Najmi Suci Saniyyah
Kelas 8H
"Rasa teh ini sangat enak, " ucapku sambil menyesap secangkir teh.
Duduk di dekat jendela sambil minum teh memang menenangkan hati. Ya, setidaknya sebelum adikku mulai menggangguku lagi. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Namun, bagaimanapun aku adalah kakanya. Sejati apapun adikku, aku harus tetap meladeninya.
"Apa kau akan mulai menggangguku lagi, adikku? " tanyaku sambil tertawa kecil.
Namun, tawaku seketika terhenti ketika adikku melemparkan sebuah lampu tidur ke arahku. Aku bisa menghindarinya walau pipiku sedikit tergores.
Aku langsung menatap adikku dengan tatapan tajam dan diapun keluar dari kamarku dengan perasaan kesal. Aku menghela nafas berat dan bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah pintu kamarku. Aku akan mengambil sebuah plester untuk pipiku yang tergores. Sebelum aku menggapai gagang pintu, mataku melirik ke arah foto adikku yang dipajang di dinding. Aku tersenyum sinis. Jika saja adikku masih hidup, mungkin dia tidak akan sejahil ini padaku.***
0 comments:
Post a Comment