh di tangan Rose, ratu dari kerajaan Avestin. Rose Senang karena mendapatkan bunga favoritnya. Rose mengirimkan Surat terimakasih kepada Arias lalu pergi kedalam bersama suaminya. Beberapa minggu kemudian, seluruh kerajaan dibuat heboh karena kabar bahwa Ratu Rose meninggal dengan setangkai mawar di tangannya. Arias yang mendengarkabar itu lalu tersenyum dan terkekeh puas karena rencananya berhasil dengan mulus.